1
🇮🇩 Indonesia
🇬🇧 English
🇨🇳 中文 (简体)
🇯🇵 日本語
🇰🇷 한국어
🇸🇦 العربية
🇲🇾 Melayu
🇹🇭 ภาษาไทย
🇻🇳 Tiếng Việt
1

Mengkaji Peluang dan Risiko Pasar Saham Terkini

Senior Portfolio Manager-Equity MAMI, Rizki Ardhi. | Foto: MAMI

Media Asuransi, JAKARTA – PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menerapkan dua strategi utama dalam pengelolaan portofolio reksa dana saham di masa penuh ketidakpastian saat ini. Kedua strategi yang diterapkan adalah memastikan diversifikasi yang optimal dan memosisikan portofolio untuk jangkauan skenario yang luas.

Senior Portfolio Manager-Equity MAMI, Rizki Ardhi, mengatakan bahwa komoditas dan energi menjadi sektor yang bisa memberikan pelindungan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah yang meningkat. Selain itu, harga energi memiliki kecenderungan untuk tetap tinggi beberapa waktu ke depan dan banyak negara-negara yang mulai bergerak untuk melakukan diversifikasi energi ke sumber lainnya, seperti batu bara dan juga biodiesel.

|Baca juga: Pendanaan dari Pasar Modal Sepekan Tembus Rp1,8 Triliun

Sementara untuk sektor komoditas akan lebih selektif, karena secara garis besar permintaan akan turun akibat risiko stagflasi, namun ada beberapa komoditas yang berada dalam kondisi defisit yakni pasokan lebih sedikit dibandingkan potensi permintaan ke depan. Selain itu, terdorong perubahan tren yang lebih struktural seperti transisi energi bersih dan elektrifikasi.

“Sektor domestik seperti konsumsi juga sudah cukup murah dan akan beranjak lebih positif bila situasi geopolitik membaik dan pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat,” kata Rizki dalam keterangan tertulis, Rabu, 15 April 2026.

Di sisi lain, saat ini tenggat waktu terkait teguran MSCI (Morgan Stanley Capital International) sudah semakin dekat. Menurut Rizki, saat ini bursa dan regulator memperlihatkan keseriusan yang sangat besar dalam membenahi struktur pasar dan menerima masukan-masukan dari para pelaku pasar. “Ketersediaan data yang lebih granular dan transparan, serta keterbukaan informasi yang jauh lebih baik, merupakan perkembangan yang sangat positif bagi pasar,” tuturnya.

|Baca juga: OJK Dorong Pendalaman Pasar Modal Lewat Penguatan Suplai, Demand, dan Infrastruktur

Andaikan asumsi terburuk terjadi, Indonesia mengalami penurunan kelas dari Emerging Market ke Frontier Market, maka akan ada tekanan jual yang besar dari investor asing yang harus melakukan penyesuaian portofolio. Di sisi lain, ada pula investor yang mencari peluang untuk membeli saham di valuasi yang sangat murah. Market clearing event akan terjadi.

“Oleh karena itu, investor sebaiknya fokus memosisikan portofolio di saham-saham yang memiliki fundamental yang baik dengan valuasi yang murah, yang mampu menghasilkan free cash flow yang bisa digunakan untuk membagikan dividen ataupun melakukan buyback. Saham-saham ini memiliki probabilitas yang lebih besar untuk menarik perhatian investor saat valuasinya turun,” jelas Rizki.

Dia tambahkan, saham-saham yang sensitif terhadap USD dan harga minyak mentah dunia akan bergerak naik lebih cepat, namun dalam jangka panjang, MAMI melihat sektor konsumsi yang sudah cukup murah bisa menjadi positif dengan penurunan input cost seperti biaya bahan baku dan operasional, serta percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di sektor komoditas, ada beberapa komoditas yang memiliki defisit atau tren struktural, seperti tembaga, aluminium, dan emas, yang mana produsennya akan diuntungkan.

Editor: S. Edi Santosa

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post IHSG Berbalik Melemah di Akhir Perdagangan Rabu
Next Post DAI Bersama OJK Berikan Literasi dan Inkluisi Keuangan di Universitas Paramadina

Member Login

or