Obligasi Merdeka Copper (MDKA) Diganjar Peringkat idA

Media Asuransi – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menetapkan peringkat “idA” untuk rencana Obligasi Berkelanjutan II Tahun 2021 PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebesar maksimum Rp3,0 triliun. 

Kemarin, MDKA telah mencatatkan Obligasi Berkelanjutan II Tahap I Tahun 2021 di Bursa Efek Indonesia senilai Rp1,5 triliun yang dibagi menjadi 2 seri masing-masing Rp559,6 miliar dengan tenor 367 hari dan Rp940,4 miliar dengan tenor 3 tahun.  

Berdasarkan keterangan resmi Pefindo yang dikutip Media Asuransi, Selasa, 30 Maret 2021, dana dari obligasi tersebut akan digunakan untuk melakukan pembiayaan kembali obligasi yang akan jatuh tempo pada tahun 2021, pembiayaan belanja modal dan sebagai tambahan kebutuhan modal kerja Perusahaan. 

Baca juga: Pefindo Tegaskan Peringkat idAA+ untuk Mandiri Tunas Finance

Pefindo juga menegaskan peringkat “idA” untuk Perusahaan dan Obligasi Berkelanjutan I Tahun 2020. Prospek untuk peringkat Perusahaan adalah “stabil”. Obligor dengan peringkat idA memiliki kemampuan yang kuat dibandingkan obligor Indonesia lainnya untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya. Walaupun demikian, kemampuan obligor mungkin akan mudah terpengaruh oleh perubahan buruk keadaan dan kondisi ekonomi dibandingkan obligor dengan peringkat lebih tinggi. 

“Peringkat tersebut mencerminkan biaya tunai (cash cost) perusahaan yang rendah, potensi perolehan pendapatan yang lebih tinggi dari proyek Acid Iron Metal (AIM), serta permintaan emas yang tinggi,” tulis Pefindo. 

Baca juga: RUPST BCA Putuskan Pembagian Dividen 48 persen Laba Bersih 2020

Namun, peringkat tersebut dibatasi oleh sumber daya tambang yang terbatas, eksposur terhadap fluktuasi harga komoditas dan cuaca yang tidak menguntungkan, dan risiko pengembangan tambang di daerah baru. 

Peringkat dapat dinaikkan jika perusahaan mampu meningkatkan profil tambang dengan memperbesar cadangan emas dan tembaga serta progres perkembangan proyek AIM yang lebih baik. Hal tersebut juga harus diikuti oleh struktur permodalan yang konservatif dan perlindungan arus kas yang kuat dengan tetap mempertahankan marjin profitabilitas yang baik. 

Peringkat dapat diturunkan jika perusahaan membiayai belanja modalnya dengan utang dalam jumlah yang besar sehingga menyebabkan struktur permodalan perusahaan menjadi lebih agresif yang ditandai oleh rasio utang terhadap EBITDA lebih besar dari 3,0x secara berkelanjutan tanpa disertai oleh profil bisnis yang lebih kuat. Penurunan signifikan pada harga emas juga dapat menyebabkan penurunan peringkat karena dapat memberikan dampak negatif kepada profil keuangan perusahaan. 

Baca juga: Sumber Alfaria (AMRT) Lepas 99,96 Persen Saham Alfatrek

Sebagai tambahan, perusahaan mempunyai proyek jangka panjang yang terletak di Pani dan Banyuwangi (proyek Tembaga Tujuh Bukit) yang membutuhkan belanja modal dalam jumlah signifikan. “Kami belum mempertimbangkan rencana belanja modal dan potensi pendapatan dari proyek tersebut ke dalam proyeksi keuangan perusahaan.” 

MDKA berdiri pada tahun 2012 dan bergerak dalam kegiatan pertambangan. Pada saat ini, perusahaan mempunyai dua operasional tambang yang terletak di Tujuh Bukit, Banyuwangi untuk pertambangan emas dan Pulau Wetar, Maluku untuk pertambangan tembaga. Per 30 September 2020, pemegang saham perusahaan adalah PT Saratoga Investama Sedaya (19,13%), PT Mitra Daya Mustika (13,47%), Garibaldi Thohir (8,20%), PT Suwarna Arta Mandiri (6,33%), Pemda Kabupaten Banyuwangi (5,23%), dan lainnya termasuk publik (47,64%). Aca