Pandemi Covid-19, Game Changer bagi Pasar Saham

Awal tahun ini tampaknya banyak investor pasar saham yang kecewa karena ekspektasi dapat meraup cuan dari fenomena January Effect tidak menjadi kenyataan. Alih-alih meraup cuan besar, justru banyak investor yang merugi. Di pasar saham Indonesia, January Effect bukan mitos sehingga wajar bila investor selalu berharap pada momen 1 tahun sekali tersebut.

January Effect adalah fenomena kenaikan harga saham yang mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal tahun. Ada dua teori yang menjelaskan kenapa terjadi kenaikan saham pada awal tahun. Pertama, pada akhir tahun banyak investor terutama institusi yang melepas sahamnya untuk window dressing atau menghindari pajak, kemudian membeli kembali saham tersebut pada bulan Januari. Aktivitas buyback ini mendorong kenaikan harga saham pada awal tahun.

Kedua, peningkatan harga saham pada awal tahun dipicu pembelian masif oleh investor individu yang baru mendapatkan bonus akhir tahun. Tak hanya sebagai ajang untuk berburu cuan pada awal tahun, biasanya fenomena January Effect ini juga menjadi cerminan prospek pergerakan pasar saham sepanjang tahun berjalan.

Berdasarkan data kinerja IHSG sejak tahun 2010, IHSG tercatat 8 kali mengalami penguatan alias mencetak return pada bulan Januari, sedangkan loss hanya terjadi 3 kali (lihat tabel). Artinya, secara historis January Effect itu memang terjadi, tetapi tidak selalu terjadi. Salah satunya adalah pada tahun 2020 dan tahun ini yakni IHSG justru terkoreksi cukup dalam pada bulan Januari.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat January Effect tidak muncul pada tahun ini? Bagaimana prospek pasar saham Tanah Air di tengah pandemi Covid-19 yang masih mewabah?

Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto menjelaskan bahwa secara teknikal IHSG sudah naik cukup tinggi sejak bulan November-Desember 2020 dan hingga pertengahan Januari 2021, sehingga wajar bila IHSG sepanjang Januari 2021 terkoreksi 3,96 persen. “Kemudian diikuti dengan forced sell terkait jatuhnya harga saham pompom,” jelasnya kepada Media Asuransi, 10 Februari 2021.

Menurutnya, ke depan fluktuasi di pasar modal tetap masih akan tinggi dengan perkiraan level IHSG pada akhir tahun di 6.700. Level IHSG tersebut akan ditopang oleh vaksinasi yang sudah berjalan, pembatasan yang tidak terlalu ketat, dan rendahnya bunga deposito sehingga dana pindah dari perbankan ke pasar modal. “Tetapi tetap ada unsur risiko. Misalkan pandemi memburuk, pertumbuhan ekonomi meleset jauh dari ekspektasi, atau faktor lainnya dari luar negeri yang tidak diperkirakan sebelumnya,” jelasnya.

Menghadapi situasi ketidakpastian ini, Rudiyanto menyarankan investor untuk melakukan aset alokasi pada reksa dana yang berbeda aset dasar seperti pada reksa dana berbasis saham, reksa dana berbasis obligasi, reksa dana USD, dan reksa dana pasar uang sesuai dengan profil risiko masing-masing.

Senada, Equity Research Analyst PT Erdikha Elit Sekuritas Hendri Widiantoro mengatakan penyebab pasar saham terkoreksi pada Januari 2021 adalah maraknya aksi jual masif atau profit taking oleh investor yang membuat beberapa saham mengalami penurunan hingga ambang batas bawah (auto reject bawah) di tengah stimulus yang akan dikeluarkan oleh Presiden AS Joe Biden dalam rangka mempercepat pemulihan ekonomi Negeri Paman Sam. “Tren kenaikan harga saham di bulan November dan Desember 2020 cenderung digerakkan oleh sentimen beberapa emiten yang cukup prospektif di sektor infrastruktur, pertambangan, farmasi, dan perbankan,” katanya kepada Media Asuransi, 10 Februari 2021.

Namun, euphoria atas saham di sektor-sektor tersebut mulai meredup pada Januari 2021 sehingga membuat pasar saham mulai konsolidasi dengan terjadi koreksi sehat yang mengompensasi kenaikan cukup signifikan pada November dan Desember 2020. “Selain itu, laporan keuangan yang dirilis beberapa emiten hasilnya kurang baik sehingga membuat pasar saham Indonesia mengalami koreksi,” jelasnya.

Hendri menjelaskan, faktor lain yang membuat January Effect tidak terjadi pada tahun ini adalah aksi forced sell yang dilakukan beberapa perusahaan efek yang marak terjadi akibat investor yang melakukan transaksi marjin. “Ketika pasar terjadi koreksi signifikan, investor yang melakukan transaksi marjin tersebut tidak dapat melunasi kewajiban T+2 sehingga perusahaan efek harus melakukan tindakan margin call yang berujung pada forced sell,” ujarnya.

Ke depan, Hendri menilai pandemi Covid-19 masih akan menjadi game changer bagi pasar saham Indonesia. Apabila kasus Covid-19 makin meningkat, pemerintah akan mengambil keputusan pemberlakuan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sehingga harapan untuk terjadi pemulihan ekonomi pada tahun ini akan tertunda. “Vaksinasi bagi masyarakat juga dapat menjadi faktor yang mempengaruhi laju pergerakan IHSG karena faktor perlambatan ekonomi disebabkan oleh kesehatan masyarakat yang mempunyai multiplier effect terhadap perekonomian,” terangnya.

Faktor lain yang turut mempengaruhi arah pasar saham tahun ini adalah pergerakan harga komoditas dan implementasi dari Omnibus Law serta Sovereign Wealth Fund (SWF). Bila Omnibus Law dan SWF berjalan sesuai ekspektasi dan skenario pasar, terang Hendri, maka akan mengapresiasi pergerakan saham.

Secara sektoral, Hendri memperkirakan sektor yang masih prospektif pada tahun ini adalah komoditas seperti batu bara, nikel, dan minyak mentah. Hal itu seiring dengan potensi kenaikan permintaan komoditas akibat tren pemulihan ekonomi. Selain itu, sektor perbankan juga masih menjadi sektor yang prospektif karena harga saham perbankan biasanya bergerak sebagai leading indicator pada saat terjadi pemulihan ekonomi dan pemulihan pasar saham.

“Rekomendasi bagi investor untuk trading jangka pendek sebaiknya pada sektor komoditas. Namun, bila ingin trading atau investasi jangka panjang sebaiknya memilih saham-saham perbankan,” ujarnya.

Menurutnya, investor dapat mencermati saham bluechip yang mempunyai fundamental bagus pada tahun ini karena pada awal tahun lalu saham bluechip mengalami penurunan yang cukup signifikan jauh dari harga wajar dan hingga saat ini masih dalam tahap recovery untuk kembali lagi ke harga wajar. “Untuk small cap di tahun ini disarankan untuk trading jangka pendek saja, mengingat likuiditas pada saham-saham small cap yang cenderung terbatas. Saat ini diutamakan portofolio masih lebih besar di big cap, sedangkan small cap digunakan sebagai bahan diversifikasi portofolio,” pungkas Hendri.

Di tengah pasar saham yang cenderung volatil pada tahun ini, Head of Research Equity Technical Analyst PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk Lanjar Nafi menyarankan investor untuk mengoleksi saham-saham yang memiliki kriteria yaitu backbone fundamental baik, kinerja bisnis yang prospektif, menjaga manajemen risiko, membatasi kerugian, dan target profit yang baik. “Banyak kebijakan (pemerintah dan otoritas pasar modal) yang akan menjadikan pademi Covid-19 sebagai triggernya,” katanya kepada Media Asuransi.

Untuk sektoral, Lanjar merekomendasikan investor untuk mencermati sektor properti dan keuangan dengan saham top picks-nya adalah WSKT, PTPP, WSBP, ADHI, BBCA, BMRI, BBRI, dan BRIS.

Mengutip CLSA Feng Shui Index 2021, sebenarnya pada Tahun Baru Imlek 2021 dengan simbol shio kerbau logam ini melambangkan adanya harapan bahwa kondisi akan lebih baik pada tahun ini. Pasalnya, kondisi serupa pernah terjadi pada tahun 2009 di saat shio kerbau logam ini hadir, dunia berhasil melalui krisis keuangan global.

Dengan demikian, kehadiran shio kerbau logam ini diharapkan dapat membawa ekonomi dunia menuju tren pemulihan setelah mengalami krisis kesehatan global berupa pandemi Covid-19. Achmad Aris