Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menyiapkan tiga opsi kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar keuangan. Opsi tersebut mencakup penyesuaian suku bunga acuan, pemberian insentif, hingga penggunaan cadangan devisa.
Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman mengatakan penentuan respons kebijakan selalu mempertimbangkan stabilitas ekonomi, terutama perkembangan inflasi terhadap target dan kesenjangan antara output aktual dengan potensinya.
“Respons kebijakan Bank Indonesia itu selalu mengedepankan stabilitas,” ujar Aida, usai konferensi pers RDG BI di Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.
Menurutnya, berbagai dinamika pasar, termasuk gejolak yang berkaitan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI), menjadi bagian dari pertimbangan BI dalam menentukan arah kebijakan. Bank sentral akan terus mencermati perkembangan kondisi ekonomi sebelum memutuskan instrumen yang diperlukan.
Aida menjelaskan BI memiliki sejumlah pilihan untuk merespons perkembangan tersebut, mulai dari menaikkan suku bunga acuan, memberikan insentif, hingga memanfaatkan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
|Baca juga: BI Siapkan 4 Langkah Cegah QRIS Dipakai untuk Judi Online
Di sisi lain, BI juga memperkuat insentif lindung nilai melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Insentif tersebut ditingkatkan menjadi 40 persen dan 45 persen untuk mendukung investasi portofolio, termasuk pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Surat Berharga Negara (SBN), saham, serta penanaman modal asing.
|Baca juga: OJK: Peningkatan Kasus Influenza A Berpotensi Buat Klaim Asuransi Kesehatan Naik
|Baca juga: Rupiah Sempat Tertekan Usai Gejolak MSCI, Ini Respons Bos BI
BI turut memberikan insentif lindung nilai untuk transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) dengan tujuh negara, yakni Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, Korea Selatan, China, dan Uni Emirat Arab. Insentif untuk transaksi swap dan DNDF dalam skema tersebut ditetapkan sebesar 10 persen.
Dirinya menegaskan pengelolaan cadangan devisa juga menjadi bagian dari operasi moneter valuta asing BI. Hingga bulan sebelumnya, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$146,3 miliar, setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Menurut Aida, penggunaan cadangan devisa tetap memperhatikan kecukupan dan keberlanjutannya. BI memastikan cadangan devisa mampu memenuhi kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri sekaligus mengantisipasi risiko pembalikan arus modal.
Selain itu, BI berupaya menjaga kepercayaan investor melalui perbaikan kondisi makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan. Dengan demikian, arus modal diharapkan tetap terjaga dan investor bersedia memperpanjang penempatan dananya di Indonesia.
“Jadi, pertama, jaga kecukupan. Yang kedua, sustainabilitasnya,” tutup Aida.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

