1
1

Wakil Rektor Universitas Paramadina: Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Belum Sepenuhnya Terasa di Masyarakat

Wakil Rektor Universitas Paramadina, Handi Risza. | Foto: Universitas Paramadina

Media Asuransi, JAKARTA – Wakil Rektor Universitas Paramadina, Handi Risza, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup tinggi pada triwulan I/2026, menunjukkan pemulihan ekonomi nasional yang cukup kuat. Walaupun demikian, dampaknya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat secara merata.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia pada triwulan I/2026 tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 4,87 persen yoy. Secara nominal, produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada Triwulan I 2026 mencapai Rp6.187,2 triliun atas dasar harga berlaku (ADHB), sedangkan atas dasar harga konstan (ADHK) sebesar Rp3.447,7 triliun.

Menurut Handi, pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini tidak dapat dilepaskan dari momentum bulan suci Ramadan dan perayaan Idulfitri yang berlangsung sejak pertengahan Februari hingga pertengahan Maret 2026. Momentum tersebut mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga, terutama pada sektor makanan, minuman, pakaian, hingga akomodasi dan transportasi.

|Baca juga: DBS Research Soroti Risiko Tekanan Rupiah terhadap Prospek Pertumbuhan Ekonomi RI

“Pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) yang kemudian dibelanjakan untuk makanan, minuman, pakaian, dan akomodasi. Hal ini menyebabkan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen dan menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 54,36 persen,” ujar Handi dalam keterangan resmi yang dikutip Jumat, 15 Mei 2026.

Dia menjelaskan, peningkatan mobilitas masyarakat selama libur lebaran turut mendongkrak pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan sebesar 8,04 persen. Selain itu, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh hingga 13,14 persen.

Selain faktor musiman, Handi menilai realisasi berbagai program pemerintah juga ikut menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembayaran gaji ke-14 atau THR ASN, pengangkatan ASN baru, hingga peningkatan belanja barang dan jasa pemerintah dinilai memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi domestik.

|Baca juga: APBN 2027 Harus Perkuat Ketahanan Ekonomi dan Kurangi Ketimpangan Sosial

“Faktor pendorong lainnya pencapaian pertumbuhan ekonomi pada triwulan I/2026 adalah realisasi program pemerintah, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG), yang berhasil mendorong konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekonomi sektor terkait,” katanya.

Meski demikian, Handi mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi pada triwulan I/2026 juga dipengaruhi oleh efek basis rendah (low base effect) dari pertumbuhan tahun sebelumnya yang relatif lebih rendah.

Dia juga menilai pertumbuhan ekonomi yang tinggi saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil masyarakat. Pertumbuhan dinilai masih terkonsentrasi pada sektor-sektor tertentu seperti manufaktur, transportasi, dan pergudangan, sehingga manfaatnya belum tersebar merata. “Meskipun pencapaian angka pertumbuhan tertinggi dalam 5 tahun terakhir dan salah satu yang tertinggi di G20, tetapi pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya terasa di lapangan,” ujarnya.

Editor: S. Edi Santosa

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Portrayal of Women Leadership in the Insurance Industry

Member Login

or