Media Asuransi, JAKARTA – Rupiah, mata uang kebanggan Republik Indonesia, nilainya makin melemah sejak awal tahun 2026 hingga awal Mei ini. Kini mata uang dolar dihargai Rp17.300, melemah 3,4 persen sejak awal tahun.
Rupiah hanya lebih baik dari mata uang Laos, kip yang melemah paling parah di antara mata uang negara ASEAN. Sementara ringgit Malaysia per 1 Mei malah menunjukkan kinerja yang impresif dengan mencatat apresiasi sekitar 2,27 persen – 2,36 persen secara year to date (YTD) terhadap dolar AS (USD) demikian pula dolar Singapura menguat 1,03 persen dan baht Thailand melemah 3,01 persen.
|Baca juga: Eastspring Investments Indonesia: Tekanan Global dan Pelemahan Rupiah, Membebani Pasar Finansial Domestik
Rupiah tertekan sentimen geopolitik situasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang menyebabkan harga minyak dunia meroket ke kisaran US$100 per barel, dari awalnya di bawah US$70 per barel.
Melambungnya harga minyak yang dibanderol mata uang dolar, otomatis membuat pengeluaran pemerintah dalam subsidi minyak dalam rupiah meningkat tajam. Pasalnya, Indonesia mengimpor minyak sekitar 1 juta barel per hari (bph) untuk memenuhi kebutuhan BBM nasional, dengan total nilai impor minyak dan LPG mencapai sekitar Rp500 triliun per tahun.
Sebenarnya, rupiah telah melemah sejak tahun lalu, dimana pada 28 Februari 2025 telah bergerak dalam rentang 16.550-16.590. Posisi ini merupakan yang terparah sejak 23 Maret 2020 atau sekitar lima tahun terakhir.
Kesuksesan Habibie
Jika melihat nilai rupiah, angka ini telah melewati kurs terlemah era Presiden Baharudin Jusuf
Habibie. Dua dekade silam, tepatnya pada 1998, posisi dolar AS pernah berada di level serupa, tepatnya Rp16.800. Malah kondisinya lebih parah sebab kenaikan dolar terjadi dalam waktu relatif singkat dan cepat. Plus, merembet juga ke krisis politik.
|Baca juga: Bos BI: Kebijakan Moneter Terus Diperkuat untuk Jaga Stabilitas Rupiah
Dolar sebelum Suharto tumbang masih berada di level 2.000 an per dolar namun karena adanya krisis moneter yang menyebabkan penarikan uang besar-besaran dari bank membuat dana asing keluar dari Indonesia.
Namun Habibie bisa beritndak taktis dan tangkas untuk menguatkan rupiah, Habibie mampu meyakinkan pasar global dan menjinakkan tekanan atas rupiah meski tanpa dukungan intervensi Bank Indonesia-yang kala itu belum memiliki kewenangan stabilisasi rupiah.
Berikut langkah cerdas Habibie dalam memperkuat rupiah:
- Restrukturisasi Perbankan
Pada masa Orde Baru, pendirian bank dipermudah oleh pemerintah berkat kebijakan Paket Oktober 1988. Namun, kepercayaan pemerintah tidak dibarengi sikap amanah pemilik bank yang secara ngawur mengucurkan dana masyarakat itu ke perusahaan-perusahaan terafiliasi dengan pemilik bank. Saat perusahaan itu tidak mampu mengembalikan utang, terjadilah kredit macet yang menyebabkan banyak bank-bank bertumbangan. Nasabah lantas melakukan penarikan dana besar-besaran.Permasalahan ini jadi fokus utama. Habibie mencabut aturan tersebut dan menggabungkan empat bank milik pemerintah digabung menjadi satu bank bernama Bank Mandiri.Selain itu, dia juga memisahkan BI dari pemerintah lewat UU No.23 tahun 1999 agar independen, objektif, dan bebas dari intervensi politik.
2. Kebijakan Moneter Ketat
Pada era Habibie, diterbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan bunga tinggi dengan tujuan agar masyarakat kembali menabung, sehingga menurunkan peredaran uang di masyarakat. Berkat SBI, suku bunga dari 60 persen turun menjadi belasan persen. Kepercayaan terhadap bank pun kembali meningkat.
3. Pengendalian Harga Bahan Pokok
Habibie menganggap kebutuhan bahan pokok jadi hal vital. Alhasil, dia mempertahankan harga listrik dan BBM subsidi agar tidak naik, sehingga harga bahan pokok tetap terjangkau di tengah krisis.
Editor: Irdiya Setiawan
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
