Pefindo Tegaskan Peringkat Maybank (BNII) pada idAA

Media Asuransi – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menegaskan peringkat “idAAA” untuk PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII atau Perusahaan), Obligasi Berkelanjutan II/2017, dan Obligasi Berkelanjutan III/2019.

Melalui keterangan resmi yang dikutip Media Asuransi, Kamis, 18 Maret 2021, Pefindo juga menegaskan peringkat “idAA” untuk Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II/2014. Prospek atas peringkat Perusahaan adalah “stabil”. Obligor berperingkat idAAA merupakan peringkat tertinggi yang diberikan oleh Pefindo.

Baca juga: Pefindo Tegaskan Peringkat ASF idAAA

“Kemampuan obligor untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya, relatif terhadap obligor Indonesia lainnya, adalah superior. Efek utang dengan peringkat idAA memiliki sedikit perbedaan dengan peringkat tertinggi yang diberikan, dan kemampuan Obligor untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang atas efek utang tersebut, dibandingkan dengan Obligor lainnya di Indonesia, adalah sangat kuat,” tulis Pefindo.

Peringkat Perusahaan mencerminkan dukungan yang sangat kuat dari Grup Maybank (Maybank atau Induk, mendapat peringkat “A- /Negatif” dari Standard & Poor’s), posisi pasar yang kuat, serta profil likuiditas, dan permodalan yang sangat kuat. Namun, peringkat tersebut dibatasi oleh profil kualitas aset yang medioker dan indikator profitabilitas yang moderat.

“Peringkat dapat diturunkan jika tingkat permodalan dan dukungan dari Induk menurun secara signifikan, yang dapat tercermin dari penurunan tingkat kepemilikan atau kontribusi yang lebih rendah terhadap Maybank.”

Baca juga: Pefindo Naikkan Peringkat BRIS Jadi idAAA

Pefindo berpandangan bahwa pandemi Covid-19 telah meningkatkan profil risiko industri perbankan secara keseluruhan dengan menyebabkan penurunan bisnis yang substansial di hampir semua sektor, yang mengakibatkan permintaan pinjaman dan layanan perbankan lainnya lebih rendah. Perlambatan bisnis juga telah melemahkan kemampuan pembayaran debitur, dan meskipun masalah fundamental kualitas aset dapat diatasi melalui proses restrukturisasi, sebagaimana diatur dalam POJK 48/2020, pelemahan lebih lanjut akan menambah tekanan pada indikator profitabilitas dan likuiditas bank.

“Secara keseluruhan, kami berpendapat bahwa dampak Covid-19 ke industri perbankan tergolong dapat dikendalikan, didukung oleh keaktifan dalam mengelola manajemen aset liabilitas, cadangan likuiditas yang memadai termasuk tambahan likuiditas yang berasal dari penurunan tarif giro wajib minimum, dan hanya sedikit tekanan terhadap risiko penarikan dana pihak ketiga,” katanya.

Baca juga: Pefindo Afirmasi Peringkat Bank OCBC (NISP) pada idAAA

Pefindo berpandangan bahwa dampak Covid-19 pada profil kredit BNII secara keseluruhan akan tetap terkelola, didukung oleh faktor-faktor yang telah disebutkan di atas. “Kami mencatat eksposur Bank sebesar 45,9% dari total portofolio pinjaman pada sektor-sektor yang terdampak Covid-19, seperti manufaktur, perdagangan, restoran & hotel, transportasi, dan konstruksi pada 31 Desember 2020.”

Risiko tunggakan pinjaman dari sektor-sektor tersebut berpotensi menekan kualitas aset dan kinerja profitabilitas Bank. BNII telah mengidentifikasi sekitar 20,9% dari total portofolio pinjaman terdampak oleh Covid-19 pada akhir Desember 2020. Pefindo akan terus memantau secara dekat dampak pandemi terhadap kinerja dan profil kreditnya secara keseluruhan.

Maybank Indonesia bergerak di jasa perbankan konvensional dan syariah. Pemegang saham utama BNII adalah Sorak Financial Holdings Pte Ltd (45,02%) dan Maybank Offshore Corporate Services (Labuan) Sdn Bhd (33,96%), keduanya anak perusahaan Maybank. UBS AG, London branch memiliki 18,31% saham dan sisanya 2,71% saham dimiliki oleh masyarakat. Per 31 Desember 2020, Perusahaan menyediakan layanan perbankan melalui 361 kantor cabang dan 6.540 karyawan. Aca