Sepanjang Tahun 2020 Laba Bersih Vale Indonesia (INCO) Naik 44 Persen

Media Asuransi – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) pada akhir tahun fiskal 2020 berhasil mencatatkan laba bersih sebesar US$82,8 juta atau meningkat 44 persen dibandingkan dengan US$57,4 juta pada tahun 2019. Di sisi pendapatan, pada tahun 2020, perseroan mencatatkan penurunan sebesar 2 persen menjadi US$764,7 juta, dibanding pendapatan tahun 2019 sebesar US$782,0 juta. Penurunan pendapatan tersebut dikontribusi oleh harga realisasi rata-rata untuk pengiriman nikel matte pada tahun 2020 lebih rendah menjadi US$10.498 per ton, dibandingkan dengan US$10.855 per ton pada tahun 2019.

President Director PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Nicolas D Kanter mengatakan sepanjang tahun 2020, perseroan juga mencatatkan penurunan pada beban pokok pendapatan sebesar 4 persen menjadi US$640,4 juta dibandingkan pada tahun 2019 sebesar US$664,3 juta. Kontribusi utama penurunan beban pokok pendapatan adalah oleh penurunan harga bahan bakar dan batu bara. Harga High Sulphur Fuel Oil (HSFO), diesel dan batu bara turun masing-masing sebesar 36 persen, 31 persen, dan 17 persen. 

“Kami melakukan pengeluaran kas senilai sekitar US$152,1 juta untuk belanja modal pada tahun 2020, dibandingkan dengan US$166,6 juta pada 2019. Secara umum, semua target telah tercapai dan/atau terlampaui, kecuali growth project yang tertunda akibat situasi Covid-19. Kami juga menunda pembangunan kembali Tanur 4 dari kuartal IV/2020 ke 2021, terutama karena situasi Covid-19. Penundaan tersebut berdampak pada peningkatan produksi pada tahun 2020, namun akan menurunkan produksi pada tahun 2021,” kata Nicolas dikutip dalam prospektus laporan keuangan perseroan kepada Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Kamis, 1 April 2021.

Baca Juga: 

Menurut Nicolas, perseroan semula menetapkan target produksi pada level yang sama tahun 2019 yaitu 71.000 ton. Namun, tertundanya pembangunan kembali Tanur 4 membuat INCO merevisi rencana tersebut menjadi sekitar 73.000 ton. Dan hasil produksi aktual pada tahun 2020 adalah 72.237 ton, terutama karena kegiatan pemeliharaan pada kuartal IV/2020 yang memakan waktu lebih lama dari yang direncanakan.

“Perseroan berhasil merealisasikan target produksi nikel dalam matte, dengan total produksi 72.237 ton atau 98,95 persen dari target. Penjualan pada tahun 2020 mencapai 72.846 ton, lebih tinggi 1 persen dari 72.044 ton pada tahun 2019. Selama ini, perseroan melakukan sejumlah langkah untuk mengantisipasi dan mengurangi potensi dampak penyebaran Covid-19 pada operasi,” katanya.

Dari sisi penjualan, lanjut Nicolas, perseroan berhasil mencatatkan realisasi penjualan nikel matte pada tahun 2020 sebanyak 72.846 ton, relatif sama dengan target semula sebesar 72.600 ton. Namun karena harga realisasi rata-rata lebih rendah dari yang diharapkan, pendapatan yang dibukukan perseroan lebih rendah dari target semula. 

“Total pengeluaran kas untuk menopang modal dan proyek perluasan adalah US$152,1 juta, lebih rendah dari target semula sebesar US$180 juta. Hal ini terutama karena penundaan pembangunan kembali Tanur 4 hingga 2021. Perseroan juga menyalurkan modal untuk mendukung proyek pengembangan Pomalaa dan Bahodopi sejalan dengan kemajuan studi, perizinan, dan negosiasi dengan mitra yang ditunjuk. Namun, keputusan investasi akhir untuk Pomalaa dan Bahodopi ditunda karena Covid-19, oleh karena itu akan memakan waktu lebih lama dari yang diantisipasi,” jelasnya.

Nicolas mengungkapkan, perseroan akan terus berupaya mencapai target agenda pertumbuhan perusahaan pada 2030. Untuk mendukung rencana tersebut, perseroan telah membentuk anak usaha yang akan mengelola unit smelter rotary kiln electric furnace (RKEF) di Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah; dan unit smelter high pressure acid leach (HPAL) di Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. PT Vale juga berencana membangun kembali tanur listrik 4 pada triwulan kedua tahun 2021, untuk meningkatkan kapasitas produksi nikel dalam matte.

“Meski prospek permintaan nikel akan meningkat, perseroan harus tetap fokus pada optimalisasi kapasitas produksi, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi biaya. Hal ini tidak terlepas dari kecenderungan volatilitas harga nikel dunia, yang berada di luar kendali perusahaan. Tahun ini, kami juga memulai inisiatif terbaru yang dinamakan“Obeya”, yakni inisiatif disruptif untuk mengidentifikasi pemborosan (waste) di dalam proses bisnis dan menghilangkannya dalam waktu cepat. Ke depan, inisiatif baru ini diharapkan dapat menghasilkan tambahan efisiensi biaya atau peningkatan produktivitas,” ungkapnya.

Nicolas menambahkan, perseroan melanjutkan inisiatif efisiensi biaya produksi yang telah dimulai sejak 2018. Realisasi penghematan pada tahun 2020 mencapai US$31 juta, memenuhi target US$30-50 juta. Sehingga perseroan berhasil mencatatkan realisasi rata-rata biaya produksi nikel dalam matte pada tahun 2020 mencapai AS$6.898 per ton. “Angka ini lebih rendah dibanding tahun 2019. Selain karena efisiensi, inovasi berkelanjutan dan operasional unggul, penurunan biaya produksi juga dipengaruhi faktor eksternal yakni penurunan harga minyak dan batubara,” jelasnya.

Nicolas mengaku, pada 7 Oktober 2020 perseroan juga telah menyelesaikan penjualan dan pengalihan 20 persen kepemilikan saham Vale Canada Limited (VCL) dan Sumitomo Metal Mining Co Ltd (SMM), sebagai kewajiban divestasi berdasarkan Kontrak Karya (KK) dengan pemerintah Indonesia. Penjualan dan pengalihan 20 persen kepemilikan saham dilaksanakan melalui BEI, kepada pembeli yang ditunjuk Pemerintah Indonesia yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum.

“Dalam upaya memenuhi kewajiban divestasi PT Vale berdasarkan Amandemen Kontrak Karya tanggal 17 Oktober 2014, yang ditandatangani oleh PT Vale dan pemerintah Indonesia. Penjualan dan pengalihan 20 persen saham berjumlah Rp5,52 triliun yang terdiri dari 1.99 miliar saham. Setelah menyelesaikan transaksi, VCL memiliki 43,79 persen saham, SMM memiliki 15,03 persen saham, dan Inalum memiliki 20,00 persen saham di PT Vale,” pungkasnya. One