1
1

The Fed Diprediksi Tak Buru-buru Pangkas Suku Bunga

Senior Portfolio Manager Equity MAMI  Samuel Kesuma. | Foto: Doc

Media Asuransi, Jakarta – PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengungkapkan data ekonomi AS yang lebih kuat dari ekspektasi di awal 2024, yakni data ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih kuat dari ekspektasi, memberikan validasi bagi pandangan The Fed untuk tidak terburu-buru memangkas suku bunga.

Senior Portfolio Manager Equity MAMI, Samuel Kesuma, mengatakan bahwa data ekonomi AS yang lebih kuat dari ekspektasi menyebabkan terjadinya perubahan ekspektasi di pasar. Ekspektasi pasar untuk pemangkasan Fed Funds Rate (FFR) di tahun 2024 telah berkurang, dari 150 basis points (bps) di awal tahun menjadi 85 bps, sehingga akan lebih selaras dengan proyeksi dot plot The Fed.

Namun perubahan ekspektasi ini juga menyebabkan volatilitas di pasar global, karena imbal hasil US Treasury cenderung meningkat dan nilai tukar USD kembali menguat. “Walau demikian, kondisi ini tidak merubah pandangan The Fed, karena Ketua The Fed, Jerome Powell, dalam testimoninya di Kongres AS masih optimistis bahwa suku bunga dapat diturunkan tahun ini,” kata Samuel dalam keterangan resmi yang dikutip Senin, 18 Maret 2024.

|Baca juga: Periode Penurunan Suku Bunga Jadi Kesempatan Investor Pemula untuk Berinvestasi

Dia tambahkan, selama tiga siklus penurunan suku bunga The Fed sebelumnya, indikator makro dan pasar finansial Indonesia menunjukkan hasil yang positif. Siklus pemangkasan The Fed pada tahun ini diharapkan dapat memberikan hasil serupa bagi Indonesia.

Jika dilihat, kondisi inflasi domestik yang terjaga membuka ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk memangkas suku bunga. Memang dalam jangka pendek, BI diperkirakan masih akan mempertahankan postur pro-stabilitas, menahan suku acuan di enam persen, untuk menjaga selisih suku bunga agar tetap menarik, sebagai dampak dari nilai tukar rupiah yang masih relatif rentan terhadap sentimen global.

“Peluang untuk mengalihkan kebijakan moneter ke arah pro pertumbuhan lebih terbuka ketika terdapat indikasi yang lebih jelas terkait potensi pemangkasan suku bunga The Fed dan fluktuasi nilai tukar mereda,” tuturnya.

Pelonggaran moneter akan mendorong normalisasi likuiditas domestik, karena sebelumnya demi menjaga stabilitas eksternal, BI melakukan pengetatan likuiditas. Peluang pergeseran ini diperkirakan akan terjadi bersamaan dengan pelonggaran suku bunga The Fed.

|Baca juga: Persiapkan Dana Pensiun, Manajer Investasi Kini Bisa Bentuk DPLK Sendiri

Likuiditas yang membaik dapat memberikan dukungan yang lebih baik terhadap aktivitas perekonomian dan sentimen di pasar finansial. Selain kebijakan suku bunga, diperkirakan BI dapat melonggarkan kebijakan moneternya dengan menggunakan alat kebijakan non-suku bunga, seperti menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) sebelum mulai menurunkan suku bunga BI. Secara historis penurunan GWM terjadi sebelum siklus penurunan suku bunga BI seperti pada tahun 2015 dan 2019.

Menurut Samuel, kondisi likuiditas yang diharapkan lebih baik dan pemilu yang berjalan aman diharapkan dapat mendukung penguatan pasar saham Indonesia secara lebih berkelanjutan. “Optimisme terhadap peningkatan aktivitas perekonomian dan kondisi moneter yang lebih akomodatif diharapkan dapat meningkatkan minat investasi investor domestik dan aliran likuiditas ke pasar saham Indonesia,” terangnya.

Di tengah kondisi global yang dinamis, investor disarankan mengambil posisi yang berimbang pada konstruksi portofolio, mengombinasikan elemen potensi katalis jangka pendek, defensif, dan potensi struktural jangka panjang. Untuk jangka pendek, sektor-sektor yang diuntungkan dari pemangkasan suku bunga (interest rate sensitive) seperti di perbankan, properti, tower telekomunikasi, dan konsumer non-primer.

Untuk strategi defensif, sektor telekomunikasi menjadi pilihan karena karakteristik industri cenderung resilien mengingat data merupakan kebutuhan pokok dan potensi kinerja emiten yang baik. Adapun untuk potensi pertumbuhan struktural, sektor yang berhubungan dengan bahan baku untuk industri energi baru terbarukan. Transisi menuju era dekarbonisasi menguntungkan bagi Indonesia yang kaya akan komoditas yang digunakan dalam teknologi energi baru terbarukan.

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post RUPST OCBC (NISP) Setujui Perubahan Susunan Pengurus dan Buyback Saham
Next Post 4 Rekomendasi Saham saat IHSG Terus Terkoreksi

Member Login

or