1
1

4 Tantangan Literasi Asuransi di Kalangan Mahasiswa

Ilustrasi. | Foto: freepick

Media Asuransi, JAKARTA – Survei terbaru yang dilakukan oleh IFG Progress mengungkap bahwa literasi asuransi di kalangan mahasiswa masuk dalam kategori moderate literate dengan tingkat persentase sebesar 79,9%.

Namun, masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengembangan literasi asuransi di kalangan mahasiswa. Berdasar Economic Bulletin-Issue 47 bertajuk Insurance Literacy Among the Young in Indonesia: Result from IFG Progress Insurance Literacy Survey, yang dikutip, Kamis, 11 April 2024, terdapat 4 tantangan dalam pengembangan literasi asuransi di tingkat mahasiswa di Indonesia.

Pertama, lack of knowledge. tingkat literasi atau pengetahuan terkait industri maupun produk asuransi di Indonesia sudah menjadi tantangan yang cukup substantial yang menghambat pengembangan industri asuransi di Indonesia. Kondisi tersebut masih ditemukan di tingkat mahasiswa di Indonesia melalui survei IFG Progress.

|Baca juga: Rendahnya Literasi Asuransi Pendidikan Buat Mahasiswa Terjebak Pinjol untuk Bayar Kuliah

Dari penelusuran hasil survei didapatkan bahwa masih banyak responden yang memiliki kesalahpahaman terutama terkait konsep, prinsip, dan manfaat asuransi; fitur dan karakteristik produk asuransi; serta potensi eksposur risiko dari memiliki produk asuransi.

Aspek pengetahuan menjadi aspek yang sangat penting karena memengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan asuransi dan berkolerasi positif dengan tingkat inklusi asuransi (Tennyson, 2011). “Kurangnya pengetahuan dapat menyebabkan kurangnya kepercayaan, terutama ketika masyarakat menerima informasi atau konten media lain yang memperkuat persepsi mereka. Memiliki pemahaman, pengetahuan, informasi, dan konsep asuransi yang mampu diterapkan saat mempertimbangkan pembelian produk asuransi menjadi esensial untuk dimiliki.”

Kedua, lower understanding of perceived product risk of insurance. Tingkat pemahaman terhadap risiko dari kepemilikan produk asuransi (perceived product risk) juga ditemukan relatif rendah di tingkat mahasiswa di Indonesia.

Sebagian besar responden cenderung memiliki perasaan khawatir terhadap kepemilikan produk asuransi seperti khawatir asuransi akan menimbulkan masalah yang tidak perlu pada saat melakukan klaim serta adanya kekhawatiran akan kegagalan mendapatkan hasil yang diinginkan dari asuransi.

Menurut IFG Progress, aspek ini menjadi pekerjaan rumah yang penting bagi seluruh stakeholders dalam ekosistem industri asuransi untuk bekerja sama dalam mewujudkan ekosistem industri asuransi yang kredibel dan dapat diandalkan oleh pemegang polis.

|Baca juga: Membangun Literasi Asuransi dengan Edukasi dan Aksi

“Kompleksitas produk dan layanan keuangan, serta risiko yang melekat dalam industri asuransi (termasuk produk, penyedia, dan perwakilan penjualan), menjadi penting bagi individu untuk memahami risiko dan ketidakpastian yang terkait dengan keputusan mereka (Lusardi dan Mitchell, 2014).”

Ketiga, lower understanding of perceived usefulness of insurance. Tingkat pemahaman terhadap manfaat dan kegunaan asuransi juga terpantau menjadi tantangan bagi industri asuransi. Dari hasil survei IFG Progress, 43% responden setuju dan 15% sangat setuju bahwa menggunakan polis asuransi kesehatan akan meningkatkan kemampuan tanggungannya untuk memenuhi kebutuhan keuangan mereka.

“Temuan tersebut mengindikasikan bahwa kegunaan asuransi masih banyak dianggap sebagai tabungan atau penyimpan kekayaan yang dapat diambil sewaktu-waktu untuk memenuhi kebutuhan keuangan.”

Keempat, moderately trust of insurance company. Aspek kepercayaan terhadap industri asuransi turut menjadi salah satu aspek yang menantang terutama di industri asuransi Indonesia. Dalam survei literasi dan inklusi keuangan OJK tahun 2019, didapatkan temuan bahwa keyakinan terhadap perusahaan perasuransian di Indonesia tercatat hanya 10,4% dari total responden yang diobservasi.

Temuan tersebut juga sejalan dengan temuan dalam survei IFG Progress yang menemukan bahwa masih banyak responden yang cenderung memberikan tanggapan yang netral terkait dengan kepercayaan terhadap perusahaan asuransi. “Driver et al. (2018) dalam studinya di Australia menemukan bahwa kurangnya kepercayaan terhadap asuransi menjadi penyebab melemahnya kesediaan masyarakat untuk mengambil atau membeli asuransi untuk pribadi.”

Editor: Achmad Aris

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Tol Bocimi Ruas Cigombong-Cibadak Siap Difungsikan Mulai Kamis, 11 April 2024
Next Post Diskusi Inovasi Instrumen Pendanaan Hijau untuk UMKM Berkelanjutan

Member Login

or