Media Asuransi, JAKARTA — Ketersediaan tangan dan kaki palsu belum cukup untuk memastikan pasien dapat kembali menjalani aktivitas secara optimal. Akses terhadap layanan prostetik berkualitas, pendampingan tenaga profesional, dan penyesuaian alat dengan kebutuhan sehari-hari menjadi tantangan dalam rehabilitasi pasien yang kehilangan anggota gerak.
|Baca juga: Halodoc: Layanan Kesehatan Mental Harus Berkesinambungan
Ahli Prostetik dan Ortotis Össur Asia Tenggara, Zulfaqar Omar, menilai keberhasilan rehabilitasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh kemampuan layanan kesehatan memastikan prostesis sesuai dengan kondisi dan aktivitas pasien.
“Menurut saya, salah satu tantangan terbesar adalah akses terhadap layanan prostetik yang berkualitas dan berkesinambungan,” ujar Zulfaqar dalam kuliah tamu Clinical Prospective in Upper and Lower Limb Prosthesis Rehabilitation di Ruang Kuliah Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, seperti dikutip Rabu, 14 Oktober 2026.
Ia mencontohkan, kebutuhan pengguna prostesis di Indonesia sangat beragam. Sebagian pasien harus mengendarai sepeda motor untuk bekerja, berjalan di permukaan jalan yang tidak rata, atau naik turun tangga setiap hari.
|Baca juga: Halodoc Sarankan Masyarakat Akses Hotline 119 untuk Konseling Kesehatan Mental
Kondisi tersebut membuat pemilihan prostesis perlu mempertimbangkan lingkungan dan gaya hidup pasien, bukan semata-mata aspek teknis alat. Kenyamanan, keamanan, stabilitas, dan kemampuan menjalankan aktivitas menjadi bagian dari pertimbangan klinis.
Selain kesesuaian alat, faktor biaya dan akses terhadap tenaga profesional terlatih juga memengaruhi kesinambungan layanan. Pasien membutuhkan pendampingan untuk belajar menggunakan prostesis sekaligus menjalani pemeriksaan dan penyesuaian ketika diperlukan.
“Jadi, menurut saya, tantangan utamanya bukan hanya bagaimana menyediakan teknologi prostetik, tetapi bagaimana memastikan teknologi tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasien dan dapat digunakan secara optimal dalam kehidupan sehari-hari,” kata Zulfaqar.
Ossur sendiri adalah perusahaan global yang mengembangkan produk prostetik dan ortotik, dengan cakupan layanan di sejumlah negara, termasuk Indonesia dan negara-negara lain di Asia Tenggara.
“Selain prostesis anggota gerak, portofolio produknya mencakup alat ortotik khusus maupun siap pakai, seperti penyangga lutut, tulang belakang, dan pergelangan kaki,” jelas Zulfaqar. Di Indonesia, produk Össur antara lain tersedia melalui PT Ortho Pro Arthayasa yang berlokasi di Hermina Tower, Kemayoran, Jakarta.
Pandangan senada diungkapkan oleh Dr. dr. Rizky Kusuma Wardhani, Sp.KFR, Subsp.Ped.(K), yang mengatakan bahwa rehabilitasi prostetik memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi berperan menghubungkan perkembangan teknologi dengan hasil fungsional yang dibutuhkan pasien.
Karena itu, asesmen, pemilihan prostesis, program latihan, serta evaluasi berkala perlu menjadi satu rangkaian pelayanan. Kolaborasi antara dokter, tenaga prostetik dan ortotik, serta profesi kesehatan terkait turut menentukan kesesuaian penanganan dengan kebutuhan pasien.
Editor: Irdiya Setiawan
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

