1
1

Nikmati Hari Barokah dengan Menu Timur Tengah

Minal Aidin Wal Faizin. Menjadi suatu karunia yang tak terhingga, ketika seorang muslim dapat dipertemukan kembali dengan hari kemenangan, Hari Raya Idul Fitri. Bersilaturrahim ataupun halal bi halal bersama keluarga dan kerabat menjadi budaya yang tak boleh ditinggalkan. Menemani acara kebersamaan tersebut, tentu berbagai hidangan mesti disajikan. Jika selama ini yang menjadi favorit adalah menu nusantara seperti ketupat ataupun opor ayam, tidak ada salahnya jika Anda ingin mencoba sesuatu yang beda, yaitu menu khas dari Timur Tengah.

Sebulan penuh lamanya umat muslim berpuasa. Melaksanakan ritual ibadah yang disyariatkan oleh Sang Pencipta. Menahan lapar dan dahaga dari pagi hingga senja. Sebagaimana yang juga dilakukan oleh Rasul Mustafa. Dan, bagi yang benar-benar ingin menikmati berpuasa ala Rasulullah, untuk menu berbuka pun tentu dengan makanan khas negeri para Nabi, bahkan hingga tiba saatnya menikmati hidangan di hari raya.
Untuk lebih mengenal bagaimana sebetulnya kuliner khas Timur Tengah ini, pertengahan Ramadhan lalu, Media Asuransi menyempatkan diri untuk berbincang dengan Claim Group Head PT Tugu Reasuransi Indonesia (TuguRe) Ismail A Basymeleh. Dari namanya sudah bisa ditebak bahwa dalam diri pria ini mengalir darah suku Arab, dan pastinya sangat familiar dengan makanan Arab.
Sebagaimana pembuka dari bincang-bincang kami, Ismail menjelaskan, untuk mengawali buka puasa dirinya terbiasa dengan tiga butir kurma disertai minuman teh khas Arab, namanya adalah Syai Binna’na’ (teh hijau manis pekat dengan aroma mint yang menyengat). Sedangkan untuk makan besar, pria yang dibesarkan di Surabaya ini lebih sering memilih alarz mandi billahm (nasi Mandi dengan lauk daging kambing). Apalagi jika daging kambingnya yang dimasak di bawah tanah yang dinamakan Burdim bagi orang Libya atau Zarb bagi orang Yordania.
Tentunya saat hari lebaran juga demikian. Saat keluarga besarnya yang keturunan Arab Yaman ini berkumpul berlebaran bersama. “Saya senang dengan daging kambing yang dimasak di oven, sejenis presto. Tapi kalau di Arab, dagingnya dimasak dengan tungku di bawah tanah jadi sangat lembut, bahkan lebih lembut dari daging ayam,” ungkapnya.
Bagi Ismail menu Arab ini merupakan makanan yang hampir setiap hari dijumpainya. Pasalnya, orangtua dan istri pria yang berdomisili di Depok, Jawa Barat ini, juga senang memasak berbagai jenis makanan ala Timur Tengah di rumahnya. Soal bahaya kelebihan lemak (kolesterol) yang terdapat dalam kebanyakan masakan Arab, Ismail membuka rahasianya, yaitu dengan menyertakan minyak atau buah Zaitun dalam proses masak atau saat mengkonsumsinya. “Orang Arab itu banyak yang gemuk, tapi kadar kolesterol dalam tubuhnya bisa sedikit. Kuncinya ya… Zaitun itu. Di Arab buah ini jadi lalapan,” jelasnya.
Saat ditanya restoran Arab yang menjadi favoritnya, Ismail mengatakan ada beberapa tempat yang dia sukai di Jakarta, seperti di Restoran Al Jazeera, Restoran Raden Shaleh, dan yang di Hotel Le Meridien. Namun, menurutnya, setiap restoran itu memiliki ciri khas masing-masing. Seperti di Hotel Le Meridien, jelasnya, itu adalah masakan khas Arab Lebanon, dalam proses masaknya banyak menggunakan susu dan mayones.
Selain Ismail, ada seorang yang juga tergila-gila dengan menu Timur Tengah. Dia adalah Operations and Marketing Manager PT McLarens Indonesia Reza Luthfi. Kecintaan Reza dengan Nasi Mandi Lahm ataupun Nasi Briyani memang tidak diragukan lagi. Saat berbincang terkait hidangan Middle East ini, Reza seakan menelan ludahnya, karena saat wawancara tengah berpuasa Ramadhan. Baginya nasi yang dimasak ala Timur Tengah ini tidak cepat eneg dan sangat ringan untuk ditelan. “Apalagi jika disertakan dengan yogurt susu kambing serta salad sayur dan buah, akan membantu menetralisir lemak jenuh dari daging presto ini,” ucap pria berdarah Palembang beberapa hari sebelum Idul Fitri 1438 H.
Soal restoran favoritnya, Ismail dan Reza memiliki selera yang tidak jauh beda, yaitu Aljazeera, Raden Shaleh, le Meridien, Shisa Cafe, dan beberapa tempat lain disekitaran Jakarta.
Pada kesempatan itu, Reza juga menceritakan pengalamannya baru-baru ini, di pertengahan Ramadhan, dirinya mendapat tugas kerja ke daerah minoritas muslim, tepatnya di Hongkong. Saat waktu buka puasa hampir tiba, dia sedikit kebingunan mencari tempat yang pas untuk berbuka puasa. Masalahnya di kota itu, sangat jarang didapati rumah makan yang dijamin kehalalan makanannya. Kemudian ia pun langsung mencari restoran Timur Tengah. Sesampainya di 83 Electric Rd Causeway Bay, salah satu sudut kota Hongkong, dia menemukan restoran yang menyajikan makanan khas Arab dan India ‘Habibs’.

Restoran Khas Arab
Selain dua ‘insan perasuransian’ tersebut, penulis juga menyambangi Hotel Le Meridien dan Restoran Raden Shaleh sebagai tempat favorit mereka berdua. Di Hotel yang berada di bilangan jalan Sudirman, Jakarta, tersebut kami disambut hangat oleh Marketing Communications Manager Hotel Le Meridien Jakarta Arditya Putra. Kami diajak berbincang di salah satu meja restoran bernuansa Timur Tengah yang dinamakan Restaurant Al Nafoura.
Arditya mengatakan, khusus di bulan Ramadhan, saat berbuka puasa para pengunjung bisa menikmati senandung musik padang pasir atau live gambus music sembari menikmati hidangan yang disediakan. Bahkan jika pengunjung datang berombongan Al Nafoura juga menyediakan private room jika diinginkan.
Disinggung tentang pengunjungnya, Arditya menjelaskan, sebelumnya dia mengira yang akan mampir ke Al Nafoura adalah yang berdarah Arab saja, namun ternyata orang lokal Indonesia banyak juga yang datang. Bahkan turis Asia, seperti orang Jepang, Korea, dan China pun juga menyukai menu yang dihidangkan di tempat ini.
Saat ditanya tentang macam-macam menu yang disediakan, Arditya langsung memanggil Chef Ahmad Jamil, Kepala Koki di restoran Al Nafoura. Kami sedikit terkejut, dalam benak Kami, Chef Jamil merupakan sosok yang sudah berumur, tapi kenyataannya pria asli Yordania ini masih berusia 33 tahun, namun pengalamannya di dunia kuliner sudah merambah ke berbagai negara.
Kepada Media Asuransi, Chef Jamil memaparkan menu yang disediakan di Al Nafoura ada sekitar 60-an macam makanan, mulai dari kari, kebab, roti, makanan ringan, makanan berat, hingga salad segar. Semua jenis makanan ini diolah menurut cara memasak orang arab lebanon (Lebanese food), sebagaimana yang telah disinggung oleh Ismail.
Sebagaimana restoran Timur Tengah pada umumnya, Al Nafoura juga menyediakan sejenis Nasi Briyani yang mereka namakan dengan Kharouf Lamb and Rice, ada juga Kofta Billaban yaitu makanan khas Lebanon yang dibuat dari bola daging kambing cincang dan dimasak dengan yoghurt.
Untuk makanan ringan Al Nafoura menyediakan Shawarma Roll, sejenis makanan berbentuk lumpia diisi daging dengan bumbu khas Timur Tengah. Sedangkan untuk salad di sini juga menyediakan Shanklish, salad khas Lebanon yang dibuat dari keju susu kambing dengan komposisi daun parsley, tomat, bawang, dan minyak zaitun. Dan, yang menjadi kebanggaan Chef Jamil adalah Hommos yaitu makanan khas Lebanon dari chickpea, wijen halus, lemon, dan minyak zaitun. Sangat sehat dengan kandungan vitamin yang baik.
Chef Jamil menimpali, jika disebutkan makanan khas Lebanon, bukan saja terfokus kepada satu negara Lebanon saja, namun secara garis besar termasuk dalam wilayah cita rasa masakan empat negara yaitu, Syiria, Palestina, Yordania, dan Lebanon sendiri. “Kapan dikatakan masakan Lebanon, itu termasuk empat negara yang saling berbatasan dengan Lebanon,” terang Chef pecinta rendang ini.
Setelah puas berbincang di Al Nafoura, kami melanjutkan ‘pengembaraan’ ke Restoran Raden Shaleh. Di sini berjumpa dengan Manajer Restoran, Narto. Sekalipun asli Jawa Timur, dia sangat lihai menjelaskan macam-masam masakan Timur Tengah yang disediakan di tempatnya. Mulai dari Nasi Kabsyah, Nasi Kebuli, Nasi Briyani yang masing-masing memiliki cita rasa dan cara masak yang berbeda-beda.
Begitu juga dengan lauknya, restoran yang didirikan oleh Abdullah Umar Assegaf pada 1969 ini menyajikan Kari Kambing, Kambing Guling, Sop Kambing Maroko, dan jenis masakan daging lainnya. Soal harga, tiap menu dihargai sekitar Rp60-Rp100 ribu per porsi. Namun jika ada yang memesan paket, misalkan untuk nasi kebuli, dihargai Rp720 ribu per paket berukuran untuk delapan porsi. “Pengunjungnya ada dari kalangan pribadi maupun komunitas,” jelas Narto. B. Firman

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Panin Dai-ichi Life Adakan Donor Darah di 5 Kota
Next Post Galery Eksekutif

Member Login

or