Infovesta: Kinerja Reksa Dana Kuartal I/2021 Masih Mengecewakan

Media Asuransi – Kinerja reksa dana selama 3 bulan pertama tahun 2021 ternyata masih menunjukkan hasil yang cukup mengecewakan akibat tekanan sentimen secara lokal maupun global, termasuk di antaranya adalah ketidakpastian pemulihan ekonomi akibat virus Covid-19.

Berdasar Infovesta Mutual Funds Update tanggal 5 April 2021 yang dikutip Media Asuransi, terdapat dua jenis indeks reksa dana mencetak imbal hasil negatif pada penutupan pekan lalu, yaitu kinerja Reksa Dana saham dan Reksa Dana Campuran, masing-masing sebesar 2,94 persen dan 1,50 persen.

Pelemahan tersebut sejalan dengan pelemahan Kinerja IHSG sebesar 2,97 persen. Selanjutnya, Kinerja Reksa Dana Pendapatan Tetap tercatat naik tipis sebesar 0,01 persen serta Reksa Dana Pasar Uang juga mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 0,05 persen. Hal tersebut didorong oleh kenaikan pada Obligasi Pemerintah sebesar 0,05 persen dan Obligasi Korporasi sebesar 0,10 persen,” tulis Infovesta.

Baca juga: Infovesta: Reksa Dana Pasar Uang Bisa Dipertimbangkan

Infovesta menilai kinerja reksa dana jenis pasar uang merupakan satu-satunya jenis reksa dana yang mencatatkan imbal hasil positif selama tiga bulan terakhir dengan risiko disetahunkan yang paling kecil. Meskipun tingkat suku bunga acuan BI-7 Days Reverse Repo Rate masih dalam tren penurunan di mana hingga Februari lalu telah mencapai level 3,5 persen sehingga tingkat imbal hasil instrumen investasi pasar uang seperti contohnya deposito semakin rendah, tetapi di tengah gejolak pasar yang terjadi pada kuartal pertama 2021 ini, reksa dana pasar uang tetap dapat mempertahankan kinerjanya untuk berada di zona positif.

Kinerja reksa dana berbasis pendapatan tetap mengalami pelemahan sebesar 1,7 persen yang diiringi dengan aksi jual investor asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp7,59 triliun. Kekhawatiran investor akan tren kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat akibat ekspektasi kenaikan inflasi Amerika Serikat dari kebijakan stimulus baik paket bantuan langsung maupun stimulus infrastruktur. Hal ini berdampak pada pelemahan di pasar obligasi Indonesia.

Baca juga: Imbal Hasil US Treasury Naik, Apakah Reksa Dana Pendapatan Tetap Masih Menarik?

Ke depannya, potensi capital gain dari instumen obligasi masih cenderung terbatas mengingat potensi penurunan tingkat suku bunga lebih jauh cenderung kecil sehingga investor lebih mengandalkan pembagian kupon. Kinerja reksa dana berbasis saham melalui Infovesta Equity Fund Index mengalami penurunan terbesar.

Pelemahan pasar saham disebabkan oleh pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan yang terjadi khususnya di bulan Maret ini Kembali melemah sebesar -5,57 persen yang diikuti dengan aksi jual investor asing di bulan Maret saja mencapai Rp2,06 triliun. Meskipun demikian, Indeks Harga Saham Gabungan selama 3 bulan terakhir mampu ditutup di zona hijau 0,11 persen.

Infovesta melihat belum terdapat sentimen positif yang cukup kuat untuk mendukung kinerja pasar saham Indonesia, di mana Menteri Keuangan Indonesia sendiri memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal I/2021 masih berada di zona merah dengan kisaran -2 persen hingga -1 persen. “Masih terdapat ketidakpastian yang membayangi kinerja pasar modal Indonesia untuk kuartal II/2020.”

Baca juga: Hingga Februari 2021, Reksa Dana Saham Cetak Return Tertinggi

Dari sisi eksternal, investor mengantisipasi akan perlambatan pemulihan ekonomi akibat masih meningkatnya kasus Covid-19 secara global dan menyebabkan lockdown di beberapa negara Zona Eropa. “Oleh karena itu, investor perlu mengamati progres kasus Covid-19 serta program vaksinasi yang sedang berlangsung secara lokal dan global.”

Di Indonesia sendiri, kecepatan vaksinasi Covid-19 sudah mencapai 400.000 suntikan per hari dan akan meningkat secara bertahap hingga 1 juta suntikan per hari. Hal ini perlu didukung dengan adanya ketersediaan dan juga distribusi vaksin yang lancar.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami pertumbuhan di kuartal II/2021 secara year on year (yoy) sebesar 7 persen. Selain itu, menurut Lembaga Internasional seperti Organization for Economic CoOperation and Development (OECD) outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi membaik sepanjang 2021 secara (yoy) di zona positif yaitu 4,9 persen yang diharapkan dapat terealisasi dan mampu membangkitkan kinerja pasar modal Indonesia. Aca

Leave a Reply