Media Asuransi, BALI – CEO of Strategic Partner PINDAI Bill (Xuanbi) Song menilai penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat membantu perusahaan asuransi menekan biaya teknologi informasi (IT) hingga 80 persen dalam dua tahun ke depan.
Menurut Bill, AI dapat membantu perusahaan asuransi mengembangkan sistem teknologi dengan lebih cepat dan mengurangi kebutuhan tenaga kerja dalam proses pengembangan perangkat lunak. PINDAI mengklaim telah mencatat penghematan biaya sebesar 50 persen dalam enam bulan terakhir melalui penerapan teknologi tersebut.
“Metodologi baru ini dapat mengurangi biaya IT hingga 80 persen. Dalam enam bulan terakhir, kami telah menyadari penghematan sebesar 50 persen,” kata Bill dalam paparannya di Indonesia Rendezvous ke-30 di Bali, Rabu, 14 Oktober 2026.
Bill menjelaskan, perusahaan asuransi perlu memanfaatkan AI tidak hanya untuk membantu penulisan kode program, tetapi juga untuk mengembangkan sistem inti yang mendukung operasional bisnis.
Sistem inti tersebut berperan penting dalam menjalankan berbagai kegiatan perusahaan. Karena itu, pemanfaatan AI perlu disertai pengujian dan pemeriksaan untuk memastikan sistem dapat beroperasi dengan baik.
|Baca juga: Saham Konglomerasi Tekan IHSG, Mirae Asset Sekuritas Soroti Pembiayaan Akuisisi BYAN
|Baca juga: OJK Terus Usut Praktik Broker Ilegal, 4 Kasus Masih Didalami!
PINDAI telah mengembangkan lebih dari 100 digital twin, yakni sistem digital yang dibangun dengan menyerap pengetahuan dan pengalaman tenaga ahli. Teknologi ini memungkinkan AI mengerjakan berbagai tugas yang sebelumnya dilakukan oleh manusia.
Dengan pendekatan tersebut, Bill menyebut pekerjaan pengembangan perangkat lunak yang sebelumnya membutuhkan sekitar 10 orang kini dapat dilakukan oleh dua hingga tiga orang. “Sekarang, Anda tidak membutuhkan 10 orang. Anda hanya membutuhkan dua atau tiga orang untuk bekerja dengan digital twin,” ujarnya.
Bagi perusahaan asuransi, penerapan teknologi ini berpotensi mengurangi biaya pengembangan dan pemeliharaan sistem IT. Namun, Bill menekankan bahwa tenaga manusia tetap dibutuhkan untuk memeriksa hasil kerja AI dan memastikan sistem berjalan sesuai kebutuhan perusahaan.
Dia menilai pengawasan tersebut penting karena industri asuransi dan perbankan memiliki regulasi ketat. Perusahaan harus memastikan penggunaan AI tidak menimbulkan kesalahan yang dapat mengganggu kegiatan operasional.
Di sisi lain, perkembangan AI juga mendorong PINDAI mengubah model bisnisnya. Jika sebelumnya perusahaan menjual sistem inti kepada klien, PINDAI berencana menawarkan teknologi yang memungkinkan perusahaan asuransi mengembangkan sistemnya sendiri dengan bantuan AI.
Bill juga mendorong perusahaan asuransi agar tidak berhenti pada uji coba AI dalam skala kecil. Perusahaan perlu menerapkan teknologi tersebut dalam kegiatan bisnis dan menghitung manfaatnya terhadap efisiensi biaya.
“Berhenti melakukan POC, pikirkan sesuatu yang nyata dan hitung ROI,” kata Bill.
Dia memperkirakan AI akan membawa perubahan besar terhadap model bisnis industri asuransi dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Menurut dia, perusahaan perlu mulai menyesuaikan strategi bisnis dan operasional agar dapat mengikuti perkembangan teknologi tersebut.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

