1
1

Visa Soroti Daya Tarik Indonesia yang Lebih dari Sekadar Destinasi Liburan

Country Manager Visa Indonesia Vira Widiyasari saat memberikan kata sambutan pada perhelatan Visa Indonesia Risk Forum 2026. | Foto: Visa Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Visa (NYSE: V) mengungkapkan temuan studi terbarunya bertajuk ‘Visa Global Travel Intentions (GTI) 2026‘ bahwa wisatawan mancanegara memilih Indonesia sebagai destinasi liburan dengan alasan yang beragam.

Keragaman motivasi meliputi kedekatan budaya dan perjalanan bersama keluarga, pengalaman wisata yang lebih imersif dan premium, serta pilihan wisata halal atau halal-friendly. Studi ini mengungkapkan keterjangkauan menjadi alasan utama wisatawan mancanegara memilih Indonesia, mengungguli kuliner lokal dan alam.

Sebanyak 77 persen atau lebih dari tiga perempat wisatawan bepergian bersama keluarga. Sementara itu, hampir 60 persen dari total pengeluaran perjalanan dialokasikan untuk penerbangan, akomodasi, dan makanan.

Temuan ini diharapkan bisa mengajak ekosistem pariwisata dan bisnis Indonesia untuk melihat adanya peluang lebih besar dalam upaya memahami hal-hal yang dinilai penting oleh wisatawan sepanjang perjalanannya dibanding sekedar mendorong jumlah kedatangan.

“Indonesia menawarkan daya tarik wisata yang lebih dari sekadar destinasi. Seiring dengan terus berkembangnya preferensi wisatawan, terdapat peluang untuk menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih terhubung dan bernilai,” kata Country Manager Visa Indonesia Vira Widiyasari, dalam keterangannya, Jumat, 9 Oktober 2026.

Ia menambahkan hal ini dapat mendorong wisatawan untuk mengeksplorasi lebih banyak destinasi, memperpanjang masa tinggal, serta berinteraksi lebih dekat dengan pelaku usaha dan komunitas lokal.

“Di Visa, kami berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan pemerintah dan mitra industri dalam mendukung pertumbuhan pariwisata Indonesia, memperkuat ekosistem ekonomi pariwisata, serta menghadirkan pengalaman pembayaran yang aman dan nyaman untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” ujar Vira.

Studi ini menyoroti perbedaan alasan wisatawan mancanegara atau yang masuk ke dalam koridor inbound utama memilih destinasi wisata Indonesia. Wisatawan Malaysia tertarik pada kedekatan geografis, kesamaan budaya, dan konektivitas regional, dengan perjalanan yang memadukan kuliner lokal, belanja, dan berbagai atraksi.

Wisatawan Singapura cenderung memilih perjalanan yang lebih berorientasi pada pengalaman, termasuk wellness, olahraga, gaya hidup, dan kuliner lokal. Sedangkan wisatawan Australia cenderung tinggal lebih lama dibandingkan dengan wisatawan dari negara lain dan semakin banyak mengeksplorasi destinasi di luar Bali.

Perjalanan mereka mencakup beragam pengalaman, mulai dari pasar lokal dan kuliner premium hingga wellness, layanan transportasi berbasis aplikasi, dan aktivitas budaya.

Sementara wisatawan Arab Saudi merupakan salah satu koridor bernilai tinggi, dengan masa tinggal lebih panjang dan permintaan yang kuat untuk akomodasi premium, aktivitas keluarga, pengalaman kuliner berkelas atau fine dining, belanja, serta wisata halal atau halal-friendly.

Keragaman motivasi wisatawan ini menunjukkan pentingnya menghadirkan pengalaman pariwisata yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasar, alih-alih memperlakukan semua wisatawan mancanegara dengan cara yang sama.

|Baca juga: Citi Tunjuk Michael Zezas sebagai Head of Research

|Baca juga: Pembiayaan Produktif Multifinance Turun 1,81% Jadi Rp241,88 Triliun Per Agustus 2026

Lebih lanjut, perencanaan perjalanan semakin mandiri dan digital. Sebanyak 47 persen wisatawan inbound yang disurvei menggunakan AI mencari ide perjalanan. Sementara 38 persen menggunakannya untuk menyusun rencana perjalanan, 37 persen untuk mencari ulasan dan rekomendasi, serta 36 persen mencari penerbangan dan akomodasi.

Perilaku pembayaran juga berkembang. Dompet digital menjadi metode pembayaran yang paling dipilih oleh wisatawan yang disurvei selama berada di Indonesia, sementara penggunaan uang tunai sebagai metode pembayaran utama turun dari 52 persen pada 2023 menjadi 15 persen pada 2026.

Seiring dengan peningkatan jumlah wisatawan yang menggunakan pembayaran digital, sebagian besar dari mereka mengaku tetap mengandalkan kombinasi berbagai metode pembayaran.

Sebanyak 46 persen wisatawan masih membawa uang tunai sebagai cadangan, sementara 49 persen menyebut penerimaan secara luas di berbagai negara sebagai salah satu alasan utama mereka menggunakan kartu sebagai alat pembayaran saat bepergian ke luar negeri.

Temuan outbound atau arus wisatawan Indonesia yang ke luar negeri menunjukkan kebutuhan yang serupa ketika wisatawan Indonesia bepergian ke luar negeri. Sebanyak 48 persen wisatawan Indonesia khawatir dompet digital yang biasa mereka gunakan mungkin tidak dapat dipakai di luar negeri.

Sebanyak 59 persen masih membawa uang tunai sebagai cadangan, sementara 60 persen berencana memiliki kartu pembayaran khusus perjalanan. Temuan ini menunjukkan kebiasaan pembayaran digital di dalam negeri belum sepenuhnya menghilangkan ketidakpastian saat bepergian ke luar negeri.

Wisatawan Indonesia berharap berbagai metode pembayaran yang dimilikinya bukan hanya sekedar opsi tambahan dalam bertransaksi, tapi juga mampu memberikan kepastian bahwa metode pembayaran pilihannya bisa digunakan dengan aman, mudah, dan dapat diandalkan sepanjang perjalanan.

“Baik ketika wisatawan datang ke Indonesia maupun bepergian ke luar negeri, keyakinan dalam bertransaksi merupakan bagian penting dari perjalanan. Metode pembayaran yang tepercaya dan diterima secara luas dapat membantu wisatawan tetap fokus pada pengalaman yang membawa mereka ke sebuah destinasi,” pungkas Vira.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post IHSG Akhir Pekan Ditutup di Zona Hijau

Member Login

or