Koleksi Diorama dan ‘Mainan Anak’, Ada Nilai Investasi dan Dapat Diwariskan

Hobi, selain dapat memberikan keseimbangan dalam hidup, juga memberikan sebuah kesenangan. Lebih jauh dari itu, sebuah hobi juga bisa memiliki value yang besar karena dapat dijadikan sebagai investasi bahkan warisan yang tidak ternilai bagi keluarga. Apa jadinya jika eksekutif mengoleksi berbagai karakter ‘mainan anak’ dan diorama? Tentu merupakan hal yang unik. Bahkan saking ‘gilanya’ dengan hobi ini hingga dibuatkan diorama dengan ukuran jumbo.

Salah satu eksekutif yang memiliki hobi mengoleksi diorama dengan berbagai karakter, adalah Presiden Direktur PT Synergy Risk Management Consultants (SYNERGY), Hedi Hudayana. Kegemarannya terhadap diorama bermula dari kebiasaanya membaca buku sejarah, komik, hingga nonton film. Da bahkan memiliki koleksi buku sejarah, komik hingga film cukup banyak.

Dalam perjalanannya, Hedi menemukan sebuah karakter atau action figure dari sebuah film dan mulai mengumpulkannya. Keseriusannya mengoleksi baru dilakukan tahun 1990-an. Alasannya, tidak banyak produk action figure dari buku sejarah, komik, hingga film yang masuk ke Indonesia. Kalau pun ada hanya terbatas diperoleh di mal-mal besar.

“Pertengahan tahun 90-an, saat sudah bekerja saya mulai mengoleksi seri-seri action figure seperti line film dari Disney, Marvel, DC, dan ada karakter- karakter lain dari komik atau buku sejarah. Dalam perjalanannya, berbagai action figure mulai merambah pasar ritel di Indonesia, seperti Alien, Predator, Star Wars, Fantastic Four, dan film lainnya.

Hedi mengaku semua koleksi yang dikumpulkan merupakan sebuah pengejawantahan dari kegemarannya membaca buku, komik dan film yang dikoleksinya dan diaplikasikan ke dalam sebuah diorama. Menurutnya, diorama mampu menerjemahkan sejarah atau jalan cerita yang tertuang dalam buku sejarah, komik atau film melalui action figure. Kini ribuan koleksi action figure-nya dipajang dalam lemari khusus dan dalam diorama.

Diorama yang dibuatnya disusun berdasarkan sejarah tertentu. Misalnya sejarah Perang Dunia I dan Perang Dunia II, Perang Napoleon, perang penjajahan Jepang di Indonesia, Perang di Rusia, Perang Saudara di Amerika, dan masih banyak lainnya.

Dari ribuan koleksinya, sebagian besar dari komik Amerika dan Jepang. Tapi bukan berarti dia tidak memiliki komik dan action figure Indonesia. “Saya juga koleksi komik dan action figure superhero asli Indonesia seperti Gundala, Godam Rama (Superman Indonesia), Maza dan ada juga tokoh silat si Buta dari Goa Hantu, si Jampang, dan lainnya. Memang karakter mainan di Indonesia tidak diproduksi seperti di luar negeri, sehingga koleksi yang dimiliki para kolektor lebih banyak pesanan para seniman atau produksi hand made,” tuturnya kepada Media Asuransi.

Saat ini diorama dan miniatur sejarah perang dunia, dia tempatkan dalam sebuah ruangan khusus sebab koleksi diorama memiliki value sangat tinggi. Terlebih, pada line figure tertentu selain sudah langka juga out of stock dan tidak diproduksi lagi sehingga memiliki harga yang tinggi. “Ada banyak item yang sudah rare dan out of stock sehingga harganya naik. Awalnya kita beli misalkan Rp300.000–Rp400.000, saat ini bisa lebih dari Rp1 juta,” ungkap Hedi.

Saat ini, diakui Hedi, rumahnya sudah seperti museum. Hal ini dikarenakan di setiap sudut rumah dipajang puluhan diorama koleksinya. “Sekarang rumah saya seperti museum, mungkin someday bisa saya jadikan museum-museum kecil atau kafe, dimana para pengunjung bisa menikmati koleksi yang saya miliki. Mungkin nanti kalau sudah pensiun kerja,” harapnya.

Kegemaran serupa juga dimiliki oleh Corporate Strategic Planning Group Head PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance), Sandy Trilaksono (50 tahun). Menurut penuturan Secky panggilan akrabnya, hobi ini terinspirasi saat melakukan perjalanan di Eropa melihat sebuah toko yang memajang beragam diecast mobil dengan sangat apik. “Saya dulu ingin jadi pembalap tapi tidak kesampaian. Akhirnya mengoleksi diecast yang BMT Series (mobil balap) dikumpulkan satu demi satu,” kata Secky kepada Media Asuransi barubaru ini.

Setelah sekian lama koleksinya bertambah banyak, Secky tertantang untuk membuat sebuah diorama yang merefleksikan sirkuit balap. Diorama Sirkuit merupakan diorama pertamanya dan pernah dipilih menjadi cover majalah Diecast.

Secky bercerita, bergabung dengan sesama penyuka BMT Series memberikan semangat lebih untuk menambah ragam koleksi BMT Series, mulai dari Mercy, BMW dan Audi. Terutama fokus ke Europe Cars. “Yang saya beli ‘ngikutin tahunnya yang menang dalam setiap event. Lumayan juga harganya, tahun 2016 harganya Rp1 juta. Ada juga Rp600.000-Rp700.000, tergantung pilihan masing-masing,” katanya.

Dari koleksi BMT Series yang sudah mencapai ratusan, rasa bosan masih melingkupi, hingga akhirnya pindah ke ‘mainan’ diecast pabrikan Jada Toys seperti mobil Blown Engine (BE) skala 1:24, seperti Jada Collection, Jada Truck, dan Fasion Courious. “Koleksi BE jenis ini sudah jarang, rare, dan susah dicari. Itu tantangannya. Saya itu suka something creative. Karena saya ingin sesuatu yang different,” ujarnya.

Rasa bosan terus menghantuinya untuk melakukan hal yang berbeda. Ia pun membuat diorama yang diberi tema Vespa Station dan koleksinya sudah lebih dari 40 unit vespa. Setelah itu, tertarik mengoleksi diecast figure Anime.

Kini Secky telah memiliki raman seri dari figure anime asal Jepang lebih dari 50 koleksi. “Dari mulai baca komik sampai filmnya akhirnya keranjingan sama Crows Series bentuk Anime Figure. Tiap bulan saya beli semua karakter yang ada. Sampai akhirnya membuat diorama dengan detail lebih rumit dan menyerupai kenyataan dalam komik atau filmnya,” ungkapnya.

Hal menarik dari seluruh diorama yang dimiliki, Secky mengaku adalah detail dari setiap tampilan atau tema yang disampaikan dalam diorama tersebut, memberikan kepuasan tersendiri. “Saat ini memiliki 8-9 unit diorama. Ada yang saya namakan the war of mutan, yaitu perang tentara zaman Romawi dengan Mutan. Saya buat dalam ukuran 1,5 meter x 1 meter,” paparnya.

Menurut Secky, hobi ini selain untuk kesenangan juga menjadi salah satu investasi bahkan dapat diwariskan. Dia juga melaporkan hobinya ke LHKPN, karena sebagai salah seorang penyelenggara negara dan memiliki kewajiban untuk melaporkannya. “Walaupun ini hanya mainan, but this is investing value. Orang bisa jual dan ada komunitas market-nya,” tuturnya.

Secky memberi contoh hobi ini dapat  dijadikan sebagai investasi di masa depan. Dulu saat beli BMT Series harga Rp600.000-an, sekarang sudah di atas Rp1 juta. Minimum semua item tersebut kenaikannya lebih dari 50 persen tergantung kondisinya. Apalagi yang sudah rare item dan susah didapat. “Saya punya BMT Series Volvo 850 di riddle seri satu dan dua. Dulu beli Rp1,5 juta, sekarang saya lihat di eBay sudah Rp3 jutaan. Bahkan yang seri S40 waktu beli Rp1 jutaan, sekarang sudah lebih dari Rp2 juta. Ada satu seri dari Mercedes Benz SE55 tahun lama dan tahun baru, itu saya punya dan sudah jarang banget ada. Saya beli Rp2 juta sekarang sudah di atas Rp5 jutaan. Dan, tidak ada yang mau jual,” paparnya.

Secky pun mensyukuri atas pencapaian sekarang. “Mimpi saya dimulai dari sebuah mainan, Alhamdulillah sekarang sudah punya mainan, kalau saya jual mungkin value-nya sudah jauh dari investasi yang saya gunakan,” pungkasnya. Caca Casriwan