1
1

Bos Allianz Life Indonesia Sebut Investor Wajib Selektif saat Berinvestasi di Pasar Saham AS

Country Manager & President Director Allianz Life Indonesia Alexander Grenz. | Foto: Allianz Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Country Manager & President Director Allianz Life Indonesia Alexander Grenz mengungkapkan dari perspektif valuasi terpantau saham-saham Amerika Serikat (AS) saat ini berada pada level yang relatif mahal.

“Meskipun demikian, Amerika Serikat tetap memiliki keunggulan struktural dalam jangka panjang, khususnya di sektor kecerdasan buatan,” kata Alexander Grenz dikutip dari pernyataannya, Senin, 1 Juni 2026.

|Baca juga: OJK Ungkap Fenomena Aktuaris Pindah-pindah Perusahaan Masih Terjadi

|Baca juga: Danamon (BDMN), Adira Finance (ADMF), dan MUFG Kembali Hadir di IIMS Surabaya 2026

Dirinya menambahkan sektor ini masih menawarkan peluang investasi yang luas dan terus mendominasi arus pemberitaan pasar modal. “Namun, secara keseluruhan, kondisi pasar saham AS saat ini menuntut sikap kehati-hatian serta penerapan strategi investasi yang selektif,” ucapnya.

Di sisi lain, Allianz Life Indonesia menyatakan pasar saham AS telah mengalami pemulihan yang cukup signifikan setelah penurunan tajam yang terjadi usai ‘Liberation Day‘. Hal itu terungkap berdasarkan pandangan dari Allianz Global Investor dalam Outlook 2026: Navigate new pathways.

 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Media Asuransi (@mediaasuransinews)

“Namun demikian, indikator ekonomi fundamental menunjukkan bahwa kondisi perekonomian masih berada dalam situasi yang relatif belum stabil,” kata Alexander Grenz.

Ia menambahkan seiring dengan potensi kenaikan inflasi akibat dampak berkelanjutan dari penerapan tarif yang tinggi, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang cenderung moderat, Amerika Serikat menghadapi risiko stagflasi menjelang 2026.

|Baca juga: Wamenkeu Beberkan Sejumlah Masalah Utama Penghambat Ekonomi Daerah

|Baca juga: Perang AS-Iran Tekan Bisnis Reasuransi, Premi Turun 1,43% per Maret 2026

“Di sisi kebijakan moneter, meskipun Federal Reserve diperkirakan melanjutkan siklus penurunan suku bunga, namun kekhawatiran mengenai meningkatnya tekanan politik terhadap independensi pengambilan keputusan kebijakan moneter tetap berpotensi menekan kepercayaan pasar,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post 5 Fakta Menarik Hari Lahir Pancasila yang Jarang Diketahui Generasi Muda

Member Login

or