1
1

BI Komitmen Jaga Inflasi di Tengah Gejolak Global, Begini Strateginya!

Gedung Bank Indonesia. | Foto: BI

Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) tetap berkomitmen menjaga sasaran inflasi sebagai sasaran akhir. Hasil proyeksi menunjukkan inflasi ke depan masih dalam kisaran target 2,5+/-1 persen di tengah gejolak global.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menambahkan BI mencermati perkembangan nilai tukar rupiah akibat dampak gejolak global tersebut. Hal itu karena dapat mengganggu pencapaian target inflasi.

“Sejauh ini perkembangan nilai tukar masih terkendali karena belum memengaruhi pencapaian target inflasi. ⁠Mempertimbangkan prospek inflasi yang masih dalam sasaran tersebut maka BI mempertahankan BI Rate di 5,75 persen,” kata Ramdan, dalam Taklimat Media, di Jakarta, Jumat, 23 Oktober 2026.

Namun, ia menambahkan, perkembangan nilai tukar perlu tetap dikendalikan agar tidak mengganggu pencapaian sasaran inflasi. Dalam kondisi ini, BI memperkuat strategi insentif Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) agar meningkatkan daya tarik penempatan modal asing di aset keuangan domestik.

“Yang akhirnya dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah untuk melengkapi BI Rate yang tetap. Strategi insentif ini merupakan komplementer BI Rate dalam menjaga inflasi agar tetap sesuai target, tidak sebagai substitusi BI Rate,” jelasnya.

Ke depan, tambahnya, BI akan terus mencermati prospek perekonomian dan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, termasuk menempuh langkah-langkah penyesuaian yang diperlukan.

|Baca juga: OJK Cermati Dampak Putusan MK soal Syarat Klaim dalam Polis Asuransi

|Baca juga: OJK Catat 20 DPLK Sudah Jalankan Program Kompensasi Pascakerja

“(Hal itu) guna konsisten dalam menjaga stabilitas perekonomian yang akhirnya dapat mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” urainya.

Dirinya menambahkan kebijakan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) dan kenaikan Deposit Facility (DF) Rate ditujukan sebagai strategi harmonisasi dan sinkronisasi kebijakan operasi moneter agar stance BI yang tecermin dari BI Rate dapat selaras dengan kondisi likuiditas dan pergerakan suku bunga pasar uang.

“Penurunan GWM dilakukan secara terukur sehingga kondisi likuiditas menjadi seimbang dengan level BI Rate serta inflasi sesuai target dan pertumbuhan ekonomi,” tukasnya.

Sementara kenaikan DF Rate menjadi 5,00 persen merupakan strategi operasi moneter BI agar pergerakan suku bunga INDONIA bergerak simetris di dalam dalam koridor 75 bps di bawah BI Rate untuk sebagaimana level DF lima persen dan 75 bps di atas BI Rate sebagaimana tecermin pada Lending Facility (LF) Rate yang ada di level 6,50 persen.

Ia menjelaskan secara keseluruhan strategi harmonisasi dan sinkronisasi operasi moneter ini ditujukan untuk memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dalam mencapai sasaran akhir Inflasi yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

“Strategi harmonisasi dan sinkronisasi operasi kebijakan moneter ke depan makin efisien dan efektif dan dapat menjadi buffer dalam merespons tantangan global dan domestik yang makin kompleks. Hal ini pula yang menjadi dasar pertimbangan mengapa timming kebijakan GWM dan DF Rate ditempuh di RDG Oktober 2026,” tutupnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post 32 Perusahaan Penunjang Asuransi Belum Penuhi Ekuitas Minimum, OJK Minta Perkuat Modal
Next Post Bank Mandiri (BMRI) Cetak Laba Rp45,5 Triliun hingga Kuartal III/2026

Member Login

or