1
1

BI Pastikan Operasi Moneter Valas Tidak Ganggu Cadangan Devisa

Kompleks Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta. | Foto: Bank Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman memastikan operasi moneter valuta asing (valas) dilakukan dengan tetap menjaga kecukupan dan keberlanjutan cadangan devisa Indonesia.

Aida menjelaskan pengelolaan cadangan devisa mempertimbangkan kemampuan untuk membiayai impor, membayar utang luar negeri pemerintah, serta mengantisipasi risiko pembalikan arus modal.

“Jadi kecukupannya sebagai contoh, saya sampaikan tadi, memenuhi untuk pembayaran impor dan pembayaran utang luar negeri,” ujar Aida, usai konferensi pers RDG BI di Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.

Pada bulan sebelumnya, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$146,3 miliar. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Ia menyatakan kecukupan cadangan devisa menjadi salah satu pertimbangan BI dalam menjalankan operasi moneter valas. Selain kecukupan, bank sentral juga memastikan keberlanjutan pengelolaan cadangan devisa dalam jangka panjang.

|Baca juga: Rupiah Sempat Tertekan Usai Gejolak MSCI, Ini Respons Bos BI

|Baca juga: BI Siapkan 4 Langkah Cegah QRIS Dipakai untuk Judi Online

Menurutnya, BI turut memperhitungkan potensi pembalikan arus modal yang dapat memengaruhi stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar rupiah.

Untuk menjaga stabilitas tersebut, BI memberikan insentif lindung nilai atau hedging melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Insentif untuk investasi portofolio, termasuk pada SRBI, SBN, saham, serta penanaman modal asing, ditingkatkan menjadi 40 persen dan 45 persen.

BI juga memberikan insentif untuk transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) dengan tujuh negara, yakni Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, Korea Selatan, China, dan Uni Emirat Arab. Insentif untuk transaksi swap dan DNDF dalam skema tersebut ditetapkan sebesar 10 persen.

Aida menambahkan BI memberikan insentif lebih besar untuk transaksi lindung nilai dengan tenor lebih panjang guna mendorong investor mempertahankan penempatan dananya di Indonesia.

“Artinya, diharapkan durasinya akan semakin panjang,” kata Aida.

Lebih lanjut, BI juga mengandalkan perbaikan kondisi makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan untuk menjaga kepercayaan investor. Dengan demikian, Aida berharap, arus modal masuk dapat berlanjut dan investor dapat memperpanjang penempatan dananya di Indonesia.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Pengembangan Keuangan Syariah Jangan Andalkan Sentimen Emosional
Next Post Sompo Syariah Bidik UMKM untuk Perkuat Literasi

Member Login

or