Reliance Sekuritas: IHSG Berpotensi Kembali Tertekan

Media Asuransi Setelah terkoreksi cukup dalam pada perdagangan kemarin yaitu -1,35%, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak kembali tertekan.

Head of Research Equity Technical Analyst PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk Lanjar Nafi mengatakan, secara teknikal IHSG mengonfirmasi pola 2 star in the north dengan pelemahan dengan break out support rata-rata 5 hari dan mulai mendekati support rata-rata 20 dan 50 hari. 

Dia menjelaskan indikator stochastic membentuk pola dead-cross pada area overbought dengan MACD yang bergerak terkonsolidasi pada area overvalue. “Sehingga IHSG berpotensi bergerak kembali tertekan menguji support rata-rata 20 hari pada support resistance 6.248-6.321,” jelasnya melalui riset harian yang dikutip Media Asuransi, Jumat (05/03/2021). 

Menurutnya, saham-saham yang dapat dicermati secara teknikal di antaranya; AALI, ACES, ADRO, ANTM, ERAA, dan INCO.

Dia menjelaskan, kemarin IHSG (-1,35%) ditutup melemah 85,95 poin ke level 6.290,80 dengan saham-saham di sektor pertambangan (-2,87%) dan Keuangan (-1,79%) menjadi penekan pelamahan IHSG. Pelemahan ekuitas global dengan komoditas logam menjadi faktor utama. 

Baca Juga:

“Investor terpantau berhati-hati akan dampak dari volatilitas obligasi yang menyita perhatian investor untuk beralih disaat spekulasi ekuitas yang telah bubble pasca pemulihan harga tercepat dari krisis kesehatan tahun lalu,” jelasnya.

Sementara itu, mayoritas indeks saham Asia ditutup turun signifikan. Indeks NIKKEI (-2,13%), TOPIX (-1,04%), Hang Seng (-2,15%) dan CSI300 (-3,15%) turun lebih dari sepersen mengiringi penurunan kontrak berjangka AS karena investor menunggu pernyataan ketua the Fed menyusul volatilitas obligasi.

Adapun Bursa Eropa membuka perdagangan dengan melemah mendekati sepersen. Indeks Eurostoxx (-0,70%), FTSE (-1,22%), DAX (-0,58%) dan CAC (-0,45%) turun dipimpin perusahaan pertambangan karena emas bertahan di level terendah sembilan bulan dan komoditas logam yang terkoreksi. 

Kenaikan ekspektasi inflasi dunia dan biaya pinjaman jangka panjang memicu volatilitas obligasi dan meningkatkan kekhwatiran bahwa penguatan berkepanjangan pada pasar ekuitas saat ini mungkin memasuki fase jenuh. “Selanjutnya investor menanti hasil pertemuan OPEC+ dan data ekonomi AS lain yakni pesanan pabrik dan tingkat pengangguran AS.” Aca