Media Asuransi, JAKARTA – Premier Banking Segment Head PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) Stephanie M. Kristanto menilai terdapat peluang yang bisa muncul di tengah gejolak pasar modal. Adapun bursa saham tengah terguncang usai MSCI berencana mengubah status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
“Kalau saya boleh bilang, di setiap kondisi pasar (yang sedang terguncang seperti yang terjadi sekarang ini), I think every volatility presents opportunity,” kata Stephanie, dalam Media Gathering Peluncuran OCBC Premier One, di Jakarta, Selasa, 20 Oktober 2026.
Pada kondisi pasar saham yang sedang tidak baik-baik saja seperti sekarang ini, ia menambahkan, penting bagi Relationship Manager (RM) untuk memberikan informasi yang tepat dan terkini kepada para nasabah untuk menyesuaikan portofolio investasinya.
Sebagai informasi, RM adalah seorang pegawai bank yang bertugas menjaga hubungan, mengelola, serta memberikan solusi finansial kepada nasabah penting, seperti nasabah prioritas, usaha kecil/menengah (SME), atau korporasi
“Makanya peran dari seorang RM di sini adalah memberikan informasi yang tepat dan menyesuaikannya dengan kondisi portofolio,” ujarnya.
|Baca juga: MSCI Picu Gejolak Pasar Modal RI, OCBC (NISP) Ingatkan Nasabah Evaluasi Portofolio
Terkait dengan portofolio investasi di saat pasar sedang mengalami volatilitas, dirinya menjelaskan, diperlukan strategi seperti diversifikasi dan asset allocation. Langkah tersebut menjadi penting guna menekan risiko dan memaksimalkan keuntungan di masa mendatang.
“Sebenarnya untuk portofolio mengadopsi yang namanya strategi diversifikasi atau asset allocation di mana ini bisa dikurasi sesuai dengan toleransi atau risk appetite-nya seseorang. Jadi menurut saya, setiap volatility ada opportunity. Tapi kita juga harus sesuaikan dengan mitigasi risiko,” tukasnya.
Wealth Management Advisory Head OCBC Diamond Stole tidak menampik kondisi pasar saham Indonesia sedang terguncang. Hal itu sejalan dengan rencana MSCI yang mengubah status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
“Jadi kalau bicara market, memang kita sudah perkirakan. Kalau kita lihat di sini, volatilitas (market) masih akan terjadi,” kata Diamond.
Ingatkan nasabah evaluasi portofolio
Pada kondisi ini, ia menambahkan, fokus OCBC adalah para nasabah yakni memberikan informasi relevan dan terkini untuk menyesuaikan portofolio masing-masing nasabah. Langkah itu dinilai penting guna meminimalisir kepanikan para nasabah ketika terjadi guncangan keras di pasar investasi seperti yang terjadi sekarang ini di pasar saham.
“Tentu yang paling penting kita memberikan kepada para nasabah informasi terlebih dahulu. Kita harus tahu informasi-informasi yang tadi yang terjadi, supaya tidak terjadi ‘oh saya belum tahu yang mana, saya belum tahu informasi yang ada. Saya cuman jadi panik saja’. Kita harus tahu dulu informasi-informasi itu,” ujarnya.
Sebelumnya, MSCI membuka konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Transparansi kepemilikan saham dan dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi menjadi sejumlah persoalan yang disorot dalam pembahasan tersebut.
|Baca juga: DAI Sebut Industri Asuransi Masuk Fase Reset, Ini 3 Fokus Pembenahannya
|Baca juga: Industri Asuransi Perlu Benahi Proses Klaim Kesehatan Lewat Sistem Digital
Dalam klasifikasi MSCI, Standalone Market merupakan kategori bagi pasar yang menghadapi hambatan signifikan bagi investor internasional. Negara dalam kategori ini tidak dimasukkan ke dalam indeks MSCI untuk pasar berkembang maupun pasar frontier.
Usulan tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati pelaku pasar, termasuk industri asuransi, dalam menentukan strategi penempatan investasi. Namun, OJK belum memastikan apakah perkembangan tersebut akan mendorong perubahan alokasi investasi saham perusahaan asuransi.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

