1
1

Masa Depan Digital Rupiah, Ketika Uang Tak Lagi Sekadar Alat Transaksi

Para pembicara seminar Decoding CBDCs: Unveiling the Future of Digital Money di Jakarta, pertengahan Mei. | Foto: doc

Media Asuransi, JAKARTA – Sejak diperkenalkan di 2022 sebagai pelengkap sistem pembayaran Indonesia di masa depan, Digital Rupiah semakin menarik perhatian. Meskipun begitu, masih banyak pihak yang belum mengetahui lebih dalam tentang kegunaan dan manfaat dari Digital Rupiah yang akan diterbitkan oleh bank sentral, Bank Indonesia (BI).

ICAEW (Institute of Chartered Accountants in England and Wales) Director for China and South-East Asia, Elaine Hong, mengatakan bahwa laporan terbaru dari the World Economic Forum menyatakan bahwa lebih dari 98 persen bank sentral sedang melakukan riset, eksperimen, menguji coba ataupun meluncurkan Central Bank Digital Currency (CBDC) untuk melihat kapabilitas dan meningkatkan akses kepada uang sentral, termasuk Indonesia. “Pelaku sektor keuangan tentu sangat antusias menyambut terobosan baru ini, termasuk di ICAEW,” katanya dalam seminar Decoding CBDCs: Unveiling the Future of Digital Money di Jakarta, pertengahan Mei.

ICAEW sangat yakin bahwa peran seorang akuntan sangat krusial dalam perubahan besar ini nantinya. “Kami memiliki visi bahwa kami menjadi pemimpin dalam pemanfaatan teknologi baru dan data nantinya. Kehadiran CBDC tentu mewakili perubahan besar dalam lanskap keuangan, dan tentunya pemahaman mengenai implikasinya sangat penting bagi profesi kami,” jelasnya.

|Baca juga: BI Segera Luncurkan Rupiah Digital, Ini 3 Alasannya

Ditambahkan bahwa perubahan digital dan industri keuangan akan terus bersinggungan kedepannya. Dengan kehadiran Digital Rupiah, perubahan dapat terjadi di banyak aspek di sektor keuangan. Karena itulah peran institusi seperti ICAEW yang menaungi para akuntan profesional bisa menjadi medium yang positif untuk mengedukasi dan memperbarui pengetahuan.

Presiden Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Ardan Adiperdana, menyatakan bahwa CBDC merepresentasikan pergeseran paradigma dalam evolusi uang dan keuangan, tidak seperti uang kripto. CBDC juga berfungsi sebagai bentuk digital dari uang fisik yang dikeluarkan oleh pemerintah, dengan keamanan dan stabilitas aset digital bagi konsumen.

“Karena itu, saya juga mengajak para akuntan agar lebih ahli dan fleksibel untuk kebaruan ini. Dampak CBDC kepada kebijakan moneter dan kestabilan finansial tidak dapat dielakkan karena uang digital menawarkan efisiensi dan transparansi,” tuturnya.

Kehadiran Digital Rupiah nantinya tidak akan melepaskan fungsinya sebagai alat tukar, penyimpanan dan satuan hitung. Bedanya, Digital Rupiah akan membuat transaksi di era digital menjadi lebih fleksibel dan efisien karena ada faktor perbedaan ongkos pembuatan, jika dibandingkan dengan uang kertas yang harus dicetak terlebih dahulu.

Mengulik sisi keamanan, di era di mana perkembangan aset kripto sebagai alat tukar kerap tidak stabil dan dikendalikan oleh entitas yang tidak dikenal, kehadiran Digital Rupiah terbitan Bank Indonesia bisa memperkuat ekosistem keuangan digital. Selain itu juga bisa menjaga stabilitas sistem keuangan dari ancaman eksternal, seperti penyalahgunaan mata uang kripto.

|Baca juga: BI Terbitkan Design Pengembangan Digital Rupiah 

Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI), Ryan Rizaldy, menjelaskan bahwa CBDC tidak menciptakan uang baru sehingga tidak akan mengubah uang. Saat ini, Bank Indonesia masih di tahap penelitian dan akan menuju fase menengah. Belum ada waktu pasti kapan Digital Rupiah akan diluncurkan, saat ini BI belum melihat urgensi untuk meluncurkan secepatnya.

Namun, BI sudah mempersiapkan diri agar bisa diluncurkan saat dibutuhkan. Lain dari uang digital pihak swasta, bank sentral tidak memiliki ekosistem tersendiri. “Maka dari itu, bank sentral harus bekerja sama dengan industri, bank komersial dan nonbank untuk mengeluarkan CBDC,” katanya.

Digital Rupiah didesain melalui inisiatif Proyek Garuda sebagai upaya mengintegrasikan ekonomi dan keuangan digital secara end-to-end dalam agenda transformasi digital nasional. Meskipun pihak swasta atau lembaga non perbankan dapat menerbitkan uang elektronik mereka sendiri, Digital Rupiah diterbitkan oleh Bank Indonesia selaku otoritas moneter sebagai pelengkap pilihan alat pembayaran.

Ketika nanti resmi diterbitkan, Digital Rupiah dapat menjadi kompetitor e-wallet lainnya yang sudah lebih dulu dikenal masyarakat. Namun jika dibandingkan dengan uang elektronik pihak swasta, basis blockchain dan akun perorangannya menjadikan Digital Rupiah lebih aman dan mudah dilacak.

“ICAEW sangat mengapresiasi usaha pemerintah dan lembaga keuangan di Indonesia yang sedang berproses melahirkan Digital Rupiah. Semoga inovasi ini membawa energi yang baru untuk perekonomian Indonesia kelak,” tutur Elaine.

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Generasi Milenial Tertarik KPR 35 Tahun? Cek Kelebihan dan Kekurangannya Menurut Allianz
Next Post AM Best Revisi Prospek Pasar Asuransi Jiwa Spanyol Jadi Stabil

Member Login

or