Media Asuransi, SEMARANG – Di tengah tingginya rasio klaim industri asuransi kredit, PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) tetap memfokuskan bisnis pada sektor penjaminan pembiayaan, terutama UMKM dan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Direktur Kepatuhan, SDM dan Manajemen Risiko Askrindo, R Mahelan Prabantarikso menyampaikan bahwa secara nasional portofolio bisnis perusahaan masih didominasi asuransi kredit sekitar 70 persen, disusul penjaminan 20 persen dan sisanya asuransi umum. Menurutnya, industri asuransi kredit memiliki peran strategis dalam menyerap risiko pembiayaan masyarakat dan pelaku usaha. Ketika risiko pembiayaan meningkat, asuransi hadir untuk menjaga stabilitas,” ujarnya dalam acara Media Gathering Askrindo di Semarang, 7 Mei 2026.
|Baca juga: Total Nilai Pertanggungan KUR Askrindo Capai Rp810,3 Triliun hingga Triwulan I 2026
Mahelan menjelaskan, Askrindo juga memperkuat mitigasi risiko melalui optimalisasi data dan teknologi dalam proses underwriting, penguatan kolaborasi dengan perbankan, hingga perbaikan sistem klaim dan recovery.
Jawa Tengah Pasar Potensial
Di tempat yang sama, Regional Office Head III Semarang, Henry Sabar menambahkan, keberadaan penjaminan kredit sangat penting bagi pelaku usaha kecil yang selama ini menghadapi keterbatasan akses permodalan.
Dijelaskan, UMKM memiliki potensi besar untuk tumbuh, namun mereka juga rentan terhadap berbagai risiko usaha. ‘’Di sinilah peran penjaminan menjadi penting agar pelaku usaha lebih percaya diri mengembangkan bisnisnya dan perbankan juga lebih nyaman dalam menyalurkan pembiayaan,” tegas Henry.
|Baca juga: Kinerja 2025 Menguat, Askrindo Siap Akselerasi Pertumbuhan Berkelanjutan
Menurut Henry, wilayah Jawa Tengah menjadi salah satu daerah dengan aktivitas UMKM yang cukup dinamis sehingga membutuhkan dukungan pembiayaan yang kuat dan berkelanjutan. ‘’Wilayah Jawa Tengah dan DIY masih menjadi salah satu pasar potensial pembiayaan dan penjaminan kredit,’’ paparnya.
Saat ini, lanjutnya, nilai pertanggungan kredit yang sudah di-cover Askrindo wilayah Jateng-DIY mencapai sekitar Rp3,9 triliun. ‘’Angka itu berasal dari total penyaluran kredit wilayah Jateng dan DIY Yogyakarta yang mencapai lebih dari Rp8 triliun,’’ jelas Henry.
Ia menyebut rasio klaim wilayah Jateng dan DIY masih tergolong sehat karena berada di bawah 50 persen. Kondisi tersebut dinilai lebih baik dibanding sejumlah daerah lain yang rasio klaimnya sudah melampaui 100 persen.
‘’Sedangkan, target bisnis tahun 2026 mencapai sekitar Rp512 miliar. Hingga bulan ini realisasi bisnis kredit sudah mencapai sekitar Rp177 miliar atau sekitar 35 persen dari target tahunan. Dari sisi klaim kredit, Askrindo wilayah Jateng & DIY mencatat pembayaran klaim sekitar Rp113 miliar.
|Baca juga: RUPS Tahunan PEI Angkat Direksi Baru dan Sahkan 5 Agenda
Henry optimistis prospek industri asuransi kredit pada 2026 masih positif seiring target pertumbuhan kredit perbankan nasional di kisaran 8 hingga 12 persen.
Sementara itu, Branch Manager Askrindo Semarang, Gami Aji Libraga menyampaikan pihaknya terus memperluas edukasi kepada pelaku UMKM mengenai pentingnya perlindungan risiko usaha.
“Banyak pelaku UMKM yang mulai sadar bahwa keberlanjutan usaha bukan hanya soal modal, tetapi juga perlindungan terhadap risiko. Kami terus memperkuat literasi agar pelaku usaha lebih siap menghadapi tantangan bisnis,” katanya.
Adapun kinerja Askrindo khusus kantor cabang Semarang per April 2026 (year to date), tercatat untuk penyaluran KUR mencapai Rp3,1 triliun dan pertanggungan KUR sebesar Rp1,3 triliun dengan debitur sebanyak Rp2 ribu orang. Adapun perolehan total premi (gabungan) tercatat Rp40,2 miliar, total klaim (gabungan) Rp10,7 miliar, dan total laba (gabungan) sebesar Rp22,2 miliar.
Editor : Wahyu Widiastuti
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

