Media Asuransi, GLOBAL – Kerugian pertanian akibat badai dan cuaca ekstrem meningkatkan kebutuhan perlindungan asuransi bagi petani di Filipina. Namun, keterbatasan pendanaan, rendahnya kesadaran, serta kendala operasional menjadi tantangan dalam memperluas jangkauan asuransi pertanian, terutama di tengah rencana pemangkasan subsidi pemerintah pada 2027.
|Baca juga: OJK Berikan Izin Usaha PT Mitra Insurance Brokers
Cris Marzan, petani padi berusia 79 tahun di Provinsi Nueva Ecija, Filipina utara, merasakan dampak langsung perubahan cuaca terhadap hasil panennya. Ia memperkirakan hanya dapat memanen 50–60 karung padi sebelum hujan monsun, penyakit tanaman, dan serangan tikus merusak lebih dari setengah hektare sawahnya.
Marzan telah mengasuransikan tanamannya melalui Philippine Crop Insurance Corporation (PCIC). Namun, kondisi cuaca panas membuatnya tidak dapat mendampingi petugas penilai saat inspeksi lahan sehingga ia belum mengetahui besaran kompensasi yang akan diterima.
|Baca juga: Perkuat Reputasi Global, ADHI Beton Garap Proyek Kereta Commuter North–South Filipina
“Hanya sedikit petani yang diasuransikan karena pemerintah hampir tidak memperhatikan kami. Mereka yang mengasuransikan hanya mengambil risiko,” ujarnya dikutip dari Insurance Asia, Kamis, 22 Oktober 2026.
PCIC telah mengalokasikan US$3 juta atau sekitar PHP187 juta untuk membantu 24.987 petani yang terdampak tiga topan dan penguatan monsun barat daya pada Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, petani padi menerima alokasi US$2,1 juta atau PHP132,9 juta. Luzon Tengah menjadi wilayah dengan penerima manfaat terbanyak, yakni 9.636 petani.
|Baca juga: Filipina Uji Coba Program Asuransi Pertanian Berbasis Satelit
Sementara itu, Departemen Pertanian Filipina memperkirakan kerugian tanaman mencapai US$65,6 juta atau PHP4,13 miliar per 6 September 2026.
Penjabat Manajer Departemen Riset Aktuaria dan Valuasi Produk PCIC, Arvin Jasper Adan, mengatakan sekitar 7.800 dari 29.000 petani yang diasuransikan di Nueva Ecija diperkirakan menerima pembayaran klaim.
Menurut Adan, setiap tahun hanya sekitar 30 persen – 35 persen petani yang terdaftar dalam registrasi pertanian pemerintah memperoleh perlindungan asuransi tanaman.
Padahal, asuransi tersebut tersedia secara gratis bagi petani yang memenuhi persyaratan. Rendahnya kesadaran menjadi salah satu kendala utama karena petani tetap harus mengajukan permohonan kepada PCIC pada setiap musim tanam, sementara data registrasi terus diperbarui oleh Departemen Pertanian.
Keterbatasan sumber daya manusia juga memengaruhi pelaksanaan program. PCIC memiliki sekitar 2.000 pekerja, tetapi kurang dari 250 orang berstatus pegawai tetap. Untuk mendukung proses pendaftaran peserta dan penilaian kerusakan, lembaga tersebut bergantung pada pemerintah daerah serta petugas penyuluh pertanian.
|Baca juga: PT Zurich General Takaful Indonesia: Dian Iskandar Wibowo Mengawal Keuangan Prinsip Syariah
Petani dapat melaporkan kerugian melalui pesan teks atau surat elektronik sebelum petugas melakukan pemeriksaan lahan. Dalam kondisi tertentu, penilaian tetap dapat dilakukan tanpa kehadiran petani apabila informasi pendukung tersedia dari warga sekitar.
Tantangan tersebut memperlihatkan bahwa perluasan asuransi pertanian tidak hanya bergantung pada ketersediaan produk, tetapi juga pada kemudahan akses, proses klaim, dan kapasitas operasional penyelenggara.
Kesenjangan perlindungan terhadap risiko bencana juga terlihat di tingkat regional. Munich Re memperkirakan kerugian akibat bencana alam di kawasan Asia-Pasifik mencapai US$8,7 miliar pada semester I/2026, sedangkan nilai kerugian yang ditanggung asuransi hanya sedikit di atas US$1 miliar.
Editor: Irdiya Setiawan
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

