Volatilitas Tinggi Bermain Aman di Pasar Surat Utang

Meski sempat menunjukkan tren pemulihan, pasar surat utang Tanah Air masih bergerak dengan volatilitas tinggi seiring dengan sentimen negatif yang berseliweran baik dari domestik maupun global. Sempat membaik pada pekan pertama Februari 2021, tetapi performa pasar surat utang kembali negatif pada pekan ketiga Februari 2021 akibat sentimen dari dalam negeri dan luar negeri.

Dari dalam negeri, pelonggaran suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) ke level 3,50 persen dinilai menjadi indikasi perlambatan pemulihan ekonomi Indonesia pada 2021. Terlebih, BI turut merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2021 menjadi 4,3 persen-5,3 persen. Di sisi lain, sentimen negatif juga muncul dari rilis data neraca perdagangan Indonesia yang realisasinya masih di bawah konsensus dan menyempitnya surplus transaksi berjalan kuartal IV/2020 menjadi 0,3 persen dari kuartal sebelumnya 0,4 persen.

Sementara itu dari luar negeri, sentimen negatif berasal dari berlanjutnya tren kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun yang menyentuh level tertinggi sejak setahun terakhir. Peningkatan yield obligasi pemerintah AS tersebut berpotensi memicu terjadinya capital outflow sehingga dapat menggoncang pasar obligasi dalam negeri.

Mengutip data Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), performa pasar obligasi pemerintah pada tahun 2020 dari sisi total return lebih baik dibandingkan dengan 2019, sedangkan untuk pasar obligasi korporasi kinerja total return-nya pada tahun 2020 lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2019. (lihat tabel)

Tabel Capital-61

Pengamat Pasar Modal, Siswa Rizali, mengatakan bahwa performa pasar obligasi pada tahun ini akan sulit menandingi kinerja pada tahun 2020 karena prospek perbaikan kondisi fundamental Indonesia masih terbatas. “Meski ekonomi membaik, beban utang, pengangguran, kemiskinan, dan kebangkrutan usaha sudah semakin kronis. Yield awal tahun 2020 saja di 7,1 persen, sedangkan awal tahun ini di 6 persen,” katanya kepada Media Asuransi, belum lama ini.

Dari eksternal, sambungnya, harapan pemulihan ekonomi Amerika menyebabkan imbal hasil US Treasury naik sehingga akan mendorong global yield, termasuk Indonesia juga akan naik. Kenaikan yield AS Treasury yang cepat akan memunculkan risiko capital outflow yang berpotensi menekan pasar obligasi dalam negeri. “Saat ini investor asing masih tertarik dengan imbal hasil Indonesia yang sudah relatif naik banyak ke 6,7 persen, tapi ketika risiko nilai tukar terjadi lagi, maka asing akan hatihati atau keluar lagi,” jelas Siswa.

Hingga akhir tahun 2021, dia memperkirakan yield obligasi negara dalam tren naik dengan perincian 6 persen untuk tenor 5 tahun, 7 persen untuk tenor 10 tahun, dan 7,4 persen untuk tenor 20 tahun. Dalam situasi yang masih volatil tersebut, dia menyarankan kepada perusahaan asuransi untuk selektif dalam penempatan investasinya di pasar obligasi dengan mengoleksi obligasi korporasi dengan rating bagus yaitu mulai A+ ke atas (AA, AAA). “Jadi dapat credit risk pick up. Bila yield SUN (Surat Utang Negara) di 7 persen, baru akumulasi lebih agresif dengan harapan pemulihan.”

Selain obligasi, sambungnya, perusahaan asuransi dapat menempatkan sebagian investasinya di pasar saham dengan mengoleksi saham- saham berkualitas baik yang memiliki yield tinggi seperti ASII, TLKM, INDF, dan INTP.

Khusus untuk perusahaan asuransi jiwa, Siswa merekomendasikan untuk masuk pada obligasi korporasi dengan tenor pendek, sedangkan keperluan likuiditas dijaga dengan arus kupon ditambah obligasi yang jatuh tempo. Adapun untuk asuransi umum disarankan fokus ke deposito dan obligasi korporasi mengingat pasar saham sudah lama konsolidasi dan beberapa kali diuji dengan koreksi besar dalam 5 tahun terakhir sehingga memiliki pondasi reli jangka panjang yang sangat baik. “Oleh karena itu, asuransi kerugian bisa menyisihkan 3 persen hingga 4 persen investasinya untuk saham big cap kualitas bagus dengan dividen tinggi,” ujarnya.

Associate Director Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto mengatakan, pasar obligasi Indonesia masih memiliki prospek yang bagus meski saat ini bergerak volatil. Menurutnya, obligasi milik pemerintah Indonesia selama ini terbukti memiliki ketahanan baik dalam menghadapi setiap gejolak sehingga dapat recovery dengan baik. “Pasar sangat menunggu efektivitas vaksinasi dan menurunnya perkembangan kasus Covid-19,” jelasnya.

Di tengah situasi volatil ini, Ramdhan merekomendasikan kepada perusahaan asuransi untuk mengoleksi SUN menengah panjang karena yield yang lebih tinggi dan memiliki potensi capital gain yang lebih besar. Dia memperkirakan yield SUN tenor 10 tahun akan berada pada level 6 persen pada akhir tahun 2021. “Untuk obligasi korporasi, investor bisa memilih perusahaan dengan rating dan kinerja bagus karena beberapa emiten terdampak langsung dan tidak langsung akibat pandemi,” jelasnya.

Siswa menambahkan bahwa selain bermain di pasar sekunder, perusahaan asuransi juga dapat masuk di pasar perdana. “Kedua market sama peluangnya. Di primary biasanya harga lebih menarik, sedangkan bila pasar bergejolak, peluang dapat barang murah ada di secondary market,” tambahnya.

Emisi Marak
Kondisi pasar yang masih volatil ini ternyata tidak menyurutkan minat perusahaan untuk menerbitkan surat utang baik untuk keperluan ekspansi maupun refinancing. Mengutip data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga 22 Februari 2021 tercatat sebanyak 11 emisi obligasi dari 10 emiten dengan nilai total mencapai Rp6,84 triliun. Angka tersebut menggenapi total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI menjadi 475 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp428,21 triliun dan 47,5 juta Dollar AS.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan optimismenya bahwa pasar obligasi dan sukuk korporasi pada tahun ini akan kembali semarak setelah sempat sepi pada tahun 2020 karena pandemi Covid-19. Menurutnya, ada empat faktor yang menjadi katalis pemulihan pasar surat utang Tanah Air. Pertama, kebijakan moneter dan fiskal yang akomodatif yakni tren suku bunga rendah akan dipertahankan sehingga cost of fund emisi obligasi menjadi murah.

Kedua, momentum prospek pemulihan ekonomi 2021 yang akan membuat perusahaan cenderung mencari dana untuk kebutuhan ekspansi usaha yang sempat tertunda akibat pandemi. Kebutuhan pencarian dana segar juga berasal dari refinancing obligasi atau sukuk jatuh tempo. Ketiga, adanya stimulus dari Bank Indonesia yang meningkatkan likuiditas di pasar keuangan sehingga penempatan dana perbankan di pasar obligasi diperkirakan meningkat. Keempat, potensi capital inflow akibat dari tren pelemahan dolar AS di tengah kebijakan pemerintah AS yang akomoditif. Pasalnya, investor asing akan cenderung masuk ke negara yang menawarkan yield obligasi tinggi.

Hingga 16 Februari 2021, Nyoman mengungkapkan pihaknya telah mengantongi rencana penerbitan obligasi dan sukuk sebanyak 10 emisi dari 8 perusahaan yang terdiri dari 3 emisi sukuk dan 7 emisi obligasi dengan total emisi sebesar Rp10,5 triliun.

Sementara itu, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan surat utang (obligasi, MTN, dan EBA) pada tahun 2021 bakal mencapai Rp140,77 triliun, seiring dengan jumlah surat utang jatuh tempo pada tahun ini yang mencapai Rp121 triliun. Mayoritas surat utang akan jatuh tempo pada kuartal III dan IV. Angka perkiraan emisi tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan realisasi penerbitan surat utang pada tahun 2020 yang hanya Rp96, 6 triliun yang terdiri dari obligasi Rp80,05 triliun, sukuk Rp7,89 triliun, dan MTN sebesar Rp6,75 triliun.

Hingga 11 Januari 2021, Pefindo telah mengantongi mandat penerbitan surat utang sebesar Rp33,24 triliun yang berasal dari 34 perusahaan. Dari nilai tersebut di antaranya sebesar Rp6,9 triliun merupakan obligasi, sebesar Rp6,5 triliun merupakan sukuk, dan sebesar Rp9,63 triliun merupakan MTN.

Analis Pefindo, Niken Indriarsih, meramalkan penerbitan surat utang pada tahun ini akan semarak pada semester I/2021 seiring dengan mayoritas jatuh tempo surat utang pada semester II/2021. Di sisi lain, jelasnya, secara historis penerbitan surat utang biasanya ramai pada kuartal II. Achmad Aris