1
1

Tips Investasi dari MAMI: Imbal Hasil SBN Sangat Kompetitif

Ilustrasi. | Foto: Allianz Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Sepanjang tahun berjalan sampai akhir September, imbal hasil SBN 10 tahun memang melonjak tinggi naik 107 bps (basis points) yang merupakan salah satu kenaikan terbesar di kawasan. Tapi di 30 hari terakhirnya kenaikannya hanya 14bps, salah satu yang terendah di kawasan.

Menurut Senior Portfolio Manager-Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Syuhada Arief, di sinilah cerita Indonesia menjadi menarik. Artinya laju kenaikannya sudah jauh mereda dan dapat diartikan bahwa mayoritas kekhawatiran dan risiko domestik yang ada sudah masuk diperhitungkan ke dalam imbal hasil ‘yang diminta’ oleh investor, dan kita harapkan ke depannya pasar dapat mulai stabil.

“Dari angka absolutnya, imbal hasil SBN 10 tahun di kisaran 7,2 persen  sangat kompetitif jika dibandingkan terutama dibandingkan dengan negara-negara yang menawarkan imbal hasil lebih rendah dibandingkan UST yang dianggap sebagai patokan risk free rate,” kata Syuhada dalam keterangan resmi.

|Baca juga: Tips Investasi dari MAMI: Menyikapi Kenaikan Pesat Imbal Hasil US Treasury

Ditambahkan, dari sisi spread atau selisih imbal hasil terhadap UST, spread saat ini di kisaran 200 bps  justru masih lebih rendah dibandingkan dengan historikal satu tahun terakhir di kisaran 230 bps. “Artinya obligasi Indonesia saat ini mulai menawarkan keseimbangan yang menarik antara tingkat imbal hasil yang tinggi dan persepsi risiko yang tidak lagi terus memburuk,” tuturnya.

Dalam kondisi ini, ada risiko yang harus diperhatikan oleh investor obligasi saat ini. “Setidaknya ada dua faktor, yaitu ketahanan eksternal terutama kaitannya dengan tekanan nilai tukar, dan yang kedua adalah arah imbal hasil obligasi pemerintah AS atau UST,” tegasnya.

Ditambahkan bahwa surplus perdagangan yang menipis akibat kenaikan impor minyak membuat ketahanan eksternal semakin bergantung pada arus dana asing. Di lain pihak, arus dana asing juga saling berkaitan dengan nilai tukar rupiah yang juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan global, terutama AS dan The Fed. Nilai tukar dan arus dana, tentu berdampak pada pasar obligasi.

|Baca juga: Inilah Strategi Portofolio Reksa Dana Obligasi Versi MAMI

Sedang yang kedua adalah arah imbal hasil UST. Kenaikan imbal hasil UST ke level saat ini kami nilai telah mencerminkan sebagian besar risiko kenaikan suku bunga global, bahkan berpotensi mengalami overshoot.

“Namun terlepas dari pandangan tersebut, kami tetap terus  mencermati perkembangan inflasi AS, kebijakan fiskal, demand  pasar terhadap UST, serta perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed. Jika tekanan pada UST bertahan lebih lama, dampaknya dapat merambat ke pasar obligasi domestik melalui kenaikan premi risiko, volatilitas arus dana asing, dan tekanan terhadap rupiah. Karena itu, pengelolaan durasi dan pemilihan tenor tetap dilakukan secara selektif dan terukur,” jelas Syuhada.

Terkait dengan strategi pengelolaan portofolio reksa dana obligasi MAMI saat ini, dia sampaikan bahwa iklim suku bunga tinggi mengerek naik imbal hasil pasar obligasi. Baik melalui pendapatan kupon yang lebih tinggi maupun potensi kenaikan harga apabila siklus pengetatan moneter pada akhirnya berbalik arah.

“Meski demikian, ketidakpastian arah inflasi ke depan, mempertimbangkan faktor geopolitik dan El Niño serta tren suku bunga global terutama AS, membuat pengelolaan durasi perlu dilakukan secara terukur, bukan sekadar menambah eksposur dengan agresif tanpa perhitungan,” jelas Syuhada.

|Baca juga: Tips Finansial dari MAMI: Investasi Sehat, Keuangan Kuat

Sedangkan untuk reksa dana berdurasi pendek, MAMI fokus pada optimalisasi pendapatan dengan menjaga sensitivitas portofolio terhadap perubahan suku bunga tetap terkendali. “Sementara itu, pada reksa dana berdurasi menengah-panjang, kami cenderung memprioritaskan tenor pendek hingga menengah, termasuk area sekitar tujuh tahun, yang saat ini menawarkan keseimbangan risiko dan potensi imbal hasil yang relatif lebih baik,” tambahnya.

Menurut Syuhada, jika dalam jangka pendek sampai akhir tahun ini The Fed masih terus hawkish yang diikuti dengan imbal hasil UST yang juga terus merayap naik, MAMI akan mengevaluasinya sebagai peluang untuk menambah eksposur secara bertahap dan selektif.

“Tentu saja besarnya penambahan tetap akan disesuaikan dengan perkembangan inflasi, likuiditas pasar, nilai tukar, serta daya tarik relatif antarsegmen kurva imbal hasil. Dengan pendekatan ini, portofolio diarahkan tidak hanya untuk menangkap tingkat imbal hasil yang lebih tinggi, tetapi juga menjaga ketahanan terhadap perubahan kondisi pasar,” tuturnya.

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post IHSG Sepekan Terpangkas 14,91%

Member Login

or