1
1

AAJI Komitmen Perkuat Ketahanan Risiko Industri Asuransi Jiwa di Tengah Ketidakpastian Geopolitik

Dewan Pengawas AAJI Firdaus Djaelani saat memberikan closing remarks pada kegiatan Chief Risk Officer Forum 2026. | Foto: AAJI

Media Asuransi, JAKARTA – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyelenggarakan Chief Risk Officer (CRO) Forum AAJI 2026 sebagai pertemuan strategis untuk memperkuat ketahanan risiko industri asuransi jiwa di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Mengangkat tema ‘Navigating Geopolitical Uncertainty: Strengthening Risk Resilience for Indonesia’s Life Insurance Industry‘, forum ini menghadirkan narasumber dari regulator, ekonom, praktisi, serta pelaku industri guna menjembatani perspektif makroekonomi dengan implementasi pengelolaan risiko di tingkat perusahaan.

Ketua Bidang Hukum dan Kepatuhan AAJI Robbi Yanuar Walid menyampaikan seiring meningkatnya kompleksitas risiko di industri asuransi jiwa, terutama akibat percepatan transformasi digital, tantangan pengelolaan data, serta ancaman siber, maka risiko-risiko tersebut menjadi semakin krusial dan perlu diantisipasi secara terstruktur.

|Baca juga: AXA Financial Indonesia Komitmen Cegah Dampak Perubahan Iklim

|Baca juga: OJK Catat Penyaluran Kredit Perbankan Naik 9,49% di Maret 2026

“Penguatan ketahanan siber bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. AAJI terus mendorong penguatan ini melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk melalui inisiatif cyber help desk sebagai dukungan awal bagi industri,” kata Robbi, dikutip dari keterangan resminya, Kamis, 7 Mei 2026.

Selama beberapa tahun terakhir, dinamika global menunjukkan peningkatan ketidakpastian signifikan yang dipicu oleh eskalasi tensi geopolitik, fragmentasi ekonomi global, serta perubahan arah kebijakan moneter berbagai negara.

Tekanan inflasi yang berkelanjutan, kenaikan suku bunga dalam periode singkat, serta volatilitas nilai tukar menciptakan tekanan berlapis pada stabilitas pasar global. Kondisi ini turut memengaruhi pergerakan yield instrumen keuangan serta valuasi aset.

|Baca juga: OJK Berlakukan Uji Coba New RBC di 10 Perusahaan Asuransi, Ini Tujuannya! 

|Baca juga: Sejumlah Manajer Investasi Mulai Ajukan Pendirian DPLK, OJK: Sudah Masuk Tahap Evaluasi

Bagi industri asuransi jiwa, perkembangan tersebut tidak hanya berdampak pada sisi aset melalui penurunan valuasi dan fluktuasi hasil investasi, tetapi juga pada sisi liabilitas akibat perubahan asumsi aktuaria dan perilaku nasabah.

Kenaikan suku bunga berpotensi memengaruhi nilai kewajiban jangka panjang, sementara tekanan ekonomi dapat mendorong peningkatan lapse dan surrender. Di sisi lain, tren kenaikan biaya medis serta perubahan pola morbiditas turut meningkatkan eksposur risiko asuransi.

Selain itu, percepatan digitalisasi dan perubahan perilaku nasabah juga meningkatkan kompleksitas risiko operasional, termasuk tekanan pada kapasitas sistem.

Dalam konteks yang lebih luas, meningkatnya ketegangan geopolitik turut berdampak pada lanskap keamanan siber, di mana ancaman menjadi semakin kompleks dan berpotensi menjadi bagian dari dinamika konflik global.

|Baca juga: OCBC (NISP) Akuisisi International Wealth dan Premier Banking Milik HSBC Indonesia

|Baca juga: OJK Catat Premi Komersial Tumbuh Tipis, Asuransi Jiwa Tertekan di Kuartal I/2026

Hal ini menempatkan risiko siber sebagai salah satu fokus utama dalam menjaga ketahanan operasional dan perlindungan data di industri jasa keuangan. Kombinasi berbagai faktor tersebut mengarah pada potensi ‘perfect storm‘, di mana risiko pasar, likuiditas, asuransi, operasional, dan siber terjadi secara simultan dan saling memperkuat.

Dalam kondisi ini, perusahaan asuransi jiwa dituntut untuk tidak hanya memahami risiko secara makro, tetapi juga mampu menerjemahkannya ke dalam strategi pengelolaan risiko yang forward-looking, terintegrasi, dan adaptif.

Dalam rangka memberikan perspektif yang komprehensif, forum ini dirancang dengan pendekatan yang saling melengkapi. Sesi dibuka oleh Chief Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede dengan topik ‘Global Risk Landscape‘.

Pemaparan tersebut menjelaskan lanskap risiko global dan dinamika makroekonomi guna memberikan konteks eksternal yang memengaruhi industri asuransi. Sesi selanjutnya disampaikan oleh Partners Ernst & Young Indonesia Bernadeth Sao.

Lalu disampaikan CRO PT Asuransi Allianz Life Indonesia Adrianus Darmawan dengan topik ‘From Global Risks to Local Action: How Life Insurance CROs are Navigating Uncertainty‘. Keduanya menekankan bagaimana strategi para CRO di industri asuransi jiwa dalam menghadapi berbagai risiko global.

|Baca juga: Dorong Gaya Hidup Sehat, Sequis Life Dukung Ajang Triathlon Ramah Pemula

|Baca juga: AXA Insurance dan AXA XL Hadirkan Art Insurance Berstandar Global untuk Karya Seni Bernilai Tinggi

Deputi Komisioner Pengawas, Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Iwan Pasila menjelaskan industri asuransi saat ini menghadapi spektrum risiko yang semakin luas, mulai dari bencana alam, mortalitas, ancaman siber, tantangan kesehatan, serta kesiapan dana pensiun.

Ia menambahkan best practices bagi para CRO dalam industri bukan sekadar konsep, tetapi memastikan kecukupan modal untuk menyerap risiko, membangun disiplin dalam mengenali dan mengelola risiko secara terukur, serta memperkuat tata kelola melalui komite yang berjalan efektif.

“OJK juga memandang regulasi bukan sekadar aturan, melainkan pedoman yang mendorong perusahaan asuransi untuk menjadi lebih baik dan berdaya saing,” ucapnya.

Melalui penyelenggaraan forum ini, AAJI berharap industri asuransi jiwa Indonesia semakin siap menghadapi berbagai risiko yang berkembang, serta mampu menjaga keberlanjutan dan kepercayaan masyarakat di tengah dinamika global yang terus berubah.

|Baca juga: Asuransi Jasa Tania (ASJT) Tebar Dividen Rp1,34 Miliar, Simak Jadwal dan Ketentuannya!

|Baca juga: UUS MSIG Life Resmi Spin Off, Semua Portofolio Dialihkan ke PAS

Peserta kegiatan ini merupakan perwakilan dari fungsi manajemen risiko perusahaan asuransi jiwa anggota AAJI, yang terdiri dari CRO dan tim manajemen risiko. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh Dewan Pengurus AAJI serta perwakilan Working Group CRO AAJI.

Dewan Pengawas AAJI Firdaus Djaelani menegaskan peran CRO menjadi semakin krusial, tidak hanya sebagai pengawas risiko, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam pengambilan keputusan yang berkelanjutan.

“Bagi para CRO, diperlukan pendekatan manajemen risiko yang proaktif, berbasis data, dan kolaboratif, guna memastikan ketahanan industri ke depan. AAJI berharap hasil dari forum ini tidak berhenti pada diskusi semata, tetapi dapat diwujudkan dalam langkah konkret yang membawa dampak nyata,” tutup Firdaus.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Menembus Batas Menuju Puncak Karier
Next Post CEO Perempuan Mendorong Transformasi Industri Jasa Keuangan

Member Login

or