Media Asuransi, JAKARTA – Kepemimpinan dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan kekuasaan, tetapi juga amanah dan tanggung jawab terhadap orang yang dipimpin. Seorang pemimpin dituntut memiliki moral, akhlak, dan kemampuan yang memadai serta menjalankan kepemimpinannya secara adil dan jujur.
Pemimpin juga tidak diperbolehkan bertindak semena-mena atau merugikan masyarakat. Islam memberikan peringatan keras terhadap pemimpin yang melakukan kezaliman dan mengabaikan kepentingan orang yang dipimpinnya.
Merujuk laman Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Sabtu, 12 September 2026, disebutkan dalam ajaran Islam setiap orang pada dasarnya merupakan pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Karena itu, tanggung jawab tersebut tidak hanya berlaku bagi pemimpin negara, tetapi juga pemimpin perusahaan, masyarakat, hingga keluarga. Seorang pemimpin juga dipandang sebagai pelayan bagi orang yang dipimpinnya.
Prinsip tersebut tercermin dalam ungkapan Sayyid al-Qawm khaadimuhu, yang berarti pemimpin suatu kaum merupakan pelayan bagi kaumnya. Atas dasar itu, setiap kebijakan yang diambil pemimpin seharusnya berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Pemimpin yang menyalahgunakan amanah dan melakukan kezaliman disebut menghadapi konsekuensi berat dalam ajaran Islam. Islam juga memberikan perhatian terhadap praktik suap dan korupsi.
|Baca juga: Dari Beban Kerja hingga Lingkungan, Ini Penyebab Karyawan Memilih Resign
|Baca juga: Kenali Toxic Leadership: Ciri, Dampak, dan Penyebab Bos yang Merusak Tim!
Tindakan tersebut dipandang sebagai perbuatan yang dilarang karena dapat merusak keadilan dan merugikan pihak lain. Rasulullah SAW bahkan memberikan peringatan terhadap pihak yang memberi maupun menerima suap dalam suatu perkara.
Ancaman dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an memberikan peringatan mengenai konsekuensi bagi orang yang melakukan kezaliman. Allah SWT berfirman dalam QS Asysyura: 42, “Sesungguhnya, dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.”
Ayat tersebut menegaskan kezaliman terhadap manusia dan tindakan melampaui batas tanpa hak merupakan perbuatan yang memiliki konsekuensi berat.
Peringatan serupa juga disampaikan Rasulullah SAW terhadap orang yang mendukung pemimpin zalim. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa orang yang membenarkan kebohongan dan mendukung kezaliman pemimpin tidak termasuk golongan Rasulullah SAW.
Al-Qur’an juga menjelaskan kezaliman dapat membawa dampak luas terhadap masyarakat. Dalam QS Al-Qashash ayat 59 disebutkan bahwa Allah SWT tidak membinasakan suatu kota sebelum mengutus rasul untuk membacakan ayat-ayat-Nya kepada penduduknya, dan pembinasaan terjadi ketika penduduknya berada dalam keadaan zalim.
Dengan demikian, kepemimpinan yang tidak adil tidak hanya berdampak kepada pemimpin, tetapi juga dapat merugikan masyarakat yang berada di bawah kepemimpinannya.
Cara menjadi pemimpin yang adil dalam Islam
Kepemimpinan yang adil dalam Islam bertumpu pada ketakwaan, kejujuran, amanah, dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat. Pemimpin dituntut menjalankan tugas sesuai dengan nilai-nilai agama serta tidak menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.
Pemimpin juga harus mampu menempatkan dirinya sebagai pelayan masyarakat, bukan sekadar sebagai penguasa. Setiap keputusan perlu mempertimbangkan kepentingan orang yang dipimpin dan dibuat dengan mengedepankan prinsip keadilan.
Selain itu, pemimpin dianjurkan memperhatikan kesejahteraan masyarakat, melibatkan pihak yang memiliki keahlian dalam mengambil keputusan, serta menjadi teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya.
Dengan prinsip tersebut, kepemimpinan dalam Islam tidak semata-mata dipandang sebagai jabatan atau kekuasaan. Kepemimpinan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil, sejahtera, dan bermartabat.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
