Media Asuransi, GLOBAL – Investor teknologi asuransi (insurtech) di kawasan Asia-Pasifik (APAC) semakin mengarahkan modal ke perusahaan embedded insurance dan infrastruktur asuransi, seiring pendanaan di sektor ini yang semakin sulit didapat.
“Investor semakin banyak mendukung perusahaan yang menopang ekosistem asuransi yang lebih luas, termasuk platform disribusi, pemain akses kesehatan, infrastruktur data dan jalur embedded insurance,” kata Paul Sommerin selaku Managing Director di NTT DATA Group Corporation, dikutip dari Insurance Asia, Senin, 5 Oktober 2026.
|Baca juga: Nasabah Kaya Kini Mulai Fokus Lindungi Kekayaan dengan Asuransi
Menurut laporan NTT DATA yang terbit Juni lalu, pendanaan insurtech di kawasan APAC turun jadi sekitar US$4,1 miliar pada periode 2022-2025, dari sebelumnya US$9,1 miliar pada 2018-2021, sementara jumlah transaksi turun dari 383 menjadi 202.
Pergeseran ini mencerminkan perpindahan fokus dari bisnis yang mengejar pertumbuhan pelanggan secara cepat, ke perusahaan dengan jalur yang lebih jelas menuju profit.
“Seperti disebutkan dalam Insurtech Global Outlook 2026 kami, pasar sedang bergeser dari challenger insurer menjadi ecosystem orchestrator, dan pola pendanaan di kawasan Asia Pasifik mencerminkan pergeseran itu,” ujar Sommerin.
Laporan tersebut juga mencatat, porsi pendanaan China di kawasan ini menurun, sementara Singapura, Indonesia, dan India justru menarik porsi investasi yang lebih besar.
Sommerin menyebut Singapura diuntungkan oleh kepastian regulasi serta posisinya sebagai hub distribusi asuransi lintas negara dan bisnis embedded-insurance.
Pertumbuhan India didukung oleh infrastruktur digital seperti Aadhaar, Unified Payments Interface, dan Open Network for Digital Commerce, yang menekan biaya onboarding pelanggan dan distribusi.
Ia menambahkan, Indonesia menarik minat investor lewat populasinya yang besar dan masih underinsured, serta kemitraan yang terus berkembang antara perusahaan asuransi, platform e-commerce, dan penyedia pembayaran.
Ross Sinclair sebagai CEO di EIP Ltd., menyebut investor menjadi lebih selektif seiring sektor ini yang makin matang.
“Investor ingin melihat jalur yang kredibel menuju profitabilitas, dan bukti bahwa teknologinya benar-benar menyelesaikan masalah nyata pelanggan,” ujarnya.
Sinclair juga mengatakan, “Industri ini sedang matang, jadi wajar kalau bisnis yang paling sukses nantinya adalah yang bisa mengubah janji-janji di pitch deck jadi kinerja finansial yang nyata, sekaligus membuktikan teknologinya benar-benar bekerja andal di dunia nyata.”
Kedua analis sepakat, investor kini lebih menekankan pada ekonomi bisnis, ketimbang soal apakah perusahaan menjual langsung ke konsumen atau ke perusahaan asuransi.
“Garis pembedanya sebenarnya bukan business-to-consumer versus business-to-business, melainkan ekonomi yang berkelanjutan versus perusahaan yang mengejar pertumbuhan dengan biaya berapa pun,” kata Sinclair.
Editor: Irdiya Setiawan
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
