1
1

Indonesia Re Gelar CEO Forum 2024: Digitalisasi Asuransi Adalah Keharusan

PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re menggelar CEO Forum 2024. | Foto: doc

Media Asuransi, JAKARTA – PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re menggelar CEO Forum 2024. Acara ini dihadiri oleh seluruh CEO perusahaan asuransi baik asuransi jiwa maupun asuransi umum, OJK, Kementerian BUMN, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu RI, dan Swiss Re.

Selaras dengan tujuan pemerintah dalam mengembangkan dan menguatkan sektor keuangan di Indonesia melalui penerbitan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan Peta Jalan (Roadmap) Pengembangan dan Penguatan Perasuransian Indonesia 2023-2027 sebagai perwujudan lembaga tersebut dalam mengembangkan industri jasa keuangan yang sehat, efisien, berintegrasi, serta memperkuat perlindungan konsumen dan masyarakat, dalam rangka pendalaman pasar, peningkatan inklusi, dan stabilitas sektor keuangan.

Peta jalan tersebut akan dicapai melalui empat pilar atau kerangka kerja, salah satunya yaitu akselerasi transformasi digital industri perasuransian. Hal ini menjadi dasar pelaksanaan CEO Forum 2024 oleh Indonesia Re dengan mengangkat tema ‘Akselerasi Transformasi Digital Bagi Industri Asuransi dan Reasuransi’ yang bertujuan untuk mempertajam pemahaman terhadap perkembangan teknologi informasi di industri perasuransian serta mendukung akselerasi transformasi digitalisasi untuk menciptakan pertumbuhan optimal sektor perasuransian nasional.

|Baca juga: Indonesia Re Kembali Gandeng KPK Sosialisasi LHKPN

Direktur Utama Indonesia Re, Benny Waworuntu, saat membuka CEO Forum 2024  mengatakan bahwa beberapa tahun terakhir industri asuransi menghadapi business disruption, yakni Covid-19 yang bermula dari krisis kesehatan berubah menjadi krisis keuangan. Hal itu mengubah semua sisi kehidupan, termasuk industri asuransi. “Covid 19 memaksa kita untuk berubah, termasuk bagaimana kita bisa mentransformasikan melalui proses otomasi secara digital,” ujar Benny dikutip dari keterangan resmi, 2 Maret 2024.

Dia menambahkan bahwa ada dua hal penting dalam melakukan tranformasi di industri asuransi, yaitu business model dan governance risk and compliance. Kedua hal tersebut berfungsi untuk memastikan bahwa bisnis berada di jalan yang benar dan industri ini bisa sustainable ke depannya.

Indonesia Re saat ini sudah bertransformasi secara digital dan terus melakukan perbaikan dan pengembangan dalam proses bisnisnya. Diantaranya adalah melalui produk unggulan e-Marest dan RIU Connect yang salah satu fiturnya adalah Host to Host yang kini sudah merangkul 10 perusahaan asuransi, khususnya asuransi umum.

Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK, Djonieri, juga menekankan digitalisasi dalam industri asuransi adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda lagi. “It is a must. Tidak bisa dihindari karena memang kita lihat value change di industri asuransi sudah digitalized semua,” ujar Djonieri.

|Baca juga: Lima Prioritas Transformasi Indonesia Re di 2024

Acara tersebut juga sebagai wadah diskusi yang komprehensif para pelaku di industri asuransi melalui diskusi panel mengenai perlindungan data personal, cyber security, serta pengelolaan dan pemanfaatan data industri perasuransian dengan mengundang beberapa pembicara antara lain Ketua Asosiasi Asuransi Umum (AAUI), Budi Herawan, Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa (AAJI), Budi Tampubolon, Wisnugroho Agung Wibowo dari Kantor Hukum WIN & Associate, dan Head of Cyber Asia Director Swiss Re, Giv Kahrom.

Pada kesempatan itu, juga dilakukan penandatanganan kerja sama (MoU) antara Indonesia Re dan IFG oleh Direktur Teknik Operasi Indonesia Re, Delil Khairat dan Direktur Teknik IFG, Rianto Ahmadi. Penandatanganan nota kerja sama ini sebagai langkah awal bagi kedua belah pihak untuk mengkaji dan melakukan persiapan Kerja Sama Taksonomi Data Asuransi dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Daftar Pemenang Unitlink Award 2024 Kelompok USD Konvensional di Fund Pendapatan Tetap USD
Warga antre membeli beras di pasar tradisional Kebayoran Lama beberapa waktu lalu. | Foto: Arief Wahyudi
Next Post Harga Beras Naik di 37 Provinsi

Member Login

or