Media Asuransi, JAKARTA – Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI), Yulius Bhayangkara, mengharapkan melalui ajang Top Digital Financial Award 2026 yang diadakan Media Asuransi, para pelaku industri asuransi semakin terdorong untuk terus berinovasi, memperkuat daya saing digital, serta menjaga keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.
|Baca juga: Ketum DAI: Industri Asuransi Harus Siap Beradaptasi dengan Transformasi Digital
“Jadi menurut saya, Top Digital Financial Award bukan cuman bicara soal digitalisasi, otomatisasi, tetapi ini adalah dukungan dari industri. Karena Media Asuransi punya industri dan penghargaan ini untuk mendorong kita semua mempersiapkan diri masuk ke era yang lebih baru,”paparnya saat memberi kata sambutan Top Digital Financial Award 2026 dan CFO Award 2026 Media Asuransi di Ballroom Hotel Arya Duta, Selasa, 6 Oktober 2026.
Yulius menegaskan bahwa perubahan teknologi merupakan hal yang tak terelakkan. Oleh karena itu, industri asuransi dituntut untuk adaptif dan memastikan setiap langkah evaluasi maupun riset terus diselaraskan dengan perkembangan zaman.
|Baca juga: PT Fullerton Health Indonesia Peringkat Ketiga TPA
Dari semua perubahan zaman dan teknologi, Yulius melihat perbedaan ada pada human-centric-nya. Ia mencontohkan pelayanan ke nasabah yang ada di New York, ada di London, maupun di Indonesia seharusnya sama. Namun bisa menjadi berbeda karena ada keterlibatan manusia.
Perubahan teknologi menurutnya juga mengubah interaksi dan juga risiko. Ia mencontohkan penggunaan mobil berbahan bakar bensin dan mobil listrik. Dengan infrastruktur yang ada dan sudah mapan, jika menggunakan mobil berbahan bakar bensin, orang merasa aman. Hal ini berbeda dengan mobil listrik yang masih minim jumlah SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum).
“Kalau kita ke luar kota dengan mobil bensin, masih mendingan, benar ya? Kalau sekarang kita punya mobil listrik, kita mau ke Semarang gitu, kita harus perhitungkan dan tahu lokasi ngecas dimana dan berapa lama. Sama-sama kebutuhannya memindahkan orang dari Jakarta ke Semarang, tetapi karena teknologinya berubah, risikonya berubah. Benar ya Bapak, Ibu, ya?” pungkasnya.
Editor: Irdiya Setiawan
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
