Media Asuransi, JAKARTA – Pernahkah Anda berhadapan dengan rekan kerja yang selalu ingin dianggap paling unggul, membutuhkan pujian, atau gemar meremehkan orang lain? Kondisi tersebut dapat menjadi salah satu tanda adanya kecenderungan kepribadian narsistik atau Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Mengutip laman Rumah Sakit Pusat Pertamina, Minggu, 27 September 2026, NPD merupakan gangguan kepribadian yang ditandai oleh rasa diri yang berlebihan, kebutuhan kuat untuk mendapatkan kekaguman, serta rendahnya empati terhadap orang lain.
Di lingkungan profesional, perilaku narsistik tidak hanya berpotensi mengganggu hubungan antarpegawai. Jika dibiarkan, perilaku tersebut juga dapat memengaruhi produktivitas tim dan menciptakan tekanan psikologis bagi orang-orang di sekitarnya.
Karena itu, mengenali berbagai tanda yang perlu diwaspadai menjadi penting agar seseorang dapat menjaga batasan dan kesehatan dirinya di tempat kerja.
Mengapa NPD di tempat kerja perlu diwaspadai?
Perilaku narsistik di lingkungan kerja tidak sekadar membuat seseorang dianggap sulit diajak bekerja sama. Dalam kondisi tertentu, pola perilaku tersebut dapat berkembang menjadi hubungan kerja yang tidak sehat dan memengaruhi suasana dalam satu tim.
Dalam dunia kerja, orang dengan kecenderungan narsistik disebut memiliki tiga pola perilaku yang kerap dianalogikan sebagai “injak, sikut, dan jilat”. Perilaku “menginjak” biasanya diarahkan kepada bawahan.
Misalnya, dengan menghambat perkembangan anak buah, memberikan penilaian kerja yang rendah, hingga mengambil hasil pekerjaan bawahan dan mengakuinya sebagai pencapaian pribadi.
Pola tersebut berbeda dengan kepemimpinan yang sehat yang mengedepankan keterbukaan, inklusivitas, serta kemauan untuk memberikan ruang bagi anggota tim. Perilaku narsistik justru dapat berkaitan dengan berbagai tindakan kontraproduktif, seperti berbohong, menyebarkan rumor, melakukan sabotase, intimidasi, hingga tindakan agresif.
|Baca juga: Pemimpin dalam Islam Dituntut Adil dan Amanah, Ini Ancaman bagi Pemimpin yang Zalim
|Baca juga: 8 Kesalahan yang Membuat Pemimpin Tidak Efektif
Di sisi lain, kemampuan mempromosikan diri dan tingkat kepercayaan diri yang tinggi dapat membuat individu dengan kecenderungan narsistik terlihat menonjol dan memperoleh posisi dengan kewenangan lebih besar. Namun, posisi tersebut tidak selalu diikuti dengan kemampuan membangun kepemimpinan yang sehat.
Berikut adalah tujuh tanda utama yang perlu Anda waspadai dari atasan atau rekan kerja dengan gejala NPD:
1. Rasa penting diri yang berlebihan (Grandiositas)
Orang dengan NPD cenderung memiliki pandangan yang tidak realistis mengenai dirinya sendiri. Mereka dapat merasa lebih unggul, berbakat, atau memiliki kedudukan lebih penting dibandingkan dengan orang lain.
Di lingkungan kerja, perilaku ini dapat terlihat dari kebiasaan membicarakan pencapaian pribadi secara berlebihan, merasa hanya orang-orang tertentu yang pantas berada di level yang sama, serta mengecilkan kontribusi rekan kerja.
2. Haus akan pujian dan validasi
Kebutuhan terhadap pengakuan dan pujian menjadi salah satu pola yang menonjol. Mereka membutuhkan perhatian dari lingkungan sekitar untuk mempertahankan gambaran positif mengenai dirinya.
Bahkan pencapaian yang relatif kecil dapat dianggap harus mendapatkan apresiasi. Sebaliknya, kritik atau masukan berpotensi dianggap sebagai ancaman terhadap harga diri mereka. Ketika tidak memperoleh perhatian atau pengakuan sesuai harapan, respons yang diberikan dapat menjadi berlebihan.
3. Kurang empati
Rendahnya empati merupakan salah satu karakteristik yang sering dikaitkan dengan NPD. Mereka cenderung kesulitan memahami atau mempertimbangkan perasaan, kebutuhan, maupun kondisi orang lain.
Dalam hubungan kerja, misalnya, seorang atasan dengan perilaku seperti ini dapat mengabaikan beban kerja berlebihan yang diterima bawahannya karena lebih berfokus pada pencapaian target atau kepentingannya sendiri.
4. Merendahkan dan mengkritik tanpa konstruksi
Kritik yang diberikan tidak selalu bertujuan memperbaiki pekerjaan. Pada perilaku yang perlu diwaspadai, kritik justru digunakan untuk menemukan kelemahan orang lain dan merusak rasa percaya diri mereka.
|Baca juga: Dari Beban Kerja hingga Lingkungan, Ini Penyebab Karyawan Memilih Resign
|Baca juga: Kenali Toxic Leadership: Ciri, Dampak, dan Penyebab Bos yang Merusak Tim!
Hal-hal kecil dapat dipermasalahkan secara berulang tanpa disertai solusi yang jelas. Akibatnya, orang yang menjadi sasaran kritik dapat merasa tidak dihargai atau bahkan tidak memiliki kemampuan yang cukup.
5. Eksploitasi terhadap orang lain
Individu dengan kecenderungan narsistik dapat menggunakan orang lain untuk memenuhi kepentingan atau mencapai tujuan pribadi tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Di tempat kerja, bentuknya dapat berupa meminta bantuan secara berlebihan, mengambil alih pekerjaan atau proyek orang lain ketika hasilnya sudah terlihat, memanfaatkan hubungan atau koneksi untuk kepentingan pribadi, hingga melimpahkan beban pekerjaan kepada orang lain tanpa memperhatikan kondisinya.
6. Sulit menerima masukan dan kritik
Masukan yang seharusnya menjadi bagian dari proses evaluasi dapat dianggap sebagai serangan pribadi. Karena itu, kritik sekecil apa pun berpotensi mendapatkan respons defensif atau agresif.
Alih-alih menjadikan kritik sebagai bahan untuk memperbaiki diri, mereka dapat merespons dengan kemarahan, menyimpan rasa tidak suka dalam waktu lama, atau bahkan berusaha membalas orang yang memberikan kritik.
7. Manipulasi dan perilaku kontrol
Kebutuhan untuk mempertahankan kendali dapat terlihat melalui cara seseorang mengatur percakapan, situasi, maupun orang-orang di sekitarnya.
Komunikasi dengan individu seperti ini terkadang membuat lawan bicara merasa tidak didengar, tidak nyaman, atau justru direndahkan. Mereka juga dapat memutarbalikkan informasi dan fakta agar posisi mereka tetap terlihat benar atau lebih berkuasa dalam suatu situasi.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
