1
1

Mengenal Gaya Kepemimpinan Narsistik dan Dampaknya bagi Tim

Ilustrasi. | Foto: Magnific

Media Asuransi, JAKARTA – Kepemimpinan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi keberhasilan sebuah tim. Sebaliknya, pola kepemimpinan yang tidak berjalan efektif dapat mengganggu hubungan, komunikasi, dan kerja sama di dalam tim.

Salah satu gaya yang banyak mendapat perhatian adalah gaya kepemimpinan narsistik atau kepemimpinan narsistik. Gaya ini menggambarkan pemimpin yang memiliki karakter berupa kebutuhan yang tinggi untuk mendapatkan pengakuan, merasa lebih unggul dibandingkan dengan orang lain, serta memiliki empati yang rendah.

Mengutip buletin.k-pin.org, Sabtu, 26 September 2026, dalam praktiknya, pemimpin dengan karakter tersebut dapat lebih mengutamakan kepentingan dan pencapaian pribadi daripada kebutuhan bersama. Karena itu, gaya kepemimpinan narsistik menarik untuk dilihat dari pengaruhnya terhadap dinamika tim, baik dari sisi positif maupun negatif.

Karakteristik gaya kepemimpinan narsistik

Pemimpin narsistik umumnya ditandai dengan ego yang kuat, rendahnya empati, kecenderungan memanipulasi, serta perhatian besar terhadap citra diri. Fokus mereka sering tertuju pada pencapaian pribadi sehingga kepentingan tim dapat berada di posisi kedua.

Kondisi tersebut juga dapat membuat mereka kesulitan memahami kebutuhan maupun perasaan anggota tim dan akhirnya menghambat terbentuknya hubungan interpersonal yang sehat. Dalam mempertahankan posisi atau memperoleh keuntungan tertentu, pemimpin narsistik dapat menggunakan berbagai bentuk perilaku manipulatif.

|Baca juga: Pemimpin dalam Islam Dituntut Adil dan Amanah, Ini Ancaman bagi Pemimpin yang Zalim

|Baca juga: 8 Kesalahan yang Membuat Pemimpin Tidak Efektif

Mereka juga sangat memperhatikan bagaimana dirinya dipandang oleh orang lain. Akibatnya, keputusan yang diambil terkadang lebih diarahkan untuk membangun citra positif, meskipun keputusan tersebut berpotensi memberikan dampak kurang baik bagi tim.

Ego yang tinggi juga menjadi salah satu unsur utama dalam kepemimpinan narsistik. Pemimpin dengan ego berlebihan cenderung menganggap pendapat dan keputusannya sebagai yang paling tepat. Sikap tersebut dapat membuat mereka sulit menerima kritik maupun masukan dari anggota tim.

Judge et al. (2006) menemukan bahwa ego yang tinggi dalam kepemimpinan dapat berkaitan dengan perilaku otoriter, sehingga kesempatan anggota tim untuk terlibat dalam pengambilan keputusan menjadi lebih terbatas.

Pengaruh negatif terhadap dinamika tim

Dampak negatif kepemimpinan narsistik dapat menjadi lebih besar, terutama jika berlangsung dalam jangka panjang. Ketika pemimpin terlalu berfokus pada kepentingan pribadi dan menggunakan manipulasi dalam hubungan kerja, kepercayaan antara pemimpin dan anggota tim dapat melemah.

Pemimpin narsistik juga dapat menciptakan persaingan internal dengan membandingkan anggota tim secara berlebihan atau tidak sehat. Situasi itu berpotensi memunculkan ketegangan dan membuat lingkungan kerja menjadi kurang harmonis. Rendahnya perhatian terhadap kebutuhan anggota tim juga dapat menghambat kerja sama.

|Baca juga: Dari Beban Kerja hingga Lingkungan, Ini Penyebab Karyawan Memilih Resign

|Baca juga: Kenali Toxic Leadership: Ciri, Dampak, dan Penyebab Bos yang Merusak Tim!

Ekspektasi yang tinggi tanpa diimbangi dukungan yang memadai dapat meningkatkan tekanan, stres, dan kelelahan pada anggota tim. Sementara itu, keputusan yang lebih mengutamakan pencitraan dapat mengorbankan keberlanjutan serta perkembangan tim dalam jangka panjang (Nevicka et al., 2011).

Masalah lainnya muncul ketika ego yang besar membuat pemimpin sulit menerima kritik. Bahkan ketika keputusan yang diambil menunjukkan hasil yang kurang efektif, mereka dapat tetap mempertahankan pandangannya.

Kernis (2003) menjelaskan bahwa ego yang tidak terkendali dapat menghambat kemampuan melakukan refleksi diri. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat memperburuk dinamika internal dan menurunkan kinerja bersama.

Temuan Braun et al. (2016) juga menunjukkan adanya hubungan antara kepemimpinan narsistik dan tingkat inovasi tim yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa dominasi pemimpin dan rendahnya keterbukaan terhadap masukan dapat menjadi hambatan bagi munculnya gagasan baru dalam tim.

Strategi untuk mengelola gaya kepemimpinan narsistik

Meskipun dapat menimbulkan berbagai persoalan, gaya kepemimpinan narsistik tetap dapat dikelola melalui sejumlah pendekatan. Salah satunya dengan membangun struktur organisasi dan tim yang kuat sehingga proses pengambilan keputusan tidak sepenuhnya berada di tangan pemimpin.

Pemberian umpan balik secara konstruktif juga diperlukan untuk membantu pemimpin memahami dampak perilakunya terhadap anggota tim. Di sisi lain, organisasi dapat membangun budaya kerja yang lebih inklusif dengan memberikan ruang yang lebih besar kepada anggota tim untuk menyampaikan pendapat dan ikut terlibat dalam pengambilan keputusan.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post IHSG Ditutup Melemah di Akhir Pekan

Member Login

or