Perhelatan akbar Indonesia Rendezvouz (IR) dari Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) akan kembali digelar di Nusa Dua, Bali pada 12-15 Oktober 2026. Acara yang diadakan untuk ke-30 kalinya ini merupakan wadah strategis berskala internasional yang krusial untuk memperkuat industri asuransi umum dan reasuransi nasional.
Seluruh regulator, anggota parlemen, lembaga rating internasional, dan lembaga keuangan lainnya akan stakeholder industri perasuransian, berkumpul memberikan insight demi kemajuan industri asuransi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik, tekanan makroekonomi, regulasi baru, risiko iklim hingga disrupsi teknologi.
Untuk mengetahui isi acara, tujuan dan dampak dari acara ini bagi industri asuransi, berikut wawancara Wahyu Widiastuti dari Media Asuransi, dengan Ketua Panitia Indonesia Rendezvous (IR) 2026, Muhammad Iqbal.
Apa latar belakang pemilihan tema Indonesia Rendezvous 2026 dan makna tema 30th tersebut bagi industri?
Tema “Building Confidence: Driving Sustainable Growth and Resilience in the Insurance & Reinsurance Landscape” lahir dari kondisi industri yang sedang diuji dari banyak arah sekaligus. Di tingkat global, kita menghadapi ketidakpastian geopolitik, tekanan makroekonomi, percepatan risiko iklim, ancaman siber, dan potensi munculnya kembali pandemi.
Di dalam negeri, industri sedang beradaptasi dengan perubahan regulasi pascapenyesuaian UU P2SK. Ini mencakup penguatan program penjaminan polis oleh LPS,
implementasi asuransi wajib tanggung jawab hukum pihak ketiga, kebijakan Risk-Based Capital yang baru, dan pemenuhan ekuitas minimum. Pada saat yang sama, kinerja industri sedang tertekan: per semester I/2026 premi asuransi umum turun 0,5 persen menjadi Rp58,19 triliun, sementara klaim naik 29,2 persen menjadi Rp27,35 triliun.
Dalam situasi seperti ini, yang paling dibutuhkan industri adalah kepercayaan, atau confidence. Kepercayaan pemegang polis, investor, regulator, dan mitra reasuransi internasional. Tema tahun ini juga melanjutkan tema tahun lalu, “Empowering Trust”, dari membangun kepercayaan menjadi mengubahnya menjadi pertumbuhan yang berkelanjutan dan ketahanan.
Bagi industri, Indonesia Rendezvous edisi ke-30 adalah tonggak penting. Tiga dekade Indonesia Rendezvous menunjukkan bahwa industri asuransi umum Indonesia telah melewati berbagai krisis, termasuk pandemi. Pesan kami: industri yang tumbuh sehat, permodalannya kuat, dan tata kelolanya baik akan tetap dipercaya di tengah ketidakpastian.
Bagaimana industri membangun confidence, sustainable growth, dan resilience?
Ketiganya saling terkait. Kepercayaan menjadi fondasi, pertumbuhan berkelanjutan menjadi hasilnya, dan ketahanan menjaga keduanya ketika terjadi guncangan.
Confidence dibangun dari tiga hal. Pertama, permodalan yang kuat dan tata kelola yang baik, sejalan dengan pemenuhan ekuitas minimum dan kebijakan Risk-Based Capital OJK. Kedua, pembayaran klaim yang tepat waktu dan transparan, karena di situlah janji asuransi diuji. Ketiga, pelindungan pemegang polis melalui Program Penjaminan Polis oleh LPS.
Sustainable growth berarti tumbuh dengan underwriting yang disiplin dan pricing yang mencerminkan risiko. Data semester I/2026 menunjukkan pentingnya hal ini: rasio klaim asuransi kredit mencapai 99,6 persen. Pertumbuhan juga harus datang dari perluasan pasar, misalnya asuransi mikro, asuransi wajib pihak ketiga, dan kendaraan listrik.
Resilience dibangun melalui manajemen risiko yang kuat, dukungan reasuransi yang memadai, diversifikasi portofolio, dan ketahanan operasional, termasuk terhadap serangan siber. Industri juga perlu mampu membaca risiko baru lebih awal, dan Indonesia Rendezvous menjadi salah satu tempat untuk itu.
Sejauhmana event ini dapat memberikan insight kepada peserta mengenai isu-isu strategis dalam Indonesia Rendezvous 2026.?
Kami menyusun program agar peserta pulang dengan pemahaman yang utuh, bukan potongan-potongan isu. Rangkaiannya dimulai dari arah kebijakan, lalu peta risiko global dan domestik, hingga isu teknis dan operasional.
Di sesi pembukaan, peserta mendengar langsung arah kebijakan dari pemangku kepentingan, antara lain Ketua Komisi XI DPR RI mengenai sektor keuangan pasca-P2SK, serta OJK mengenai outlook pengawasan sektor perasuransian, penjaminan, dan dana pensiun. Kemudian, reasuradur global, lembaga pemeringkat, dan Bank Indonesia membagikan data dan analisis risiko yang biasanya hanya tersedia di forum terbatas.
Setiap sesi konferensi menyediakan 45 menit tanya jawab melalui Slido secara anonim, sehingga peserta bisa mengajukan pertanyaan yang kritis. Executive Gathering pada 14 Oktober dibuat khusus untuk praktisi asuransi umum dan reasuransi dalam format open mic bersama OJK dan LPS.
Hasil yang kami harapkan ada empat:
1. Pemahaman terintegrasi tentang risiko strategis, risiko baru, dan isu operasional yang membentuk arah industri.
2. Keselarasan strategi antara regulator, industri, dan mitra ekosistem dalam merespons perubahan regulasi dan risiko global.
3. Landasan rekomendasi kebijakan untuk pengembangan industri asuransi umum.
4. Penguatan jejaring dan kolaborasi bisnis lintas sektor di tingkat domestik dan internasional.
Bagaimana industri dapat tumbuh secara berkelanjutan, dan memiliki ketahanan menghadapi perubahan geopolitik dan perkembangan dunia saat ini?
Perubahan geopolitik berdampak langsung pada industri kita. Dampaknya terasa melalui nilai tukar dan suku bunga yang memengaruhi investasi dan biaya klaim, kapasitas serta harga reasuransi global, hingga risiko politik dan gangguan rantai pasok yang memicu klaim.
Menurut kami, ada tiga kunci. Pertama, fondasi domestik yang kuat. Stabilitas politik dan keamanan Indonesia adalah modal kepercayaan investor, dan hal ini menjadi salah satu materi keynote di forum ini. Industri juga harus memperkuat permodalan dan tata kelola agar tidak mudah goyah ketika terjadi guncangan dari luar.
Kedua, disiplin teknis. Di tengah tekanan, godaan untuk perang tarif selalu ada. Namun, pertumbuhan yang berkelanjutan hanya bisa dicapai dengan underwriting yang hati-hati, pricing yang sesuai risiko, dan pengelolaan aset-liabilitas yang prudent.
Ketiga, kolaborasi. Industri tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan sinergi dengan regulator, LPS, pemerintah, dan mitra reasuransi internasional. Indonesia Rendezvous adalah wadah untuk memperkuat kolaborasi itu, sekaligus menunjukkan kepada mitra global bahwa pasar Indonesia tetap menarik dan dapat dipercaya.
Bagaimana industri mempersiapkan diri menghadapi risiko dan perubahan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, bencana alam, risiko geopolitik, cyber risk, digitalisasi, hingga capacity?
Risiko yang dihadapi industri kini saling terhubung, sehingga persiapannya juga tidak bisa sepotong-sepotong.
Berikut pandangan kami untuk tiap jenis risiko: Perubahan iklim dan bencana alam. Indonesia termasuk negara paling rawan bencana, sementara protection gap masih lebar. Industri perlu memperkuat pemodelan risiko katastrofe, data eksposur, dan pricing berbasis risiko.
Kolaborasi dengan pemerintah dan Reasuransi Maipark juga penting untuk skema pembiayaan risiko bencana. Tekanan ini sudah terlihat: klaim asuransi properti semester I/2026 naik 75,8 persen.
Risiko geopolitik. Industri perlu mengelola akumulasi risiko, memperhatikan political violence dan gangguan rantai pasok, serta menjaga portofolio investasi tetap prudent di tengah volatilitas pasar.
Risiko siber. Serangan siber menjadi ancaman bagi tertanggung dan bagi perusahaan asuransi itu sendiri. Kesiapannya ada dua sisi: mengembangkan produk asuransi siber dengan underwriting yang tepat, dan memperkuat keamanan siber internal bersama BSSN dan regulator.
Digitalisasi. AI dan teknologi cloud membuka peluang efisiensi, mulai dari underwriting, penanganan klaim, hingga deteksi fraud. Namun, penerapannya harus disertai tata kelola data dan pelindungan konsumen.
Kapasitas. Pemenuhan ekuitas minimum dan kebijakan Risk-Based Capital yang baru akan meningkatkan kapasitas retensi industri dalam negeri. Kemitraan dengan reasuradur internasional tetap dibutuhkan untuk risiko besar, dan Indonesia Rendezvous menjadi tempat mempertemukan keduanya.
Strategi menghadapi perubahan. Kuncinya adalah transformative leadership: pimpinan perusahaan yang berani mengubah model bisnis, berinvestasi pada SDM dan teknologi, serta mampu menangkap peluang baru, seperti asuransi wajib pihak ketiga, kendaraan listrik, dan asuransi mikro.
Pada akhirnya, kesiapan menghadapi risiko adalah bagian dari membangun confidence. Industri yang siap dan tangguh akan dipercaya oleh masyarakat, regulator, dan mitra globalnya.
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

