1
1

Mitos TBC Masih Beredar, Ini Fakta yang Perlu Diketahui Masyarakat

Ilustrasi. | Foto: Freepik

Media Asuransi, JAKARTA – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu persoalan kesehatan serius di Indonesia. Berdasarkan laporan Global TB WHO 2023, jumlah kasus TBC di Indonesia mencapai sekitar 824 ribu per tahun dengan angka kematian mencapai 93 ribu jiwa.

Artinya, rata-rata 11 orang meninggal setiap jam akibat penyakit ini, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan beban TBC tertinggi di dunia. Tingginya angka tersebut tidak lepas dari masih beredarnya berbagai mitos di masyarakat yang kerap menghambat deteksi dini dan penanganan TBC.

Dilansir dari IFG Life, Minggu, 3 Mei 2026, minimnya pemahaman berbasis medis membuat sebagian masyarakat ragu untuk memeriksakan diri, sehingga penanganan kerap terlambat dilakukan.

Mitos & fakta seputar TBC

Mitos mengenai TBC masih banyak ditemukan dan sering kali tidak memiliki dasar ilmiah. Kondisi ini berdampak pada rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan sejak awal. Padahal, pemahaman yang tepat mengenai fakta TBC menjadi kunci dalam menekan penyebaran penyakit ini.

TBC adalah penyakit genetis

Anggapan TBC merupakan penyakit keturunan tidak sesuai dengan fakta medis. TBC adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri dan menyebar melalui udara, terutama dari percikan air liur saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.

|Baca juga: 10 Tanda Bos Toxic yang Bikin Karyawan Kehilangan Semangat Kerja

|Baca juga: 3 Ciri Pemimpin yang Jadi Penghambat, Bukan Pendorong Kemajuan

Penyebaran yang kerap terjadi di lingkungan keluarga lebih disebabkan oleh intensitas kontak yang tinggi, bukan faktor genetik. Oleh karena itu, upaya pencegahan seperti menjaga kebersihan, memastikan ventilasi udara yang baik, dan mengurangi kontak dekat dengan penderita aktif menjadi langkah penting.

Orang terinfeksi TBC pasti alami kondisi parah

Tidak semua orang yang terinfeksi bakteri TBC akan mengalami kondisi sakit berat. Sebagian besar infeksi bersifat laten, di mana bakteri berada dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala. Sekitar 90 persen individu yang terinfeksi berada dalam kondisi ini.

Hanya sekitar 10 persen yang berkembang menjadi TBC aktif, umumnya terjadi pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Faktor usia, kondisi kesehatan, dan lingkungan turut memengaruhi perkembangan penyakit, sehingga pemeriksaan dini tetap diperlukan meskipun tidak ada gejala.

Risiko terinfeksi TBC hanya di masyarakat ekonomi bawah

TBC tidak hanya menyerang kelompok ekonomi tertentu. Siapa pun berisiko terinfeksi, terutama mereka dengan daya tahan tubuh rendah, seperti penderita HIV/AIDS, pengguna obat imunosupresif, atau individu dengan kondisi kesehatan tertentu.

Selain itu, faktor malnutrisi juga dapat meningkatkan risiko infeksi karena melemahkan sistem imun. Paparan dalam jangka waktu lama dengan penderita TBC aktif, terutama di lingkungan tertutup, menjadi salah satu faktor utama penularan.

Infeksi TBC hanya berdampak ke paru-paru

TBC memang umumnya menyerang paru-paru, namun infeksi ini juga dapat menyebar ke organ lain jika tidak ditangani dengan baik. Penyebaran dapat terjadi melalui aliran darah atau sistem limfatik ke organ seperti tulang, ginjal, otak, dan kelenjar getah bening.

|Baca juga: Memilih Asuransi Kesehatan yang Tepat Perlu Strategi, Ini Hal yang Wajib Diperhatikan

|Baca juga: Untuk Kamu yang Pakai Asuransi Kantor, Berikut 3 Cara untuk Ajukan Klaim

Kondisi ini dikenal sebagai TBC ekstrapulmoner yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius. Gejalanya pun bervariasi tergantung organ yang terinfeksi, sehingga deteksi dini dan pengobatan menjadi sangat penting.

TBC tidak bisa diobati

Anggapan bahwa TBC tidak dapat disembuhkan tidak benar. Dengan pengobatan yang tepat dan rutin selama enam hingga sembilan bulan, sebagian besar penderita memiliki peluang sembuh yang tinggi.

Kepatuhan dalam mengonsumsi obat menjadi faktor utama keberhasilan terapi. Ketidakteraturan dalam pengobatan dapat menyebabkan bakteri kembali berkembang dan meningkatkan risiko resistensi obat.

Penularan TBC sangat mudah

Meski menular, penyebaran TBC tidak terjadi secara instan. Penularan umumnya membutuhkan kontak erat dalam jangka waktu lama dengan penderita TBC aktif, terutama di ruang tertutup dengan ventilasi buruk.

Langkah pencegahan seperti penggunaan masker, menutup mulut saat batuk, menjaga kebersihan, serta memastikan sirkulasi udara yang baik terbukti efektif dalam menekan risiko penularan. Selain itu, penderita yang menjalani pengobatan secara teratur memiliki tingkat penularan yang jauh lebih rendah.

Pemahaman yang tepat mengenai TBC menjadi kunci dalam menekan angka kasus di Indonesia. Dengan mengedepankan fakta dan menghindari informasi yang keliru, masyarakat diharapkan dapat lebih waspada sekaligus proaktif dalam melakukan pencegahan dan pemeriksaan dini.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Tips dari Allianz Saat Bagasi Hilang di Bandara

Member Login

or