Kenaikan Yield US Treasury Picu Kekhawatiran di Domestik

Media Asuransi – Kenaikan imbal hasil Treasury 10 tahun Amerika Serikat yang menyentuh level tertingginya pada 5 Maret 2021 telah memicu kekhawatiran terhadap kinerja reksa dana di Tahan Air biak yang berbasis saham maupun pendapatan tetap. 

Mengutip Infovesta Mutual Funds Update pada Senin, 8 Maret 2021, pada pekan lalu, pasar saham berhasil mencatatkan kinerja positif dimana IHSG berhasil tumbuh sebesar 0,27%. Hal ini juga terjadi pada pasar obligasi dimana Indeks Infovesta Government Bond tumbuh sebesar 0,05% dan Indeks Infovesta Corporate Bond tumbuh sebesar 0,14%. 

Baca juga: Reksadana Diproyeksikan Tumbuh di Semester Kedua 2020

Tidak berhasil mengikuti pertumbuhan di pasar saham dan obligasi, kinerja reksa dana saham dan campuran justru mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,92% dan 0,17%. Sementara itu, Reksa Dana Pendapatan Tetap ditutup flat sebesar 0,00% sedangkan Kinerja Reksa Dana Pasar Uang berhasil mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,08%

Beberapa waktu belakangan ini, Infovesta menerangkan investor global dan lokal dikhawatirkan dengan adanya kenaikan imbal hasil obligasi. Imbal Hasil Treasury 10 Tahun Amerika Serikat mengalami kenaikan di sepanjang tahun 2021 dan sempat menyentuh level tertingginya di level 1,57% pada 5 Maret 2021 atau naik sebesar 70,30% secara Year to Date (YTD). 

Selanjutnya, di Indonesia sendiri melalui Imbal hasil Obligasi Pemerintah 10 Tahun juga mengalami tren kenaikan dimana pada tanggal 23 Februari sempat menyentuh level tertinggi di sepanjang tahun 2021 di level 6,7% dan hingga 5 Maret 2021 tidak mengalami penurunan signifikan dan berada di level 6,6% atau naik 11,49% secara YTD. 

Baca juga: Tarif PPh Bunga Obligasi untuk Investor Asing Dipangkas Jadi 10 Persen

“Peningkatan imbal hasil obligasi yang terjadi mau tidak mau menekan kinerja instrumen obligasi ke level yang lebih rendah karena memicu penurunan harga obligasi yang dapat berdampak buruk terhadap kinerja reksa dana berbasis pendapatan tetap,” tulis Infovesta. 

Hal tersebut tercermin pada kinerja Infovesta 90 Fixed Income Fund Index yang tercatat -1,60% yang disebabkan oleh pelemahan kinerja obligasi baik tenor panjang melalui Infovesta Government Bond Index Long sebesar -1,29% maupun tenor pendek melalui Infovesta Government Bond Index Short sebesar – 0,55%. 

“Kecemasan akan tren kenaikan imbal hasil ini juga diperparah dengan respons The Fed yang tidak akan mengubah kebijakan moneter dalam jangka pendek. Namun, kenaikan imbal hasil obligasi ini tidak hanya menjadi momok bagi instumen investasi berbasis pendapatan tetap namun juga terhadap pasar saham.” 

Di Amerika sendiri, kenaikan imbal hasil ini memicu pelemahan signifikan kepada saham sektor teknologi atau yang termasuk growth stock karena memiliki struktur utang yang cukup tinggi. Pasalnya, kenaikan imbal hasil obligasi ini dapat memicu kenaikan bunga kredit sehingga membatasi pemulihan ekonomi di Amerika yang dapat memberikan sentimen negatif terhadap pasar saham global dan tidak terkecuali Indonesia. 

Baca juga: Dana Kelolaan Reksa Dana Sepanjang Januari 2021 Turun Tipis

Selain itu, kinerja IHSG masih akan cenderung berfluktuatif dalam jangka pendek seiring dengan sentimen negatif yang hadir seperti virus jenis Corona B117 jenis dari Inggris yang baru masuk ke Indonesia. Meskipun demikian, investor tidak perlu terlalu khawatir karena peningkatan imbal hasil treasury 10 tahun ini merupakan euphoria daripada investor untuk menarik uangnya dari obligasi negara berkembang seperti Indonesia dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang pasar obligasi Indonesia masih menarik mengingat ekspektasi kenaikan inflasi akan mereda seiring dengan rilis data tenaga kerja yang tidak sesuai dengan ekspektasi. 

Di pasar saham sendiri masih ada sentimen positif yang diharapkan memicu penguatan IHSG pada pekan ini seiring dengan disetujuinya paket stimulus Amerika Serikat sebesar US$1,9 triliun oleh senat Amerika Serikat dan juga masih ada harapan penguatan di sepanjang tahun 2021 seiring dengan eskpektasi pemulihan ekonomi. 

“Oleh karena itu, investor dapat menjadikan pelemahan pasar obligasi ini sebagai suatu momentum untuk mendapatkan harga yang lebih murah untuk reksa dana berbasis pendapatan tetap. Namun untuk reksa dana berbasis saham investor dapat wait and see dan masuk secara perlahan sentimen negatif di pasar saham sudah mulai berkurang dan mengambil posisi average down dikala reksa dana berbasis saham masih tertekan,” pungkas Infovesta. Aca