Media Asuransi, JAKARTA – Pasar saham Indonesia kembali melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026, sejalan dengan mayoritas bursa saham regional Asia. Tekanan jual semakin meningkat pada sesi perdagangan siang hingga sore, seiring dengan lonjakan harga minyak dunia dan kenaukan imbal hasil obligasi global yang memperburuk sentiment Risiko serta mendorong investor mengurangi eksposur pada aset saham.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah -1,88 persen atau -115,44 poin ke level 6.031,29. Beberapa saham yang menjadi penekan terbesar adalah BBRI (-3,50 persen), AMMN (-6,40 persen), BMRI (-2,44 persen), BREN (-6,67 persen, dan BRMS (-4,96 persen).
|Baca juga: Eastspring Indonesia Gelar Program Mangrove Planting Day
Dikutip dari Spring Flash oleh tim PT Eastspring Investments Indonesia, harga minyak mentah Brent naik hampir tiga persen ke level US$104,15 per barel, menyusul laporan yang kembali memicu kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik antara AS dan Iran menjelang pemilu paruh waktu AS.
Pada saat yang sama, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun meningkat 4,5 basis points (bps) menjadi 5,32 persen, sementara indeks dolar AS (DXY) menguat ke level tertinggi tahun ini di 102,31. Kombinasi kenaikan harga minyak, tingginya imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar AS semakin menekan minat investor terhadap aset berisiko. Rupiah turut melemah sebesar 0,16 persen terhadap dolar AS ke level Rp17.915 per dolar AS.
|Baca juga: Eastspring Investments Indonesia: IHSG Melemah di Tengah Reshuffle Kabinet dan Tekanan Global
Ketidakpastian arah pasar, baik di tingkat global maupun domestik, masih membatasi keyakinan investor untuk meningkatkan eksposur risiko. Meski demikian, pasar obligasi domestik menunjukkan pergerakan yang relatif lebih stabil. Imbal hasil SBN tenor 5 tahun turun tipis sebesar 0,11 bps menjadi 7,08 persen, sementara imbal hasil SBN tenor 10 tahun hanya meningkat terbatas sebesar 0,25 bps menjadi 7,21 persen.
Di tengah menurunnya aktivitas perdagangan, sebagaimana tecermin dari rendahnya nilai transaksi harian di pasar saham, volatilitas diperkirakan masih akan mewarnai pergerakan pasar dalam jangka pendek. Namun, posisi investor yang relatif ringan serta valuasi saham yang semakin menarik berpotensi menjadi faktor penyangga terhadap tekanan pasar lebih lanjut.
Kondisi ini memberikan ruang bagi pasar untuk kembali menemukan keseimbangan, sembari menantikan katalis positif yang dapat mendorong pemulihan sentimen dan meningkatkan kembali minat investor.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

