Setahun Pandemi, Neraca Perdagangan Indonesia Surplus

Media Asuransi – Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia Februari 2021 surplus sebesar 2,0 miliar dolar AS, sedikit meningkat dari surplus bulan sebelumnya sebesar 1,96 miliar dolar AS. Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan Indonesia telah berturut-turut mengalami surplus sejak Mei 2020.

“Bank Indonesia memandang surplus neraca perdagangan tersebut berkontribusi positif dalam menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk mendukung pemulihan ekonomi,” kata Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono, dalam keterangan resmi yang dikutip Media Asuransi, Selasa, 16 Maret 2021.

Lebih lanjut Erwin menjelaskan bahwa surplus neraca perdagangan Februari 2021 dipengaruhi oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang berlanjut.

Baca juga: SURVEI BPS: Pemasaran via Online saat Pandemi Efektif Dongkrak Pendapatan

Pada Februari 2021, surplus neraca perdagangan nonmigas sebesar 2,44 miliar dolar AS, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada Januari 2021 sebesar 2,63 miliar dolar AS. Perkembangan itu dipengaruhi oleh ekspor nonmigas yang tercatat 14,40 miliar dolar AS, relatif stabil dibandingkan dengan ekspor nonmigas bulan sebelumnya sebesar 14,41 miliar dolar AS.

Ekspor sejumlah produk manufaktur, seperti besi dan baja serta kendaraan dan bagiannya, membaik setelah sempat terkoreksi pada bulan sebelumnya. Sementara itu, impor nonmigas mengalami peningkatan terutama pada kelompok barang modal, sejalan dengan aktivitas ekonomi domestik yang melanjutkan perbaikan.

Adapun, defisit neraca perdagangan migas menurun dari 0,67 miliar dolar AS pada Januari 2021 menjadi 0,44 miliar AS, dipengaruhi oleh penurunan impor migas di tengah ekspor migas yang tetap tinggi.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menjelaskan bahwa nilai ekspor Indonesia Februari 2021 mencapai US$15,27 miliar atau turun 0,19 persen dibanding ekspor Januari 2021. Sementara dibanding Februari 2020, naik 8,56 persen.

Baca juga: Neraca Dagang Indonesia Januari 2021 Surplus US$1,96 Miliar

Ekspor nonmigas Februari 2021 mencapai US$14,40 miliar, turun 0,04 persen dibanding Januari 2021. Dibanding ekspor nonmigas Februari 2020, naik 8,67 persen.

“Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Februari 2021 mencapai US$30,56 miliar atau naik 10,35 persen dibanding periode yang sama tahun 2020, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$28,81 miliar atau naik 10,52 persen,” katanya dalam jumpa pers secara daring, Senin, 15 Maret 2021.

Menurut Suhariyanto, penurunan terbesar ekspor nonmigas Februari 2021 terhadap Januari 2021 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$639,5 juta (27,11 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada besi dan baja sebesar US$240,7 juta (24,20 persen).

Sedangkan menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari– Februari 2021 naik 10,29 persen dibanding periode yang sama tahun 2020, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 8,81 persen dan ekspor hasil tambang dan lainnya naik 12,19 persen.

Ekspor nonmigas Februari 2021 terbesar adalah ke Tiongkok, yaitu US$2,95 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,86 miliar, dan Jepang US$1,20 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 41,77 persen. Sementara ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa masing-masing sebesar US$2,99 miliar dan US$1,13 miliar.

Baca juga: NH Sekuritas: Investor Cermati Rilis Data Neraca Dagang

Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Februari 2021 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$5,16 miliar (16,90 persen), diikuti Jawa Timur US$3,23 miliar (10,56 persen), dan Riau US$2,64 miliar (8,63 persen).

Suhariyanto juga menjelaskan, nilai impor Indonesia Februari 2021 mencapai US$13,26 miliar, turun 0,49 persen dibandingkan Januari 2021 atau naik 14,86 persen dibandingkan Februari 2020. Impor migas Februari 2021 senilai US$1,30 miliar, turun 15,95 persen dibandingkan Januari 2021 atau turun 25,37 persen dibandingkan Februari 2020. Impor nonmigas Februari 2021 mencapai US$11,96 miliar, naik 1,54 persen dibandingkan Januari 2021 atau naik 22,03 persen dibandingkan Februari 2020.

Penurunan impor golongan barang nonmigas terbesar Februari 2021 dibandingkan Januari 2021 adalah produk farmasi US$96,9 juta (38,03 persen). Sedangkan peningkatan terbesar adalah mesin dan perlengkapan elektrik US$172,8 juta (10,03 persen).

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Februari 2021 adalah Tiongkok US$8,06 miliar (33,95 persen), Jepang US$1,86 miliar (7,83 persen), dan Singapura US$1,31 miliar (5,53 persen). Impor nonmigas dari ASEAN US$4,41 miliar (18,57 persen) dan Uni Eropa US$1,55 miliar (6,54 persen).

Menurut golongan penggunaan barang, nilai impor Januari– Februari 2021 terhadap periode yang sama tahun sebelumnya terjadi peningkatan pada barang konsumsi US$348,5 juta (15,24 persen), bahan baku/penolong US$363,5 juta (1,87 persen), dan barang modal US$65,2 juta (1,60 persen).

“Neraca perdagangan Indonesia Februari 2021 mengalami surplus US$1,00 miliar yang berasal dari sektor nonmigas US$2,44 miliar. Sedangkan di sektor migas terjadi defisit US$0,44 miliar,” kata Suhariyanto. Edi