Oleh: Cipto Hartono
Perubahan iklim membuat risiko di sektor pertanian semakin sulit diprediksi. Pergeseran musim, kekeringan, curah hujan berlebihan, banjir, serta hama dan penyakit dapat mengganggu produksi dan pendapatan petani. Bagi petani kecil, satu musim yang buruk bahkan dapat berdampak panjang karena mengurangi modal untuk kembali berproduksi.
Dalam kondisi tersebut, asuransi pertanian semakin relevan. Fungsinya bukan sekadar memberikan ganti rugi setelah terjadi kerugian, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan usaha petani, memperkuat akses pembiayaan, dan membantu sektor pertanian beradaptasi terhadap perubahan iklim.
Salah satu komoditas yang menarik untuk dikembangkan adalah kakao. Pada 2025, Indonesia memiliki sekitar 1,36 juta hektare areal kakao dengan produksi sekitar 616 ribu ton. Sekitar 292 ribu hektare di antaranya memerlukan rehabilitasi dan peremajaan untuk mendukung produktivitas yang lebih optimal. Besarnya skala perkebunan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas perlu berjalan beriringan dengan pengelolaan risiko.
Risiko yang dihadapi petani kakao cukup beragam, mulai dari kekeringan, curah hujan berlebihan, perubahan suhu, hama dan penyakit hingga penurunan produktivitas. Karena kakao merupakan tanaman tahunan, dampak suatu kejadian ekstrem juga dapat dirasakan lebih lama dibandingkan tanaman semusim.
Peluang Asuransi Berbasis Indeks dan Parametrik
Salah satu pendekatan yang semakin menarik untuk dikembangkan adalah asuransi berbasis indeks atau parametrik. Pembayaran manfaat dapat dikaitkan dengan parameter yang telah ditetapkan sebelumnya, misalnya jumlah hari tanpa hujan, curah hujan, temperatur, kelembapan tanah atau indeks vegetasi.
Pendekatan ini dapat menjadi alternatif bagi model konvensional yang membutuhkan survei kerugian satu per satu, terutama ketika petani tersebar di wilayah yang luas. Proses pembayaran berpotensi menjadi lebih sederhana dan cepat selama parameter dan sumber datanya dirancang dengan baik.
Teknologi semakin memperbesar peluang tersebut. Data satelit, remote sensing, Internet of Things (IoT), Automatic Weather Station (AWS), serta analitik data dapat membantu mengukur kondisi cuaca dan pertanian secara lebih granular. Kajian internasional pada 2025 yang menelaah 89 penelitian mengenai penggunaan data satelit dalam agricultural index insurance menunjukkan semakin besarnya pemanfaatan teknologi untuk membangun indeks risiko pertanian.
Meski demikian, teknologi bukan jawaban untuk semuanya. Salah satu tantangan utama asuransi parametrik adalah basis risk, yaitu ketika kerugian aktual yang dialami petani tidak sepenuhnya sesuai dengan indeks yang menjadi pemicu pembayaran. Karena itu, kualitas dan kontinuitas data, desain indeks, serta kalibrasi produk menjadi sangat penting.
Belajar dari Skala Global
Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa asuransi pertanian dapat berkembang apabila didukung oleh ekosistem yang kuat. India, misalnya, melalui program Pradhan Mantri Fasal Bima Yojana (PMFBY) melindungi sekitar 40 juta petani per tahun. Premi yang dibayar petani dibatasi relatif rendah, sementara sebagian besar dukungan premi diberikan pemerintah.
Pelajaran pentingnya bukan semata-mata soal subsidi. Skala sebesar itu menunjukkan bahwa asuransi pertanian membutuhkan kolaborasi antara petani, pemerintah, perusahaan asuransi, lembaga pembiayaan, penyedia data dan teknologi, serta kapasitas reasuransi.
Di Indonesia, arah pengembangan tersebut juga mulai dibangun. Salah satunya melalui Peta Jalan Pengembangan Asuransi Pertanian Indonesia 2025–2030 yang disusun AAUI bersama UNDP melalui Insurance & Risk Finance Facility. Roadmap ini menegaskan pentingnya pendekatan ekosistem, inovasi produk, penguatan data, serta perluasan akses pelindungan bagi petani.
Asuransi Tidak Bisa Berdiri Sendiri
Salah satu kunci pengembangan asuransi pertanian adalah tidak menjadikannya sebagai produk yang berdiri sendiri. Asuransi perlu semakin dekat dengan aktivitas ekonomi petani dan terhubung dengan rantai nilai pertanian.
Produk dapat diintegrasikan dengan pembiayaan, Kredit Usaha Rakyat (KUR), koperasi dan kelompok tani, pembelian benih atau input pertanian, offtaker, maupun rantai pasok perusahaan pengolahan. Dengan pendekatan seperti ini, asuransi menjadi bagian dari ekosistem usaha, bukan produk tambahan yang harus dicari dan dibeli secara terpisah oleh petani.
Tantangan keterjangkauan premi juga perlu dijawab dengan model pembiayaan yang lebih kreatif. Tidak seluruh premi harus selalu menjadi beban petani. Dukungan dapat melibatkan pemerintah, offtaker, lembaga keuangan atau pihak lain yang juga berkepentingan terhadap keberlangsungan produksi pertanian.
Dukungan reasuransi juga penting karena risiko pertanian cenderung berkorelasi. Satu kejadian kekeringan atau cuaca ekstrem dapat mengenai ribuan petani dalam waktu bersamaan. Tanpa mekanisme penyebaran risiko dan kapasitas reasuransi yang memadai, pengembangan produk dalam skala besar akan menjadi lebih sulit.
Pasar yang Perlu Dibangun Bersama
Kakao dapat menjadi salah satu titik masuk, tetapi peluang asuransi pertanian Indonesia tentu jauh lebih besar. Kopi, padi, jagung, hortikultura, komoditas perkebunan hingga peternakan memiliki karakter risiko dan kebutuhan perlindungan yang berbeda.
Karena itu, industri asuransi dan reasuransi perlu semakin aktif mengeksplorasi sektor pertanian. Tidak semua produk harus menggunakan pendekatan yang sama. Model indemnity-based, index insurance, maupun parametric insurance dapat dikembangkan secara berdampingan sesuai karakter masing-masing komoditas. Hal yang dibutuhkan adalah penguatan data, eksperimen produk, kolaborasi dengan pelaku pertanian dan teknologi, serta pengembangan model distribusi yang lebih efisien.
Dengan besarnya sektor pertanian Indonesia, asuransi pertanian bukan hanya menawarkan potensi pasar baru. Lebih jauh, industri asuransi dapat berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan, akses pembiayaan, adaptasi perubahan iklim serta mengurangi protection gap masyarakat pertanian.
Penulis adalah Penggiat Asuransi dan Manajemen Risiko
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
