Pefindo Pertahankan Outlook Negatif untuk Mandala Finance

Media Asuransi – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menegaskan peringkat kredit korporasi PT Mandala Multifinance Tbk (Mandala Finance) serta Obligasi Berkelanjutan III/2018 dan Obligasi Berkelanjutan IV/2020 yang masih beredar di “idA”. 

Prospek peringkat dipertahankan pada “negatif”, karena Pefindo mencermati bahwa pandemi Covid-19 masih membayangi pertumbuhan bisnis Mandala Finance, yang pada gilirannya, dapat mempengaruhi performa kualitas asetnya. 

Berdasarkan keterangan resmi yang dikutip Media Asuransi, Rabu, 7 April 2021, Pefindo menerangkan pertumbuhan pembiayaan baru perusahaan terkontraksi sebesar 41,3 persen ke Rp2,9 triliun pada 31 Desember 2020 dari Rp4,9 triliun pada 31 Desember 2019. 

Baca juga: Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo, Pefindo Tegaskan Peringkat Panin Bank idAA

“Tanpa adanya hubungan afiliasi yang kuat dengan sumber pendanaan yang berkelanjutan ataupun pasar captive yang signifikan, Mandala Finance akan menghadapi tantangan dalam memulihkan nilai pembiayaan barunya seperti sebelum pandemi. Tanpa pembiayaan baru yang signifikan, sumber arus kas masuk sebagian besar akan berasal dari angsuran piutang pembiayaan yang juga rentan terhadap penurunan kualitas aset dalam kondisi ekonomi yang lemah.” 

Sebagaimana terdampak oleh Covid-19, Perusahaan mencatat rasio pembiayaan bermasalah (non-performing receivables, di atas 30 hari) yang lebih tinggi yaitu sebesar 7,7 persen pada 31 Desember 2020 dari 3,2 persen  pada 31 Desember 2019. 

Meskipun dengan implementasi program restrukturisasi pembiayaan seperti yang ditetapkan POJK 58/POJK.05/2020, Pefindo memiliki ekspektasi bahwa risiko gagal bayar debitur akan tetap ada pada akhir periode restrukturisasi karena debitur masih menghadapi kondisi ekonomi yang menurun. Namun, sebagian dari risiko tersebut dimitigasi oleh kebijakan pembiayaan dan pengendalian pembayaran angsuran Mandala Finance yang ketat. 

Baca juga: Pefindo Naikkan Outlook PPA Jadi Positif

Bisnis pPerusahaan yang menghasilkan marjin tinggi serta leverage yang konservatif juga akan memberikan dukungan tambahan bagi Mandala Finance dalam memenuhi kewajiban keuangannya. Pefindo akan terus memantau secara ketat perkembangan dari dampak Covid-19 terhadap kinerja bisnis dan keuangan perusahaan. 

Pefindo menilai penyebaran Covid-19 telah berdampak signifikan terhadap industri pembiayaan dalam hal pertumbuhan, kualitas aset, dan profitabilitas, terutama terkait pembiayaan pada sektor-sektor ekonomi yang terkena dampak langsung seperti perhotelan, pariwisata, restoran, serta transportasi. Sektor manufaktur dan perdagangan berbasis komoditas juga terpengaruh pada tingkat yang lebih rendah, karena terbatasnya akses ke tempat kerja. Kemampuan debitur dari sektor-sektor ekonomi tersebut terpengaruh secara signifikan, sehingga kemampuan pembayaran kembali kewajiban finansial mereka mengalami penurunan, serta mempengaruhi profil keuangan perusahaan-perusahaan pembiayaan. 

Meskipun POJK 58/POJK.05/2020 memungkinkan perusahaan pembiayaan untuk merestruktur akun-akun yang terdampak Covid-19 untuk dapat mempertahankan rasio kualitas aset mereka, implementasinya juga memungkinkan terjadinya risiko moral hazard, karena debitur-debitur yang sebenarnya tidak terlalu terpengaruh juga akan tidak melakukan pembayaran angsuran. 

“Peringkat dapat diturunkan jika pembiayaan baru perusahaan menurun signifikan karena dampak dari penyebaran Covid-19, karena hal ini dapat menurunkan keberadaan di pasar dan mengarah pada penilaian profil risiko bisnis yang lebih lemah. Penurunan material pada performa kualitas aset dan profitabilitas juga dapat mendorong peringkat untuk turun,” tegas Pefindo. 

Baca juga: Pefindo Tegaskan Peringkat Pegadaian idAAA

Pefindo dapat merevisi prospek kembali ke “stabil” jika perusahaan mampu meningkatkan pertumbuhan pembiayaan baru dan mempertahankan performa keuangannya. Obligor dengan peringkat idA memiliki kemampuan yang kuat dibandingkan obligor Indonesia lainnya untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya. Walaupun demikian, kemampuan obligor mungkin akan mudah terpengaruh oleh perubahan buruk keadaan dan kondisi ekonomi dibandingkan obligor dengan peringkat lebih tinggi. Akhiran (sy) berarti peringkat mengindikasikan pemenuhan prinsip Syariah.

Peringkat tersebut mencerminkan permodalan perusahaan yang sangat kuat, kinerja profitabilitas yang kuat, dan posisi perusahaan yang baik di bisnis motor di luar Jawa. Namun, peringkat ini dibatasi oleh tantangan dalam pertumbuhan pembiayaan baru dan kompetisi yang ketat di industri. 

Mandala Finance adalah perusahaan pembiayaan yang memberikan pembiayaan untuk motor baru dan bekas. Pemegang saham mayoritas Mandala Finance, PT Jayamandiri Gemasejati, dan perusahaan afiliasinya, PT Lautan Teduh Interniaga, merupakan agen penjual Yamaha di Jawa Barat dan Lampung. Mandala Finance tidak hanya membiayai motor Yamaha saja, namun Perusahaan juga membiayai merek-merek lain seperti Honda dan Suzuki. Per 31 Desember 2020, Mandala Finance dimiliki oleh PT Jayamandiri Gemasejati (70,42 persen), Alex Hendrawan (5,06 persen), dan publik (24,52 persen). Aca

Leave a Reply