1
1

Eastspring Investments Indonesia: IHSG Melemah di Tengah Reshuffle Kabinet dan Tekanan Global

Ilustrasi pergerakan reksa dana. | Foto: Eastspring Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Pasar saham Indonesia kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026, di tengah sejumlah perkembangan domestik dan global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah -1,02 persen atau -61,64 poin ke level 6.009,50. Pelemahan indeks terutama dipicu oleh tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti GOTO (-12,50 persen), BBCA (-1,23 persen), BRMS (-6,78 persen), AMMN (-3,10 persen), dan BBRI (-1,27 persen). Sejalan dengan sentimen risk-off, rupiah melemah 0,40 persen ke level Rp17,966 per dolar AS. P

Dikutip dari Spring Flash oleh tim PT Eastspring Investments Indonesia, investor mencermati reshuffle kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo dengan melantik 14 pejabat baru. Beberapa perubahan mencakup penunjukan Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo, yang ditunjuk sebagai Kepala Kantor Staf Presiden. Selain itu, Arrmanatha Nasir ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri menggantikan Sugiono, yang kini menjabat Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

|Baca juga: Eastspring Investments Indonesia: Kenaikan Yield Global dan Harga Minyak, Membayangi Pasar Finansial

Pemerintah juga membentuk posisi baru yaitu Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Energi yang dipimpin oleh Bahlil Lahadalia. Pembentukan Kementerian Koordinator Bidang Hilirisasi dan Energi juga menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi mempengaruhi implementasi program hilirisasi dan investasi sektor sumber daya alam ke depan.

Perubahan susunan kabinet ini mendorong pelaku pasar untuk bersikap lebih hati-hati sambil menilai implikasinya terhadap arah kebijakan pemerintah.

Dari faktor global, lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat Kembali membayangi sentimen pasar. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik menembus 5,3 persen, level tertinggi sejak 2002, mencerminkan ekspektasi suku bunga yang akan tetap tinggi lebih lama. Tekanan juga terlihat di pasar obligasi domestik. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik 1,2 bps (basis points) ke level 7,16 persen, sementara tenor 5 tahun naik 3,8 bps ke level 7,04 persen, mencerminkan penyesuaian terhadap kenaikan yield global serta meningkatnya premi risiko yang diminta investor.

|Baca juga: Eastspring Investments Indonesia: Pasar Kembali Berhati-hati di Tengah Tekanan Global

Di sisi lain, data ekonomi domestik masih menunjukkan ketahanan. Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada September sebesar US$3,55 miliar, di atas proyeksi konsensus sebesar US$ 700 juta. Surplus tersebut didorong oleh posisi impor yang tumbuh lebih rendah dari perkiraan. Pada bulan Agustus, impor tumbuh 19,09 persen secara tahunan, di bawah ekspektasi sebesar 29,80 persen. Sementara, ekspor naik sebesar 6,72 persen secara tahunan, melebihi ekspektasi sebesar 4,17 persen.

Dalam jangka pendek, arah pergerakan pasar akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan yield US Treasury, pergerakan nilai tukar rupiah, serta kejelasan arah kebijakan ekonomi pasca reshuffle kabinet. Di tengah volatilitas yang masih tinggi, investor dapat mempertimbangkan akumulasi secara bertahap pada aset dengan fundamental yang kuat. Investor disarankan untuk tetap berfokus pada tujuan investasi jangka panjang, mempertahankan diversifikasi portofolio, dan mempertimbangkan profil risiko dalam mengambil keputusan investasi.

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post IHSG Jebol ke Bawah Level Psikologis 6.000
Next Post Investment Link Bisa Jadi Pilihan untuk Memenuhi Kebutuhan Perlindungan dan Tujuan Keuangan

Member Login

or