Laba Bersih Mark Dynamics Naik 63,85 Persen Menjadi Rp144,19 M

Media Asuransi – PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK) berhasil membukukan kenaikan laba bersih sebesar 63,85 persen menjadi Rp144,19 miliar dibandingkan perolehan tahun 2019 sebesar Rp88,00 miliar. Realisasi laba bersih tersebut ditopang oleh keberhasilan perseroan dalam meningkatkan penetrasi pasar ekspor yang kini mencapai 95 persen dari penjualan perseroan. Malaysia merupakan pelanggan terbesar dengan komposisi sekitar 65 persen dari total penjualan.

Presiden Direktur MARK, Ridwan Goh, mengatakan bahwa gaya hidup baru akan pentingnya kesehatan mendongkrak penjualan sarung tangan, sehingga cetakan sarung tangan menjadi peranan penting dalam produksi. Dalam 10 tahun terakhir, tren permintaan sarung tangan konsisten bertumbuh 10-12 persen per tahun. Sedangkan ditengah kondisi pandemi Covid-19, permintaan melesat 30 persen sehingga industri sarung tangan tergoncang oleh ketidakseimbangan supply dan demand.

“Peningkatan laba bersih sejatinya ditopang oleh keberhasilan perseroan dalam penetrasi pasar baru serta strategi produksi untuk mencapai efisiensi dan peningkatan kualitas produk. Sehingga sepanjang tahun 2020 perseroan berhasil mencatatkan penjualan tertinggi sepanjang masa dengan membukukan Rp565,44 miliar atau naik 56,39 persen dari tahun 2019 sebesar Rp361,54  miliar,” kata Ridwan Goh, dalam siaran tertulisn di Jakarta, Kamis, 1 April 2021. 

Baca Juga:

Menurut Ridwan, perseroan juga berhasil menjaga marjin laba kotor sebesar 42 persen dengan nilai sebesar Rp236,79 miliar. Kemudian, volume produksi perseroan meningkat sebesar 22 persen menjadi 8,8 juta pieces di tahun 2020 dibandingkan dengan 7,2 pieces di tahun 2019.  “Kenaikan permintaan cetakan sarung tangan ini otomatis akan mendorong kinerja perseroan lebih positif,” katanya.

Ridwan juga mengungkapkan bahwa permintaan sarung tangan kesehatan berada pada tingkat permintaan yang belum pernah dialami sebelumnya. Sepanjang pandemi, permintaan sarung tangan melonjak tinggi, namun pasokan cetakan sarung tangan sangat terbatas. 

“Kapasitas produksi Perseroan yang semula 700.000 unit per bulan di tahun 2020 tidak mencukupi permintaan cetakan sarung tangan yang begitu agresif, sehingga  mulai kuartal III/2020 Perseroan meningkatkan kapasitasnya menjadi 800.000 unit per bulan,” jelasnya.

Ridwan mengaku, peningkatan produksi tersebut memberikan pengaruh besar terhadap kinerja ekspor perseroan. Terlebih, perseroan memasok sekitar 40 persen pasar global cetakan sarung tangan karet, yang 95 persen dari penjualan perseroan diserap oleh pasar ekspor dan Malaysia merupakan pelanggan terbesar dengan komposisi sekitar 65 persen dari total penjualan. Bahkan saat ini, perseroan sudah mengantongi kontrak senilai US$52 juta untuk pengapalan pada 2021. 

“Dengan naiknya permintaan pasar dan guna memenuhi permintaan yang selalu meningkat tersebut, perseroan berupaya untuk meningkatkan kapasitas produksinya dengan membangun pabrik baru kedua di desa Dalu, Tanjung Morawa, yang estimasinya akan rampung pada bulan Mei tahun 2021 mendatang. Beroperasinya pabrik baru ini, akan menambah kapasitas produksi perseroan menjadi sekitar 1,1 juta unit per bulan pada tahun 2021 dan bahkan akan ditingkatkan hingga mencapai 1,8 juta unit per bulan pada awal tahun 2022 mendatang,” ungkapnya.

Ridwan menambahkan, untuk pembangunan pabrik baru ini, perseroan telah menganggarkan sebesar sebesar Rp150 miliar. Angka ini sudah mencakup biaya untuk mendirikan bangunan, pembelian mesin serta instalasi mesin. Sumber dana yang dipakai perseroan  berasal dari kas dan kredit perbankan. 

 “Perseroan sudah mematok proyeksi penjualan pada 2021 sebesar Rp874 miliar yaitu meningkat sebesar 72 persen dibanding penjualan di tahun 2020 ini,” pungkasnya. One