1
1

Fitch Afirmasi Peringkat Pertamina BBB dengan Outlook Stabil

Gedung Kantor Pusat Pertamina. | Foto: pertamina.com

Media Asuransi, JAKARTA – Fitch Ratings telah mengafirmasi Peringkat Issuer Default Rating (IDR) Mata Uang Asing Jangka Panjang PT Pertamina (Persero) di ‘BBB’ dengan Outlook Stabil.

Fitch juga telah mengafirmasi peringkat senior tanpa jaminan Pertamina, dan peringkat program surat utang jangka menengah global senilai US$20 miliar dan surat utang senior tanpa jaminan yang ada di ‘BBB’.

Peringkat Pertamina disetarakan dengan induknya, negara Indonesia (BBB/Stabil), sejalan dengan Kriteria Pemeringkatan Entitas Terkait Pemerintah Fitch. Penyetaraan tersebut didasarkan pada kemungkinan ‘Sangat Kuat’ bahwa Pertamina akan mendapat dukungan pemerintah sebagai perusahaan minyak nasional Indonesia (NOC),” tulis Fitch dalam keterangan resmi yang dikutip, Jumat, 2 Februari 2024.

|Baca juga: Tembus Pasar Dunia, Pertamina International Shipping Buka Kantor di Singapura

Profil Kredit Standalone (SCP) Pertamina tetap berada di ‘bbb-‘, mencerminkan operasinya yang terintegrasi secara vertikal, posisi dominan di pasar energi Indonesia, dan posisi biaya yang kompetitif di segmen bisnis hulu. Namun, kekuatan tersebut dibatasi oleh risiko yang berkaitan dengan pengendalian harga eceran bahan bakar oleh pemerintah dan penerimaan kompensasi yang tepat waktu dari Pertamina atas kekurangan pemulihan akibat pembatasan harga bahan bakar.

Fitch yakin pemberlakuan undang-undang pada tahun 2022 terkait pendapatan kompensasi dan penerimaan kompensasi tepat waktu oleh Pertamina selama tahun 2022 dan 2023 berdampak positif bagi profil kreditnya. Catatan pembayaran yang konsisten dan berkelanjutan di bawah pemerintahan baru, setelah pemilu mendatang, dapat menyebabkan revisi SCP yang lebih tinggi.

Fitch memandang peran Pertamina dalam menjaga kebijakan pemerintah sebagai ‘Sangat Kuat’ karena memainkan peran penting dalam ketahanan energi nasional. Gagal bayarnya akan menggagalkan investasi besar yang direncanakan di sektor minyak dan gas Indonesia dan secara signifikan mempengaruhi ketersediaan bahan bakar di negara ini.

Kami juga menilai risiko penularan akan ‘Sangat Kuat’ jika Pertamina gagal bayar, karena konsekuensi keuangan bagi negara dan badan usaha milik negara lainnya akan sangat besar. Pertamina dianggap sebagai emiten rujukan di Indonesia.

|Baca juga: Pertamina Sukses Turunkan 729 Ribu Ton Emisi Karbon via 85 Program Desa Energi Berdikari

Fitch memperkirakan EBITDA Pertamina akan tetap kuat, didorong oleh pertumbuhan volume yang moderat baik di segmen hulu maupun hilir. Kami memperkirakan peningkatan volume produk akhir sebesar 1%-2%, didukung oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia selama empat tahun ke depan.

Di segmen hulu, Fitch memperkirakan pertumbuhan produksi akan melambat menjadi 3%-4% dalam tiga tahun ke depan, berbeda dengan pertumbuhan tahunan sebesar 8% pada tahun 2022 dan 2023 yang disebabkan oleh penambahan dan perluasan blok Rokan. Menurut pandangan kami, belanja modal hulu Pertamina harus mendukung pertumbuhan volume.

Fitch memperkirakan belanja modal Pertamina akan terus meningkat selama empat tahun ke depan (perkiraan tahun 2023: US$6,5 miliar, 2022: US$4,5 miliar) karena proyek-proyek yang sedang berjalan di segmen hulu dan hilir.

Kami memperkirakan belanja modal tahunan akan meningkat secara bertahap menjadi sekitar US$15 miliar pada tahun 2027, yang didistribusikan secara merata antara mempertahankan dan memperluas produksi dari ladang minyak dan gas Pertamina yang sudah tua, serta meningkatkan kapasitas dan kompleksitas kilangnya selama empat tahun ke depan.

Editor: Achmad Aris

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Asuransi Tri Pakarta (TRIPA) Diganjar Peringkat idA Prospek Stabil
Next Post Penumpang Angkutan Udara Alami Kenaikan pada Desember 2023

Member Login

or