1
1

Mengenal Apa Itu Revenge Saving dan Manfaatnya

Ilustrasi. | Foto: Asia Insurance Review

Media Asuransi, JAKARTA – Apakah kamu pernah mendengar tren mengenai apa itu revenge saving? Sebenarnya, revenge saving adalah kebiasaan menabung secara agresif setelah mengalami periode boros, ketidakpastian finansial, atau merasa kurang siap menghadapi kondisi ekonomi.

Mengutip laman Allianz Indonesia, Minggu, 4 Oktober 2026, tujuannya biasanya untuk kembali merasa punya kendali atas keuangan dengan memangkas pengeluaran dan meningkatkan jumlah uang yang disimpan.

Istilah ini menjadi perhatian dengan sebelumnya muncul tren revenge spending, yaitu kebiasaan mengeluarkan uang lebih banyak untuk perjalanan, hiburan, dan mencari pengalaman baru setelah periode pembatasan akibat pandemi.

Jika revenge spending mendorong seseorang membelanjakan lebih banyak, revenge saving justru mendorong seseorang menahan pengeluaran dan memperbesar tabungan.

Meski dapat membantu memperkuat kondisi keuangan, namun kebiasaan menabung secara berlebihan juga perlu dihindari agar kebutuhan saat ini dan tujuan finansial lainnya tetap terpenuhi. Lantas apa itu revenge saving?

Revenge saving adalah pola menabung dengan intensitas tinggi, biasanya didorong oleh keinginan untuk memperbaiki kebiasaan finansial sebelumnya. Seseorang mungkin mulai mengurangi berbagai pengeluaran yang dianggap tidak penting dan mengalokasikan lebih banyak pendapatan ke tabungan.

Berbeda dari menabung secara rutin, revenge saving sering kali dipicu oleh emosi seperti rasa bersalah setelah terlalu banyak berbelanja atau kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi. Karena itu, keputusan finansial yang diambil tidak selalu berawal dari rencana keuangan jangka panjang.

|Baca juga: Pemimpin dalam Islam Dituntut Adil dan Amanah, Ini Ancaman bagi Pemimpin yang Zalim

|Baca juga: 8 Kesalahan yang Membuat Pemimpin Tidak Efektif

Contohnya, kamu yang sebelumnya sering berbelanja secara impulsif, mungkin tiba-tiba memangkas banyak pengeluaran dan mengalihkan uangnya ke tabungan. Meski begitu, financial planning tetap perlu seimbang dengan membagi pendapatan untuk kebutuhan saat ini, dana darurat, investasi, dan proteksi yang tepat.

Mengapa orang melakukan revenge saving? Ada beberapa alasan mengapa seseorang akan melakukan revenge saving. Berikut ini beberapa di antaranya:

Ingin memperbaiki kebiasaan finansial

Pengeluaran yang tidak terkendali dapat membuat seseorang merasa belum memiliki kendali atas kondisi keuangannya. Revenge saving kemudian menjadi cara untuk mengubah kebiasaan tersebut dengan meningkatkan disiplin dalam mengelola uang.

Khawatir terhadap ketidakpastian ekonomi

Inflasi, biaya hidup yang meningkat, kabar pemutusan hubungan kerja, atau ketidakpastian ekonomi dapat membuat seseorang lebih berhati-hati menggunakan uang. Menambah simpanan bisa memberikan rasa aman karena ada dana yang dapat digunakan ketika kondisi tidak berjalan sesuai rencana.

Memiliki tujuan keuangan tertentu

Revenge saving juga bisa muncul ketika seseorang ingin mengejar target finansial setelah merasa tertinggal. Misalnya, membangun dana darurat, menyiapkan uang muka rumah, melunasi utang, atau mengumpulkan dana untuk kebutuhan besar.

Kemudian pertanyaannya adalah apa manfaat revenge saving? Salah satu sisi positif revenge saving adalah membantu meningkatkan kesadaran terhadap pola pengeluaran. Ketika kamu mulai mengevaluasi kembali setiap transaksi, kamu dapat menemukan pengeluaran yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Kebiasaan ini juga dapat mempercepat pembentukan tabungan dan/atau dana darurat, terutama jika sebelumnya kamu belum memiliki dana yang cukup untuk menghadapi pengeluaran tidak terduga. Memiliki simpanan yang lebih kuat dapat memberikan ruang finansial ketika muncul kebutuhan di luar anggaran bulanan.

Selain itu, menetapkan target tabungan tertentu dapat membuat proses menabung terasa lebih terarah. NerdWallet juga menyarankan agar kebiasaan menabung agresif ini memiliki tujuan yang jelas, bukan hanya dilakukan karena rasa cemas terhadap kondisi keuangan.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Bitcoin Berpotensi Hadapi Oktober yang Volatile, Level US$87.000 Jadi Sorotan

Member Login

or