Memasuki penyelenggaraan ke-30 pada 2026, Indonesia Rendezvous menandai perjalanan panjang dalam mempertemukan industri asuransi dan reasuransi Indonesia dengan pelaku pasar regional maupun global.
Selama tiga dekade, forum Indonesia Rendezvous terus berkembang menjadi salah satu agenda penting untuk membangun jejaring bisnis, bertukar pengetahuan, dan memperkuat hubungan antara industri domestik dan pasar internasional.
Indonesia Rendezvous 2026 akan berlangsung pada 12–15 Oktober 2026 di Bali dengan mengusung tema “Building Confidence: Driving Sustainable Growth and Resilience in the Insurance and Reinsurance Landscape”.
Pada acara Indonesia Rendezvous dua tahun lalu, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ogi Prastomiyono menekankan pentingnya meningkatkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap produk asuransi. Kehadiran Program Penjamin Polis dinilai menjadi salah satu bagian penting dalam upaya memperkuat kepercayaan tersebut.
Sementara itu, dalam sambutannya pada Indonesia Rendezvous 2025, OJK menekankan pentingnya stabilitas, inovasi, dan kepercayaan dalam membangun ekosistem industri asuransi nasional.
Selama tiga dekade penyelenggaraannya, Indonesia Rendezvous berkembang menjadi forum yang menghubungkan industri asuransi umum dan reasuransi nasional dengan pelaku pasar regional maupun global. Perkembangan jumlah peserta yang hadir pada acara berskala internasional ini turut memperlihatkan daya tarik forum bergengsi ini.
Tahun 2023 tercatat ada 640 peserta yang hadir. Kemudian, partisipasi dari 15 negara dengan diikuti lebih dari 750 peserta. Pada 2025, jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 1.500 peserta dari lebih dari 20 negara.
Forum ini menyasar berbagai pemangku kepentingan, mulai dari direksi, komisaris, dan eksekutif perusahaan asuransi serta reasuransi, pialang asuransi dan reasuransi, regulator, institusi pemerintah, asosiasi industri, hingga profesional investasi dan reasuradur internasional.
Keunggulan Indonesia Rendezvous terletak pada perpaduan tiga fungsi utama. Pertama, konferensi substantif yang menghadirkan perspektif para pakar dan pelaku industri global. Kedua, dialog langsung antara industri dengan regulator dan institusi terkait, termasuk OJK dan LPS. Ketiga, ruang business matching dan pameran yang membuka peluang transaksi, kemitraan, serta pembaruan perjanjian reasuransi.
Rangkaian tersebut diharapkan membantu peserta memahami keterkaitan antara arah kebijakan, risiko global, perubahan regulasi, serta implikasinya terhadap keputusan bisnis. Lebih jauh, forum ini diharapkan menghasilkan keselarasan strategi antara regulator, industri,
Momentum Istimewa
Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Herawan, memandang penyelenggaraan ke-30 ini sebagai momentum istimewa bagi industri. Tiga dekade Indonesia Rendezvous bukan sekadar menandai keberlangsungan sebuah agenda tahunan, melainkan juga mencerminkan kebutuhan industri terhadap ruang dialog dan kolaborasi yang semakin strategis.
Menurut Budi, tema tersebut relevan dengan kondisi industri yang tengah menghadapi perubahan regulasi, perkembangan teknologi, peningkatan risiko bencana atau
catastrophe risk, munculnya berbagai risiko baru (emerging risks), serta dinamika pasar reasuransi global.
Dalam industri asuransi, kepercayaan menjadi fondasi utama. Kepercayaan tidak hanya menyangkut hubungan antara perusahaan asuransi dan masyarakat, tetapi juga hubungan perusahaan asuransi dengan reasuradur, serta keyakinan investor dan pasar internasional terhadap prospek industri Indonesia.
“Karena itu, Indonesia Rendezvous diharapkan tidak berhenti sebagai forum pertemuan dan networking. Lebih jauh, forum ini menjadi ruang untuk bertukar perspektif, membangun kepercayaan, memperluas kolaborasi, dan mencari solusi konkret guna menciptakan industri yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” kata Budi Herawan
kepada Media Asuransi.
Salah satu agenda strategis yang ingin didorong AAUI melalui Indonesia Rendezvous 2026 adalah memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem asuransi dan reasuransi regional maupun global.
Indonesia memiliki potensi pasar yang besar, ditopang jumlah penduduk, skala ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan kebutuhan pelindungan yang terus berkembang. Namun, kapasitas untuk menanggung risiko dalam negeri tidak selalu dapat sepenuhnya dipenuhi oleh pasar domestik. Oleh sebab itu, hubungan dengan pasar reasuransi internasional tetap memiliki peran penting.
Budi menekankan bahwa Indonesia Rendezvous diharapkan dapat mendekatkan risiko Indonesia dengan kapasitas global, sekaligus membawa pengetahuan dan perkembangan pasar internasional kepada industri nasional.
Dari sisi bisnis, Indonesia Rendezvous 2026 diharapkan membuka peluang bagi perusahaan untuk memperoleh kapasitas reasuransi yang optimal, persyaratan kontrak yang kompetitif, serta akses terhadap perlindungan bagi risiko yang semakin kompleks.
Membuka Kolaborasi
Selain peluang bisnis konvensional, Indonesia Rendezvous 2026 juga membuka ruang kolaborasi untuk menghadapi risiko yang berkembang seiring perubahan ekonomi, teknologi, dan lingkungan.
Sejumlah bidang yang berpotensi dikembangkan antara lain catastrophe risk, cyber risk, renewable energy, marine, infrastructure, agriculture, dan parametric insurance. Pemanfaatan data serta kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) juga menjadi peluang untuk meningkatkan kemampuan analisis dan pengelolaan risiko.
Khusus untuk risiko bencana, penguatan kualitas data, pemodelan risiko, dan struktur proteksi menjadi semakin penting. Ketiganya membantu perusahaan memahami eksposur secara lebih akurat dan meningkatkan efektivitas penempatan risiko kepada pasar reasuransi internasional.
Kolaborasi dengan mitra global dapat memberikan akses terhadap pengalaman, teknologi, dan keahlian yang belum sepenuhnya tersedia di pasar domestik. Pada saat yang sama, perusahaan nasional tetap perlu memperkuat kompetensi internal agar manfaat kolaborasi tersebut dapat diterjemahkan menjadi peningkatan kapasitas industri.
Tantangan Industri
Dalam hal ini, Ketua Panitia Indonesia Rendezvous 2026, Muhammad Iqbal, menjelaskan bahwa pemilihan tema “Building Confidence: Driving Sustainable Growth and Resilience in the Insurance & Reinsurance Landscape” dilatarbelakangi oleh berbagai tantangan yang dihadapi industri, baik di tingkat global maupun domestik.
Ketidakpastian geopolitik, tekanan makroekonomi, perubahan iklim, ancaman siber, hingga potensi munculnya kembali pandemi menjadi tantangan yang menuntut industri untuk semakin adaptif. Di dalam negeri, perusahaan asuransi juga harus menyesuaikan diri dengan perkembangan regulasi, penguatan permodalan, dan upaya meningkatkan pelindungan pemegang polis.
“Dalam situasi seperti ini, yang paling dibutuhkan industri adalah kepercayaan atau confidence. Kepercayaan pemegang polis, investor, regulator, dan mitra reasuransi internasional,” ujarnya kepada Media Asuransi.
Dia menjelaskan, tema tahun ini sekaligus melanjutkan pesan Indonesia Rendezvous sebelumnya, yakni “Empowering Trust”. Jika sebelumnya penekanannya pada pemberdayaan kepercayaan, tahun ini fokusnya adalah bagaimana kepercayaan tersebut diterjemahkan menjadi pertumbuhan yang berkelanjutan dan ketahanan industri.
Adapun ketahanan industri perlu dibangun melalui manajemen risiko yang kuat, dukungan reasuransi yang memadai, diversifikasi portofolio, dan kesiapan operasional menghadapi gangguan, termasuk serangan siber.
“Industri yang tumbuh sehat, permodalannya kuat, dan tata kelolanya baik akan tetap dipercaya di tengah ketidakpastian,” menjadi pesan utama yang ingin ditegaskan melalui penyelenggaraan Indonesia Rendezvous tahun ini.
| Lima Fokus Strategis Indonesia Rendezvous 2026
Untuk menjawab tantangan tersebut, program konferensi Indonesia Rendezvous 2026 dirancang dengan cakupan pembahasan dari risiko strategis hingga persoalan teknis dan operasional yang dihadapi perusahaan asuransi dan reasuransi. Ketidakpastian global dan risiko iklim. Melalui sesi “Navigating Global Uncertainty”, peserta akan diajak mencermati perkembangan geopolitik, prospek ekonomi global dan domestik, dampak perubahan iklim, serta kesenjangan perlindungan asuransi atau protection gap. Sejumlah pembicara dari Swiss Re, Fitch Ratings, Bank Indonesia, dan Reasuransi MAIPARK dijadwalkan berbagi perspektif mengenai dinamika tersebut. Risiko baru dan nontradisional. Sesi “Emerging Perils” akan mengangkat ancaman pandemi berulang, zoonosis, serta risiko siber di tengah semakin terhubungnya aktivitas ekonomi. Perspektif dari Munich Re, Marsh Re, dan Hannover Re diharapkan memperkaya pemahaman peserta mengenai perubahan karakter risiko dan implikasinya terhadap industri. Transformasi digital dan kepemimpinan. Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam industri asuransi umum menjadi salah satu perhatian. Pembahasan juga mencakup peluang asuransi kendaraan listrik, perlindungan sosial, keselamatan berkendara, serta penguatan ketahanan siber bersama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Pembiayaan kesehatan. Indonesia Rendezvous turut mengangkat kesiapan industri asuransi dan fasilitas kesehatan dalam penerapan Coordination of Benefits (CoB) yang didorong Kementerian Kesehatan. Isu ini menjadi relevan karena koordinasi manfaat berkaitan dengan efektivitas pembiayaan dan pelaksanaan perlindungan kesehatan. Regulasi dan permodalan pasca-UU P2SK. Melalui Executive Gathering, pelaku industri akan memperoleh ruang dialog dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai kebijakan Risk-Based Capital yang baru dan format rencana bisnis. Bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), forum juga akan membahas Program Penjaminan Polis sebagai instrumen untuk memperkuat perlindungan dan kepercayaan masyarakat. |
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

