Media Asuransi, JAKARTA – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia, yang mewakili lebih dari 97 persen tenaga kerja dan hampir 62 persen PDB, menghadapi ancaman serangan siber yang semakin canggih. Serangan phishing berbasis AI dan serangan Business Email Compromise (BEC) mengancam keberadaan bisnis-bisnis kecil ini serta peran krusial mereka dalam ekonomi digital regional. Data juga menunjukkan hanya 18 persen UMKM di Indonesia yang berinvestasi dalam keamanan siber, yang menyoroti kurangnya komitmen terhadap pencegahan dan perlindungan.
Menurut Badan Siber dan Sandi Negara, ancaman ini, termasuk malware, phishing, dan deepfake, menargetkan bisnis dari berbagai ukuran. UMKM yang sering beroperasi dengan sumber daya terbatas dan sistem keamanan yang usang, sangat rentan, karena satu kali pelanggaran dapat menyebabkan kerugian finansial dan reputasi yang besar.
|Baca juga: Kesiapan Digital Indonesia Masih Dihadapkan pada Tantangan IT dan Keamanan Siber
Chief Revenue Officer Zimbra, Anthony Chadd, mengatakan, UMKM merupakan tulang punggung ekonomi digital Indonesia. Mengadopsi langkah-langkah keamanan proaktif dan berlapis sangat penting bagi kelangsungan hidup mereka dan pertumbuhan ekonomi negara yang berkelanjutan.
‘’Ini tentang melindungi kepercayaan dan ketahanan yang mendorong kemajuan ekonomi. Sayangnya, banyak UMKM masih mengandalkan filter email yang tidak memadai dan tidak memiliki infrastruktur keamanan siber yang dapat diakses oleh perusahaan besar,” kata dalam keterangannya, Selasa, 12 Mei 2026.
Untuk melindungi diri sendiri dan menjaga keamanan ekonomi digital di wilayah ini, UMKM didorong untuk mengambil langkah-langkah proaktif guna meningkatkan keamanan email mereka. Zimbra menguraikan empat strategi kunci bagi UMKM di Indonesia untuk melindungi diri dari ancaman kejahatan siber yang semakin meningkat:
1. Sederhanakan Pengelolaan Keamanan, Anggap Email sebagai Infrastruktur Utama
Email merupakan tulang punggung setiap sistem bisnis, dan bagi UMKM, sangat penting untuk menganggapnya sebagai elemen inti dari infrastruktur digital mereka. Memilih platform kolaborasi dengan antarmuka yang mudah digunakan memungkinkan bisnis mengintegrasikan keamanan tanpa perlu tenaga ahli khusus, sehingga mengurangi beban pada sumber daya yang terbatas.
|Baca juga: Kesenjangan Perlindungan Siber di Kawasan Asia-Pasifik (APAC) Semakin Melebar
2. Prioritaskan Pertahanan Otomatis Berdampak Tinggi
Filter email tradisional tidak lagi cukup untuk melindungi dari ancaman tingkat tinggi seperti BEC. UMKM harus berinvestasi dalam langkah-langkah keamanan otomatis yang mudah diimplementasikan dan dikelola, seperti autentikasi dua faktor (2FA), enkripsi, dan protokol anti-phishing, untuk memberikan perlindungan tingkat perusahaan tanpa memerlukan staf IT khusus.
3. Membangun Kepercayaan Melalui Pengendalian Data Lokal dan Kepatuhan
Untuk memastikan kepercayaan pelanggan, UMKM sebaiknya memilih platform yang menyimpan data secara lokal, memastikan kepatuhan terhadap peraturan perlindungan data nasional.
4. Bangun ‘Human FireWall’, atau Tembok Pertahanan Manusia Melalui Pendidikan Talenta secara Terarah
Meskipun teknologi sangat penting, karyawan tetap menjadi garis pertahanan pertama melawan serangan siber. UMKM harus berinvestasi dalam pelatihan keamanan siber secara rutin untuk membantu karyawan mengenali dan merespons taktik rekayasa sosial canggih seperti penyamaran dan phishing, sehingga membentuk ‘human firewall’ yang tangguh.
Editor : Wahyu Widiastuti
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

