Media Asuransi, JAKARTA – Dalam Economic Outlook 2026-2027: stretching the limits yang dikeluarkan oleh Allianz SE Research menyebutkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global masih menunjukkan ketahanan setidaknya untuk saat ini.
Setelah mencatat pertumbuhan tiga persen pada 2025, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan berada di 2,9 persen pada 2026 dan tumbuh 2,8 persen pada 2027. Revisi naik dibandingkan dengan kuartal sebelumnya terutama ditopang oleh dua faktor.
|Baca juga: Klarifikasi ke BEI, GoTo Bahas Perpres Ojol hingga Investasi Danantara
|Baca juga: Tugu Insurance (TUGU) Tebar Dividen Tunai Rp355,52 Miliar, Simak Jadwal Lengkapnya!
“(Sebanyak dua faktor yang dimaksudkan yakni) carryover dari kinerja kuat 2025 di Amerika Serikat (AS) dan China, serta momentum yang tetap terjaga meskipun ada berbagai gangguan,” kata Country Manager & President Director Allianz Life Indonesia Alexander Grenz, dikutip dari pernyataannya, Sabtu, 16 Mei 2026.
Ia menambahkan dampak perang dagang pada perekonomian AS di 2025 tampak lebih ringan, hanya sekitar minus 0,6 poin persentase, dibandingkan dengan estimasi sebelumnya sebesar minus 1,6 poin persentase pada kuartal II.
“Perbaikan ini terkait dengan tarif efektif yang lebih rendah turun menjadi sekitar 11 persen dari 27 persen yang diumumkan pada 2 April 2025 yang dipengaruhi oleh pengecualian sektor tertentu serta kesepakatan dagang strategis dengan mitra utama,” ucapnya.
|Baca juga: Gunakan Pendekatan Investasi Disiplin, Allianz Indonesia Catat Dana Kelolaan Rp43,7 Triliun di 2025
|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan
Memasuki 2026, Pasar mulai menyesuaikan diri dengan realitas baru yang ditandai oleh berkurangnya visibilitas politik dan ekonomi. Latar belakang yang terus berkembang ini menuntut kehati-hatian, namun sekaligus membuka peluang bagi investor yang mengambil posisi secara aktif.
Memasuki 2026, Alexander Grenz menambahkan, situasi dan kondisi pasar mulai menyesuaikan diri dengan realitas baru yang ditandai oleh berkurangnya visibilitas politik dan ekonomi. Latar belakang yang terus berkembang ini menuntut kehati-hatian.
“Namun sekaligus membuka peluang bagi investor yang mengambil posisi secara aktif,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

