Inovasi dan Sinergi, Kiat Multifinance untuk Pertahankan Bisnis di 2021

Perusahaan pembiayaan termasuk industri yang mengalami perlambatan kinerja akibat pandemi Covid-19 yang terjadi sejak Maret 2020 hingga saat ini. Upaya apa saja yang akan dilakukan perusahaan pembiayaan di sepanjang 2021 untuk menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik lagi?

Dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2021 yang dilaksanakan pada pertengahan Januari lalu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyampaikan bahwa industri pembiayaan menjadi salah satu sektor yang menghadapi tantangan besar selama 2020. Kinerja pembiayaan mengalami kontraksi hebat akibat tekanan ekonomi selama pandemi.

OJK memperkirakan piutang pembiayaan tahun ini dapat tumbuh di kisaran 5 persen year on year (yoy). Pada kesempatan itu, Wimboh mengatakan, ada berbagai faktor pendukung yang akan mendorong pembiayaan multifinance di 2021. “Pembiayaan akan menunjukkan pertumbuhan positif di tahun 2021 seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat yang kembali pulih,” katanya.

Menurut Wimboh, di tengah tekanan itu, perusahaan pembiayaan tetap berkontribusi meringankan beban nasabahnya melalui restrukturisasi kredit. Mayoritas nasabah itu merupakan individu atau pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Realisasi restrukturisasi pembiayaan oleh perusahaan pembiayaan di sepanjang 2020 telah mencapai Rp189,96 triliun dari 5 juta kontrak pembiayaan atau sekitar 48,52 persen dari total pembiayaan. “Restrukturisasi ini telah menjaga profil risiko perusahaan pembiayaan dengan NPF yang masih terkendali sebesar 4,5 persen,” ungkapnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno, mengatakan bahwa industri pembiayaan sepanjang tahun 2020 mengalami tekanan yang besar yang ditandai dengan piutang pembiayaan turun lebih dari 17 persen akibat tergerusnya penjualan mobil dan motor hingga 50 persen. Namun, seiring dengan optimisme adanya vaksinasi dan pemulihan ekonomi, diharapkan industri pembiayaan dapat bertumbuh positif sekitar 5 persen pada 2021.

“Kita meyakini bahwa kondisi ini harus dapat kita lalui dan hadapi bersama. Kami dari asosiasi juga yakin bahwa perusahaan-perusahaan pembiayaan dengan pertumbuhan kinerja yang sehat, akan terus hadir di masyarakat dan turut mengambil peran agar perekonomian nasional dapat terus berjalan semakin baik,” ungkap Suwandi.

Dalam menghadapi kondisi ekonomi saat ini yang masih melambat, Direktur Utama PT Adira Dinamika Multifinance Tbk (Adira Finance) Hafid Hadeli mengatakan bahwa perseroan mulai melakukan penyaluran pembiayaan pada 2021. Untuk pertumbuhan penyaluran pembiayaan diperkirakan dapat tumbuh antara 20 persen hingga 30 persen di sepanjang 2021 dengan harapan kinerja sektor otomotif kembali membaik.

“Pertimbangan penyaluran pembiayaan dapat naik dibandingkan 2020, karena perekonomian Indonesia mulai tumbuh dan imbasnya penjualan otomotif akan ikut terkerek. Meski kinerja pembiayaan pada 2020 terkoreksi akibat pandemi Covid-19, perseroan tetap optimistis memandang tahun ini yang diawali dengan berbagai sentimen positif,” katanya.

Hafid Hadeli mengaku bahwa pandemi Covid-19 telah memberi pengaruh kepada semua negara di dunia termasuk di Indonesia. Hal itu juga diwarnai sejumlah kebijakan guna memutus mata rantai penyebaran virus korona seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). “Kemudian berdampak kepada aktivitas ekonomi sehingga daya beli masyarakat menurun. Industri juga mengalami perubahan signifikan sehingga berimbas kepada kinerja Adira Finance. Kami mencatat pembiayaan baru sebesar Rp18,6 triliun pada 2020, atau turun 51 persen dibandingkan di 2019,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hafid menjelaskan bahwa upaya yang dilakukan oleh Adira Finance di 2021, adalah melakukan inovasi dan sinergi dalam memberikan solusi
keuangan guna memenuhi kebutuhan setiap konsumen yang ruang geraknya semakin terbatas. Di antaranya mengoptimalkan teknologi digital agar dapat terkoneksi secara aman selama 24 jam.

“Perseroan juga memberikan apresiasi kepada konsumen loyal, melalui aplikasi Adiraku yang kami berikan Adira Poin, sebuah reward untuk ditukar dengan potongan angsuran atau beragam voucher. Total reward Adira Poin yang sudah didapatkan konsumen sampai saat ini mencapai Rp19 miliar. Adira Finance terus mengembangkan aplikasi Adiraku. Aplikasi ini juga sebagai solusi finansial untuk merambah atau mengakuisisi konsumen baru,” paparnya.

Adapun dalam membangun sinergi, ungkap Hafid, pihaknya menyelenggarakan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dengan menggandeng berbagai pihak, seperti pemerintah, swasta, maupun komunitas. Perseroan juga bekerja sama dengan Gerakan ‘Pakai Masker’ dan Asparindo untuk menggelar Festival Pasar Rakyat 2020 terkait edukasi cara berjualan secara online di 30 pasar rakyat di seluruh Indonesia.

“Tidak hanya itu, kami juga sedang mempersiapkan Pasar Rakyat Corner, sebuah aplikasi berbasis chat untuk membantu pedagang pasar rakyat berjualan secara online. Di tengah kondisi sulit, kami bersyukur sinergi yang telah dilakukan membuat kami dapat bertahan pada 2020,” tegasnya.

Terkait dengan program restrukturisasi bagi konsumen, Hafid Hadeli menyatakan hingga akhir 2020, perusahaan telah memberikan restrukturisasi kepada 827.000 konsumen. Adira Finance sangat memahami dampak ekonomi yang ditimbulkan dari pandemi Covid-19 pada seluruh lapisan masyarakat. “Hal ini tentunya mempengaruhi kemampuan konsumen kami dalam memenuhi dalam membayar angsuran. Tahun 2020, kami telah melakukan restrukturisasi kredit sebanyak 827.000 konsumen dengan total mencapai Rp18,9 triliun,” ujarnya.

Sementara itu, PT Intan Baruprana Finance Tbk (IBFN) akan melakukan diversifikasi portofolio pembiayaan dengan tetap mempertahankan core competence IBFN. Hal ini sebagai upaya untuk dapat bertahan menjaga kelangsungan usaha di tengah pandemi Covid-19.

Direktur Utama IBFN Carolina Dina Rusdiana mengatakan bahwa situasi pandemi seperti saat ini, mengubah kondisi perekonomian bukan hanya nasional tetapi global. “Perubahan ini juga membawa dampak kepada IBFN. Namun kami melakukan berbagai upaya untuk dapat bertahan ditengah situasi yang tidak menentu ini,” katanya dalam paparan publik secara virtual beberapa waktu lalu.

Carolina melanjutkan, saat ini pihaknya berharap bisa mendapatkan investor baru yang membawa dana segar untuk tambahan modal kerja perseroan. Perseroan membuka kesempatan untuk menggandeng para investor yang tertarik menjalin kemitraan strategis dengan IBFN di tahun 2021. Hal ini merupakan salah satu upaya IBFN untuk bersinergi dengan semua pihak agar bisa bersama-sama mendorong kembali roda perekonomian nasional. “Bersama-sama kita bisa menjadi penggerak pemulihan ekonomi nasional, khususnya dalam hal financing,” ungkapnya.

Selain itu, di tahun 2021, ungkap Carolina, IBFN juga akan fokus pada perbaikan rasio-rasio keuangan penting sebagaimana yang dipersyaratkan oleh OJK. Perusahaan juga akan berupaya melakukan pengembangan bisnis. Hingga kuartal III/2020, IBFN mencatat pendapatan Rp7,99 miliar. Pendapatan ini merosot 95,18% dari Rp165,87 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Perusahaan yang tergabung dalam kelompok usaha PT Intraco Penta Tbk ini dalam publik ekspose menyatakan bahwa perseroan mencatat rugi bersih
Rp57,6 miliar hingga akhir September 2020. Wahyu Widiastuti