Media Asuransi, JAKARTA– Hasil survei Xendit terhadap 6.000 konsumen di enam negara, termasuk 1.000 responden di Indonesia menyebutkan bahwa sebanyak 51 persen responden di Indonesia mengaku membatalkan pembelian online dalam tiga bulan terakhir karena metode pembayaran pilihan mereka tidak tersedia.
Persentase ini merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. Sementara itu, penggunaan metode pembayaran real-time terus meningkat, dengan transaksi melalui QRIS, standar kode QR nasional Bank Indonesia, tumbuh sebesar 142 persen di platform Xendit antara Januari 2025 dan April 2026.
“Konsumen Indonesia kini semakin meninggalkan pembayaran tunai. Pertanyaannya, apakah pelaku usaha mampu mengimbangi perubahan ini dengan menyediakan pilihan pembayaran yang sesuai? Laporan kami menunjukkan bahwa alasan utama konsumen membatalkan pembelian adalah tidak tersedianya metode pembayaran yang mereka inginkan,” ujar Presiden Xendit Nazim Ali, dalam keterangan resmi, Kamis, 15 Oktober 2026.
|Baca juga: OJK: Penipuan Transaksi Jual Beli Online Jadi Peringkat Pertama Pengaduan Konsumen
Menurut Nazim, kuncinya bukan sekadar menyediakan berbagai metode pembayaran, tetapi juga memahami tren penggunaan dan pertumbuhan metode pembayaran, serta peluang bisnis yang mengiringinya.
QRIS menjadi metode pembayaran dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia. Transaksi QRIS di platform Xendit meningkat 142 persen antara Januari 2025 dan April 2026, dibandingkan dengan transaksi kartu kredit yang tumbuh 83 persen.
Sementara itu, transfer bank, yang juga merupakan salah satu metode pembayaran real-time utama, diperkirakan digunakan dalam 52 persen dari total pembelian yang dilakukan oleh responden survei.
|Baca juga: Trik Hemat Berbelanja Agar Kamu Bisa Staycation
Xendit merupakan penyedia layanan akuisisi QRIS berlisensi, sehingga pelaku usaha dapat menerima pembayaran QRIS melalui Xendit tanpa perlu menunjuk bank lain sebagai penyedia layanan akuisisi.
Laporan ini menemukan bahwa semakin banyak pelaku usaha menginginkan sistem pembayaran yang terhubung langsung ke jaringan pemrosesan transaksi (direct-to-rail). Sistem ini dapat memberikan visibilitas data transaksi yang lebih jelas, menyederhanakan rekonsiliasi dan pengembalian dana, serta mempermudah pengelolaan pembayaran sehari-hari sekaligus membantu memitigasi risiko penipuan.
QRIS juga mendukung pembayaran lintas negara melalui integrasi dengan PromptPay di Thailand dan DuitNow di Malaysia. Laporan ini memperkirakan bahwa sistem pembayaran real-time di Asia Tenggara akan semakin mengarah pada model jaringan regional pada 2027.
|Baca juga: Visa Prediksi Tren Belanja dengan Kartu di Indonesia Meningkat pada 2026
Tidak tersedianya metode pembayaran pilihan menjadi kendala utama yang dihadapi konsumen Indonesia saat menyelesaikan transaksi online, dengan persentase lebih tinggi dibandingkan Malaysia (31 persen).
Dompet digital masih menjadi metode pembayaran yang paling banyak digunakan, digunakan dalam sekitar 60 persen pembelian responden. Bahkan, 70 persen responden menggunakannya untuk setidaknya separuh pembelian mereka, tertinggi di antara enam negara yang disurvei. GoPay, OVO, DANA, dan ShopeePay menjadi pemain utama di pasar ini, tanpa ada satu merek yang mendominasi.
Preferensi metode pembayaran juga berbeda antarwilayah di Indonesia. Megatix, platform penjualan tiket yang menjadi mitra Xendit, menyebutkan bahwa konsumen di Jakarta lebih banyak menggunakan virtual account, sedangkan transaksi di Bali didominasi oleh kartu pembayaran internasional.
Penggunaan COD di Indonesia menurun lebih cepat dibandingkan di sebagian besar negara Asia Tenggara.
Editor : Wahyu Widiastuti
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

