1
1

Eastspring Investments Indonesia: IHSG Melemah di Tengah Rapuhnya Sentimen Pasar

Investor sedang mengamati pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia Jakarta beberapa waktu lalu. | Foto: Media Asuransi/Lucky

Media Asuransi, JAKARTA – Pasar saham Indonesia kembali mengalami tekanan pada Senin, 12 Oktober 2026, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan terdalam sejak 30 Juni 2026, yakni -2,59 persen atau -157,61 poin ke level 5.936,15.

Tekanan terutama terjadi pada saham-saham terafiliasi konglomerasi, mencerminkan pengurangan risiko secara luas di kalangan investor lokal. Beberapa saham yang menjadi pemberat yaitu: DSSA (-14,60 persen, BREN (-11,48 persen), BBCA (-1,65 persen), TPIA (-10,15 persen), BYAN (-4,03 persen).

Dikutip dari Spring Flash oleh tim PT Eastspring Investments Indonesia, eskalasi ketegangan geopolitik menyusul serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi turut memperburuk sentimen, seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa harga minyak akan bertahan tinggi lebih lama.

|Baca juga:IHSG Tergerus Tertekan Faktor Eksternal

Harga minyak Brent yang telah melampaui US$104 per barel, semakin memperbesar kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan stabilitas eksternal, khususnya bagi negara importir minyak seperti Indonesia. Pengumuman Presiden AS, Donald Trump, pada hari Minggu waktu setempat mengenai kesepakatan gencatan senjata terkait infrastruktur energi antara Rusia dan Ukraina, memberikan harapan bagi stabilitas pasokan energi global, meskipun implementasinya masIh perlu dicermati. Kedua pihak Ukraina dan Rusia belum memberikan komentar.

Nilai tukar rupiah melemah sebesar 0,08 persen ke level Rp17.913 per dolar AS, sementara imbal hasil SBN tenor 10 tahun meningkat tipis sebesar 0,21 basis points menjadi 7,20 persen.

|Baca juga: Eastspring Investments Indonesia: Eskalasi Risiko Global Kembali Menekan Pasar Finansial

Pekan ini, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rilis data inflasi konsumen (CPI) dan produsen (PPI) Amerika Serikat yang dijadwalkan pada 14-15 Oktober waktu setempat. Kedua indikator tersebut akan menjadi petunjuk penting dalam menilai perkembangan tekanan inflasi AS dan arah kebijakan suku bunga The Fed, yang selanjutnya berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS serta dinamika nilai tukar rupiah.

Pelemahan IHSG mencerminkan sikap investor yang masih cenderung defensif, dengan koreksi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar turut memperdalam tekanan terhadap indeks. Meskipun intensitas aksi jual investor asing mulai mereda, kondisi tersebut belum cukup untuk mengindikasikan kembalinya aliran dana asing secara berkelanjutan ke pasar saham domestik.

Di tengah volatilitas pasar, koreksi harga dapat membuka peluang investasi, namun pendekatan yang lebih selektif dan disiplin tetap menjadi kunci. Menjelang November, investor akan mencermati sejauh mana reformasi dan peningkatan transparansi pasar mampu menjawab perhatian MSCI serta meredakan risiko perubahan klasifikasi pasar Indonesia.

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Memperkuat Kepercayaan dan Fondasi Industri Asuransi

Member Login

or